Tsaqafah.id – Sebagai seorang manusia, tentunya jati diri adalah hal yang paling dicari-cari. Siapakah aku? Kenapa aku hidup di dunia? Untuk apa aku hidup di dunia? adalah sederet pertanyaan yang bergelantungan dalam pikiran.
Untuk menjawab pertanyaan tentang jati diri tersebut perlu kiranya mengetahui apa itu jati diri. Menurut KBBI jati diri merupakan ciri-ciri, gambaran, atau keadaan khusus seseorang atau benda, bisa pula berarti identitas, inti, jiwa, semangat dan daya gerak dari dalam atau spiritualitas.
Berdasarkan pengertian ini, maka sejatinya jati diri sudah ada pada diri dan bukan untuk dicari. Namun sebagian orang masih belum bisa mengenali diri mereka sendiri. Banyak faktor yang menjadi penyebab seseorang tidak mengenal dirinya yang salah satunya adalah karena nafsu yang menguasai diri. Untuk itu, seseorang dianjurkan untuk berpuasa.
Puasa merupakan ajaran agama Islam yang juga menjadi salah satu pilar dalam rukun Islam. Secara sederhana puasa adalah menahan makan dan minum dari waktu yang ditentukan yakni waktu imsa’ sampai waktu Maghrib. Banyak hikmah yang terkandung di dalam puasa tidak hanya menahan makan dan minum tapi juga menjaga nafsu. Jebakan nafsu dapat membuat seseorang lupa akan siapa dirinya.
Baca juga
Nafsu sendiri sebagaimana yang kita ketahui ada 3, yaitu nafsu amarah, nafsu lawwamah dan nafsu Muthmainnah. Pertama, nafsu amarah adalah nafsu yang mendorong manusia untuk melakukan keburukan. Seperti iri, dengki, tamak, serakah dan seterusnya.
Kedua, nafsu lawwamah yaitu nafsu yang cenderung merusak dirinya sendiri. Sederhananya jiwanya terbelenggu seperti mental penyesalan, minder, kekecewaan dan seterusnya. Ketiga adalah nafsu Muthmainnah, yaitu nafsu yang diridhoi Allah. Nafsu ini telah menemukan kesadaran, keberadaan dan tujuan hidupnya.
Jika ditinjau dari segi hikmah tadi yang salah satunya adalah menjaga dari hawa nafsu, maka puasa akan membuat seseorang mengenal dirinya. Diri yang fana. Diri yang membutuhkan asupan makan dan minuman untuk bertahan menjalankan kehidupan dan beribadah kepada Allah SWT.
Adapun terkait nafsu, puasa dapat menahan seseorang untuk tidak melakukan nafsu-nafsu keburukan seperti nafsu amarah dan lawwamah. Sebab nafsu hadir kebanyakan berasal dari perut. Perut jika terisi terlalu kenyang akan mengakibatkan seseorang tidak dapat berpikir. Dari sini muncul pikiran-pikiran aneh. Tentunya untuk menanggulangi hal tersebut dibutuhkan fokus kepada nafsu muthmainnah yaitu kesadaran bahwa perut tidak bisa menampung segala macam makanan ataupun minuman yang ada. Perut hanya bisa menampung sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk angin.
Baca juga: Puasa Ramadhan Mengajarkan Arti Tolong Menolong terhadap Sesama
Mengenal diri sendiri memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Manusia gampang terombang-ambing oleh kehidupan dunia. Maka ada sebuah do’a dari HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Hakim berbunyi Ya muqallibal qulūb tsabbit qolbi ‘alā dīnik. Artinya wahai Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.
Hadits tersebut mengindikasikan bahwa hati manusia sangatlah mudah terombang-ambing dalam kehidupan dunia. Maka manusia membutuhkan agama. Seseorang jika tidak dikuatkan juga hatinya dalam beragama bisa juga terombang-ambing hidupnya. Maka salah satu upaya untuk meneguhkan hati adalah dengan mengikuti ajaran agama, dalam hal ini agama Islam dan puasa adalah salah satu yang diajarkan oleh Islam.
Ketika puasa sudah dilakukan dengan baik dan benar tentunya seseorang akan mulai mengenal dirinya sendiri. Contoh kecilnya kesadaran bahwa sebanyak apapun makanan ataupun minuman yang ada, perut tidak akan pernah kuat menampung itu semua dan pada akhirnya tidak termakan karena di perut sudah penuh.
Baca Juga
- Meraih Keberkahan Ramadhan dengan Tradisi Berbagi Takjil
- Tarak: Menjadikan Ramadhan yang Bukan Sekedar Puasa
Puasa adalah belajar memilah nafsu. Jika yang dipilih nafsu amarah atau lawwamah, maka puasanya kurang dapat makna, tapi jika nafsu yang dipilih nafsu muthmainnah, besar kemungkinannya puasanya lebih bermakna.
Seseorang yang menjalani hidupnya dengan penuh makna, maka hidupnya akan lebih terarah dan mulai mengenal Allah SWT. Dengan mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya seperti sebuah hadits berbunyi man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu yang artinya barangsiapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.
Dengan demikian, puasa tidak hanya terkait persoalan menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, puasa juga merupakan jalan menuju pengenalan jati diri seseorang. Dengan berpuasa, seseorang dapat mengelola nafsu yang dimiliki, yaitu memilah dengan baik nafsu dalam berpuasa. Dengan begitu ia akan mengenal dirinya. Jadi yang perlu dilakukan adalah fokus untuk melakukan yang terbaik untuk diri karena susah untuk mengenal diri sendiri.

