Perempuan Dalam Balutan Negeri Padang Pasir

Mesir, sebuah negeri yang cukup makmur dan berada di bagian Afrika Timur Laut ini juga dijuluki sebagai ‘Ummu ad-Dunya’ , pusat pertama peradaban di dunia. Tentu saja dengan julukan yang disematkannya Mesir memiliki sejarah panjangnya sendiri dalam pergerakan kaum perempuan.

Tsaqafah.id Di bumi manapun, segala ulasan mengenai perempuan memang menjadi hal menarik untuk dikaji. Intrik sosial dan budaya, serta kisah-kisah dalam literatur yang telah banyak kita jumpai, tentu menjadi salah satu hal yang berkaitan erat dengan kaum perempuan. Saya teringat sebuah kutipan di dalam buku Erich Fromm yang berjudul “Seni Mencintai”, dalam bukunya Fromm mengatakan bahwa sosok perempuan atau ibu merupakan rumah tempat kehidupan baru seorang manusia berasal, ia direpresentasikan serupa alam, tanah, dan laut.

Namun dalam kenyataanya, tidak sedikit masyarakat luas yang belum memahami peran perempuan, serta belum sepenuhnya memperhitungkan keberadaannya dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Inilah yang menjadi perbincangan tiada akhir para aktivis perempuan yang bergerak di dalamnya. Menurut mereka perempuan belum sepenuhnya diberikan ruang dalam kehidupan dan kesempatan yang sama dengan laki-laki, seperti dalam dunia kerja misalnya. Cuti haid dan melahirkan belum bisa didapatkan oleh semua perempuan yang bekerja.

Baca juga; Menikmati Dunia Petualang dan Belajar Menjadi Perempuan Berdaya dari Film Enola Holmes

Mesir, sebuah negeri yang cukup makmur dan berada di bagian Afrika Timur Laut ini juga dijuluki sebagai ‘Ummu ad-Dunya’ atau pusat pertama peradaban di dunia. Tentu saja dengan julukan yang disematkannya Mesir memiliki sejarah panjangnya sendiri dalam pergerakan kaum perempuan. 

Di negara ini peran perempuan sangat bergantung pada siapa pemerintahan itu sedang dipegang. Pada era tertentu perempuan mampu menjadi setara kedudukanya dengan laki-laki, namun pada era yang lain, perempuan juga bisa berada dalam posisi kelas dua atau rendahan. 

Pada masa keemasan, yaitu di era Mesir Kuno, perempuan Mesir memiliki kesetaraan hak dengan kaum laki-laki di depan hukum, sosial. dan ekonomi. Bahkan perempuan disebut mampu secara pendidikan dan finansial. Tak sedikit pula yang memegang tampuk kepemimpinan dalam bangsa Mesir pada waktu itu. 

Nefertiti, Hatchepshut adalah beberapa contoh pemegang kekuasaan pada masa itu. Pada era selanjutnya kita mengenal nama Cleopatra terpampang dalam laga kekuasaan Mesir dan menjadi simbol keagungan bagi perempuan pada masanya. Namun setelah kekuasaan berganti. Aturan kembali berubah, dan perempuan mulai dibatasi ruang geraknya dalam publik. 

Kedudukan perempuan didepan hukum dan sosial tidak lagi diakui sama dengan laki-laki. Perempuan benar-benar dikurung dalam tembok rumah. Namun semua itu berakhir tatkala diperjuangkan melalui revolusi Mesir yang dikumandangkan pada 1952. Sejak saat itulah perempuan Mesir kembali mendapatkan angin segarnya. Segalanya menjadi normal kembali seperti pada masa peradaban terdahulu.

Perjalanan ini dapat kita lihat pada karya-karya sastrawan Mesir, sebut saja Bainal-Qashrain milik Najib Mahfuz, Malikatul-‘Inab  milik Najib Kailany, atau Mudzakiratut-Thabibah milik Nawal El Saadawi. Mereka membawa kisah dan gambaran negeri Mesir dalam pandanganya terhadap perempuan. Dari sini masyarakat mampu menerima peran keberadaan kaum perempuan untuk kembali dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. 

Baca juga; Menjadi Muslim yang Gembira dan Tak Mudah Curiga

Kini Pemerintah Mesir juga mulai mendukung kembali perjuangan perempuan untuk mendapat hak-haknya dengan adanya program-program yang membawa pada kesejahteraan perempuan.  Salah satunya yaitu dengan keberadaan Desa Samaha yang berada di dekat Kota Aswan. Di Desa Samaha ini, dimulai pada 1998 Pemerintah Mesir melalui Kementrian Agrikultur berfokus pada program pemberdayaan perempuan, dimana penduduk desa ini diantaranya adalah perempuan yang menjadi orangtua tunggal (single parent), juga perempuan yang bercerai dari suaminya.

Pemerintah memberikan fasilitas berupa rumah dan lahan pertanian untuk para perempuan di desa ini, dengan harapan mereka mampu hidup secara mandiri baik secara finansial, sosial, dan lainnya. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah tidak lepas tangan terhadap kaum perempuan di negara itu, terutama bagi mereka yang telah menghidupi diri mereka sendiri dan anak-anaknya karena telah ditinggal suaminya. 

Dengan berbagai bentuk ikhtiar lainnya kini Pemerintah Mesir juga tengah berfokus pada  peningkatan pemberdayaan perempuan sehingga perempuan tidak lagi selalu bergantung pada orang lain, dan dapat turut serta menjadi agen utama pembangunan negeri.   

Referensi

  1. SDM yang Terlupakan ( Dr.Betty Maulirosa Bustam, MA.)
  2. “Desa di Mesir Ini Hanya Ditinggali Wanita dan Terlarang bagi Pria – Kompas.com” https://amp.kompas.com/internasional/read/2018/01/30/18555971/desa-di-mesir-ini-hanya-ditinggali-wanita-dan-terlarang-bagi-pria
  3. Youtube 
Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Inilah Beberapa Indikator Kebahagiaan Pernikahan Menurut Quraish Shihab

Next Article

Mengapa Kita Bershalawat?

Related Posts