Pendidikan memang tidak sepenuhnya tanggung jawab sekolah atau guru di sekolah. Pendidikan merupakan tugas kita, baik sebagai orangtua maupun masyarakat juga ikut dalam pembentukan karakter anak.
Tsaqafah.id Pendidikan karakter menjadi perbincangan hangat saat ini, mengingat banyak hal yang perlu diperbaiki terkait akhlak. Jika ingin menjadikan anak itu pintar dengan belajar tekun sesuai bidang keahliannya, maka anak akan pintar. Tetapi yang sulit yaitu mengajarkan akhlak karena butuh pembiasaan yang berulang-ulang.
Rasa kasih sayang dan perhatian sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan Islam seperti sikap jujur, tanggung jawab, rajin beribadah, taat kepada orangtua dan sifat terpuji lainnya sangat penting diajarkan sejak kecil. Namun, sayangnya pendidikan saat ini lebih mengedepankan teori-teori dari pada praktik, alhasil banyak siswa yang pintar tapi tidak tau tata karma. Menjadi pelajar yang cerdas dan bermoral adalah tujuan dari pendidikan.
Pendidikan memang tidak sepenuhnya tanggung jawab sekolah atau guru di sekolah. Pendidikan merupakan tugas kita, baik sebagai orangtua maupun masyarakat juga ikut dalam pembentukan karakter anak. Seorang mukmin yang memiliki ilmu dan mampu memanfaatkan ilmunya (kognitif) dalam kehidupan, sebagai amalnya (motoric/skill) adalah dengan akhlak mulia (nilai dan sikap/ attitude).
Baca juga Memekarkan Pendidikan Literasi Digital
Individu yang berkarakter sesuai dengan ajaran Islam adalah pribadi yang integral, yaitu integrasi antara iman, ilmu dan amal. Dengan demikian, peranan pendidikan Islam sangat penting dalam penanaman pendidikan karakter.
Dalam pendidikan Islam terdapat nilai-nilai Islami berupa sabar, syukur, ikhlas, rendah hati dan sifat terpuji lainnya yang kemudian menjadi bekal kehidupan bermasyarakat peserta didik. Pendidikan karakter merupakan usaha penanaman nilai-nilai soSial dalam diri siswa untuk kemudian dihayati dalam kehidupan mereka sehari-hari sehingga menjadi karakter dan identitas masing-masing.
Karakter itu terbentuk dari kebiasaan yang berulang-ulang, maka anak perlu pembiasaan yang baik sejak kecil agar terbiasa melakukan hal baik. Anak yang terbiasa berangkat sekolah tepat waktu maka akan disiplin waktu. Dalam kurikulum saat ini murid diajarkan teori mengenai bagusnya sifat sabar, ikhlas, tawakal, kerja keras, dan jujur akan tetapi hanya diujikan dalam teori pengetahuan saja tidak dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengembagan karakter anak memerlukan pembiasaan dan keteladanan. Anak harus dibiasakan untuk selalu berbuat baik dan malu melakukan kejahatan, curang, dan malas, serta berlaku jujur dan rajin. Perubahan sikap dan perilaku dari bertindak kurang baik menjadi lebih baik tidak terbentuk secara instan. Perubahan tersebut harus dilatih secara serius dan berkelanjutan agar mencapai tujuan yang diinginkan.
Pengembangan karakter harus dikaitkan dengan pengakuan akan kebesaran Allah. Membentuk watak dalam Islam disebut dengan pendidikan akhlak sehingga manusia wajib dibekali dengan nilai-nilai akhlak demi mempertinggi kualitas iman. Karena hakikatnya pendidikan menurut Islam adalah membentuk kepribadian agar menjadi manusia yang berakhlak mulia maka menjadi pendorong baginya untuk berbuat kebaikan dalam kehidupan dan menghalangi dirinya berbuat kemaksiatan.
Baca juga Al-Kindi : The First Moslem Philosopher
Dengan demikian kaitannya dengan penanaman pendidikan karakter dalam pendidikan agama tidaklah cukup dengan teori pengetahuan saja akan tetapi perlu pembiasaan, misalnya pembiasaan shalat berjamaah. Orangtua dan guru di sekolah tidak dapat mengawasi siswa seharian penuh. Oleh karena itu, untuk menjaga siswa supaya menjauhi perilaku buruk yaitu dengan cara mendekatkannya kepada Allah Swt dengan shalat.
Shalat merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan suatu tujuan yang pasti. Ia memiliki visi dan misi sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur‟an Q.S. Al Ankabut Ayat 45 yang artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadati badat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ada banyak hal yang kita dapat dari menjalankan shalat. Selain sebagai media penyembahan seorang hamba kepada Allah SWT, shalat juga merupakan bentuk olah raga yang sangat menyehatkan bagi yang melakukan.
Begitu besar manfaat dan keutamaan yang ada dalam shalat, namun kenyataan yang ada dalam masyarakat banyak sekali kita jumpai orang yang melakukan shalat namun masih melakukan perbutan yang tidak sesuai dengan koridor syariat Islam. Selama ini kita menjalankan shalat hanya bersifat rutinitas. Kita belum mampu mengambil hikmah dari shalat itu sendiri. Sebagai orang yang sudah shalat, terkadang masih terbesit dalam hati kita sifat dengki, sombong, hasut, dan lain sebagainya.
Baca juga Kisah Hidup Syaikh Mulla Romdlon Al-Buthi
Shalat menjadi sarana untuk membangun akhlak yang baik. Dimulai dari berwudhu, dalam berwudhu ketika membasuh anggota wudhu itu adalah tindakan lahiriyah dan ketika seseorang yang berilmu berwudhu dia yakin pada dirinya bahwa ketika berkumur-kumur dia tidak pernah menyakiti hati orang lain dan ketika membasuh tangan dia yakin tidak pernah mencuri atau mencelakaan orang lain, dengan begitu maka hati akan terdidik dengan sendirinya. Begitu juga dalam shalat. Shalat merupakan tiang agama, yang mana jika shalatnya baik maka baik pula amalan yang lainnya, shalat merupakan ibadah yang pertama kali dihisab.
Di dalam shalat terdapat makna yang sangat luar biasa dalam gerakan maupun bacaannya bagi orang orang yang benar-benar khusuk dalam menjalankan shalat. Ketika seseorang shalat dia yakin bahwa shalat di hadapan Allah Swt dengan kesadaran inilah yang menumbuhkan akhlak-akhlak yang terpuji. Ketika seseorang mengetahui arti bacaan dalam shalat sehingga mengerjakan shalat dengan khusu’ seperti dalam doa duduk diantara dua sujud “Robbighfirli, ya Allah ampunilah aku….” dan seterusnya. Maka hal ini yang dapat menumbuhkan akhlak-akhlak yang mulia karena tidak ada sombong pada diri karena sadar bahwa Allah ada di hadapannya.
Shalat senatiasa menjaga diri untuk terhindar dari perbuatan tercela seperti sombong, malas, kikir dan perbuatan lain yang merugikan diri sendiri atau orang lain. Shalat pada hakikatnya adalah dzikrullah (mengingat Allah).
Shalat merupakan sebuah pengabdian sebagai hamba yang senantiasa bersyukur. Oleh karena itu, jadikan shalat sebagai penolongmu yaitu dengan cara menghadirkan hati melakukan shalat sesuai dengan rukunnya serta memahami arti bacaan dalam shalat. Shalat merupakan sebab datangnya pertolongan Allah, menundukkan diri, pasrah kepada Allah, memohon bimbingan oleh Allah dengan begitu ketenangan, ketentraman hadir dalam hati. Semoga tulisan ini dapat menjadi renungan kita semua dengan senantiasa terus meningkatkan kualitas dalam shalat.

