Judul : Parenting di Negara Gagal
Penulis : Kalis Mardiasih
Tahun Terbit : 2026
Halaman : 108 halaman
Penerbit : Mojok
Sebuah pepatah lama mengatakan, it takes a village to raise a child. Bahwa dalam membesarkan seorang anak, dibutuhkan support system dari banyak orang, dari seluruh komunitas. Bukan hanya ayah dan ibu, tapi juga keluarga besar, kolektif masyarakat, dan negara. Masalahnya yang mana komunitas yang kita percaya? Tetangga di desa begitu bising dengan suara sound horeg–nya. Keluarga besar terlalu toxic sehingga sebisa mungkin kita cukup bertemu setahun sekali saja sambil menahan mangkel dengan pertanyaan-pertanyaan intimidatif mereka tiap lebaran. Dan negara, apa penyelenggaranya benar-benar sedang memikirkan nasib anak kita?
Banyak orang tua modern yang kemudian memilih hidup privat, memancang boundaries, menjauhkan anak-anak dari lingkungan yang bertabrakan dengan value-nya. Literasi keuangan bagi orang tua milenial hari ini adalah bagaimana bisa menabung dan berinvestasi untuk mengumpulkan uang pangkal SD agar bisa menyekolahkan anak di sekolah internasional mahal yang menjanjikan kurikulum, lingkungan, hingga masa depan yang baik. Yang mana tidak ada salahnya, tapi, bukankah itu artinya pilihan kita hari ini semakin terbatas? Mengapa SD terdekat tidak bisa menyediakan itu? Mengapa sangat bias kelas sehingga hanya orang kaya saja yang punya pillihan atas pendidikan berkualitas?
Baca juga : Stigma Parenting Ala Orang Tua dan Tawaran Al-Qur’an Terhadap Ilmu Parenting Masa Kini
Membaca buku Parenting di Negara Gagal tulisan Kalis Mardiasih, buat saya, adalah membaca keresahan atas ironi modernitas. Saat manusia yang (di)modern(kan) makin tercerabut dari masyarakatnya dan tidak merasa memiliki satu sama lain. Saat ambisi modernitas, yang begitu eksploitatif, tidak pernah menempatkan kebutuhan juga masa depan anak sebagai pertimbangan utama dalam setiap pengambilan kebijakan.
Anak-Anak di Tengah Kelindan Dunia Modern
Paradigma modern yang mendambakan kemajuan nyatanya menyisakan ketimpangan dalam banyak hal, baik infrastruktur, ekonomi, maupun sosial budaya. Pertumbuhan yang berpusat di perkotaan, menciptakan urbanisasi di mana para perantau tercerabut dari asalnya. Tidak meratanya fasilitas pendidikan melanggengkan gap pengetahuan yang menganga. Ditambah lagi, orientasi pada industri membuat kampung halaman tidak lagi menjadi tempat pulang. Wajar jika kemudian anak-anak yang lahir dari generasi ini semakin asing dengan masyarakatnya.
Baca juga : Menjadi Muslim yang Gembira dan Tak Mudah Curiga
Problem struktural tidak berhenti di situ. Progresivitas dalam kacamata modern selalu dimaknai dengan angka. Ada dua isu yang digarisbawahi di buku ini. Pertama, eksploitasi alam. Bumi dipandang sebagai sumber daya yang sebisa mungkin terkonversi menjadi pundi-pundi (bagi pemburu rente) alih-alih penopang kehidupan yang dipelihara keseimbangannya. Anak-anak tercerabut dari alam karena tak lagi memiliki ruang aman.
Kedua, program skala masif yang tidak berpihak pada anak. Program makan bergizi gratis tidak saja bermasalah pada dimensi gizi yang telah menimbulkan banyak korban, tetapi juga mengacaukan identitas anak. Di buku ini Kalis mengangkat kata kunci martabat, dignity, sebagai hal yang mestinya melekat dalam setiap diri anak, sebagaimana amanah HAM. Sementara itu, program makan siang yang menempatkan aktivitas makan sebagai penyeragaman bahkan paksaan, mencederai martabat anak-anak.
Baca juga : MBG dan Risiko Qahr Modern: Tafsir Sosial QS. al-Ḍuḥā: 9
Buku ini hadir untuk mengilustrasikan betapa kondisi hari ini sedang tidak baik-baik saja. Lalu, ketika politisi tidak menunjukkan keberpihakannya, dan orang tua makin babak belur, sejauh mana kita mampu bertahan seorang diri? Dalam masa-masa sulit yakinkah kita dapat bertahan tanpa modal sosial? Tepat di situlah, demi memperjuangkan masa depan anak yang ideal, buku ini berargumen bahwa langkah politis yang bisa kita ambil, para orang tua dan masyarakat, adalah dengan bergandeng tangan.
Pengasuhan yang Menapak Bumi
Modernisme membuat kita terlalu sibuk menjadi global citizen sehingga lupa pada akar. Anak-anak kita (saya) hari ini lebih fasih berbahasa Inggris dapripada mengenal kosakata bahasa daerahnya. Kita pun para orang tua lebih paham berbicara parenting bahagia ala Finlandia atau bringing up bebe ala Prancis tapi gelagapan mengasuh anak di tengah masyarakat sendiri.
Membaca buku ini saya merasakan Kalis sedang menyeret para orang tua milenial untuk duduk bersama dan mengingatkan kalau parenting kita tidak boleh tidak menginjak tanah air sendiri. Parenting anak Indonesia tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa ada masyarakat adat yang tergusur dari tanahnya, pedagang kecil yang pontang panting demi memenuhi kebutuhan dasar tiap hari, juga bahwa di satu sisi ada anak-anak artis yang tajir melintir, sementara di pihak lain ada anak-anak Sumatera yang sekolahnya terendam lumpur banjir.
Dari situ maka ada nilai-nilai kontekstual yang perlu ditanamkan pada anak-anak kita. Di buku ini Kalis merumuskan lima teori, atau yang disebutnya sila. Menurut saya, ide tentang parenting politik ini adalah gagasan yang cukup canggih untuk memberi novelty di antara buku-buku parenting psikologis atau pedagogik kebanyakan. Ketajaman perspektif itulah yang saya rasa selalu menjadi keunggulan tulisan-tulisan Kalis.
Saya membayangkan, di tangan akademisi, ide-ide dalam buku ini akan dibedah ke dalam kerangka-kerangka teoritis penuh sitasi dan dipublikasikan di jurnal internasional kwartil sekian untuk kembali disitasi. Tapi syukurlah Kalis adalah aktivis, di tangannya gagasan penting ini dikemas dalam buku ringkas saja yang juga dilengkapi dengan sejumlah petunjuk roleplay khas fasilitator workshop.
Namun, sebagai akademisi studi agama (ehem), kurang afdhol rasanya kalau saya tidak memberi sedikit catatan terkait bidang yang saya geluti. Di buku ini, isu keberagaman, meski itu bagian integral dari membangun solidaritas antarwarga, belum banyak dielaborasi. Salah satu pengalaman otentik menjadi WNI adalah bagaimana berbagai peristiwa politik telah menunjukkan identitas keagamaan digunakan untuk mempolarisasi kita, menimbulkan saling curiga antarwarga. Di era media sosial dan algoritma rekomendasi yang mempertebal kamar gema, saya kira parenting juga perlu membekali anak-anak untuk tidak terjebak dalam pengerasan identitas. Sebab yang demikian, hanya akan semakin menjauhkan kita dari hal yang lebih mendasar: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Baca juga : Merayakan Jilbab, Merayakan Keberagaman Muslimah

