Ramadan dan Hidup yang Tiba-Tiba Berhenti di Depan Saya

Ramadan dan Hidup yang Tiba-Tiba Berhenti di Depan Saya

04 Maret 2026
35 dilihat
3 menits, 49 detik

Saya lahir dan tumbuh di dalam sistem. Sejak kecil, hidup saya tidak pernah benar-benar kosong. Selalu ada jadwal, selalu ada tuntutan, selalu ada orang atau lembaga yang menentukan apa yang harus dilakukan dan kapan melakukannya. RA, MI, lalu pesantren selama enam tahun. Bangun sebelum subuh, belajar, mengaji, makan, istirahat, tidur. Semua bergerak seperti mesin yang rapi. Tidak selalu tertulis, tapi menempel kuat, bahkan membentuk cara saya berpikir hari ini. Saya tidak pernah merasa itu sebagai pengekangan. Justru sebaliknya, di situlah rasa aman saya tumbuh. Hidup terasa masuk akal karena selalu ada rel. Selalu ada arah. Bahkan ketika lelah, saya tahu kelelahan itu ada tujuannya.

Keluar dari pesantren, saya kira hidup akan berubah drastis. Saya kira kebebasan berarti kekosongan. Ternyata tidak. Hidup hanya mengganti bentuk pengaturannya. Kuliah datang dengan silabus. Organisasi datang dengan target. Kerja datang dengan jam dan tanggung jawab. Volunteer dan kegiatan beasiswa menambah lapisan kesibukan. Hari-hari saya penuh. Kepala saya penuh. Tubuh saya sering capek, kadang nyaris kelelahan mental, tapi selalu ada satu hal yang membuat saya bertahan: saya tahu sedang menuju ke mana. Ramadan hadir di tengah semua itu sebagai bagian dari rutinitas. Saya berpuasa, tarawih, tadarus, bukan karena perenungan panjang, tapi karena memang sudah waktunya. Ibadah menjadi sesuatu yang disisipkan di antara agenda lain. Saya tidak merasa bersalah. Begitulah hidup berjalan.

Lalu semuanya berhenti.

Baca juga Kewajiban Belajar, Latihan Berekspresi, dan Ancaman Menjadi Sotoy

Tahun 2026, setelah resmi menjadi sarjana pada 2025, saya memasuki fase yang tidak pernah benar-benar saya siapkan. Tidak ada lagi jadwal yang otomatis terisi. Tidak ada lagi sistem yang memanggil nama saya setiap pagi. Tidak ada target kolektif yang memaksa saya bergerak meski sedang malas atau lelah. Hidup mendadak sunyi, dan sunyi itu terasa canggung. Untuk pertama kalinya, saya benar-benar berdiri sendiri. Dan di situlah saya sadar: selama ini saya tidak sepenuhnya berdiri. Saya disangga. Ramadan datang tepat di tengah kekosongan itu. Bukan sebagai bulan yang meriah, tapi sebagai ruang yang terlalu hening. Saya punya waktu. Terlalu banyak waktu. Dan waktu itu tidak selalu ramah. Ia memaksa saya melihat hidup tanpa distraksi.

Saya belum siap menikah. Bukan karena tidak ingin, tapi karena hidup terlalu konkret untuk disederhanakan. Ekonomi saya masih rapuh. Untuk makan saja, saya harus berhitung. Uang harian tipis, dan setiap pengeluaran terasa sebagai keputusan serius. Masa depan tidak bisa disusun hanya dengan niat baik dan optimisme yang dipaksakan. Di titik ini, semua kalimat normatif terasa kosong. Nasihat tentang sabar, tentang rezeki yang akan datang, tentang hidup yang akan menemukan jalannya sendiri, terdengar ringan ketika diucapkan, tapi berat ketika harus dijalani.

Baca juga Semua Orang Sibuk Cari Hack biar Sukses, Padahal ini Kuncinya!

Saya mulai benar-benar merasakan apa yang sering disebut orang sebagai kehidupan sebenarnya. Hidup tanpa kurikulum. Tanpa semester. Tanpa struktur yang menjamin bahwa usaha hari ini akan berbuah jelas besok. Hari-hari tidak lagi berjalan sebagai tahapan, melainkan sebagai pertanyaan. Kesadaran lain datang tanpa peringatan. Saya tumbuh tanpa ayah. Sejak lama, rumah hanya diisi oleh ibu, adik, dan saya. Selama ini, mungkin saya masih merasa sebagai anak. Masih merasa wajar untuk ragu, untuk mencari-cari arah, untuk belum sepenuhnya bertanggung jawab.

Ternyata hidup tidak menunggu sampai perasaan itu selesai. Tanpa pengumuman, tanpa seremoni, posisi itu berpindah. Arah keluarga ini, cepat atau lambat, berada di tangan saya. Bukan karena saya paling siap, tapi karena memang tidak ada pilihan lain. Tidak ada kebanggaan dalam kesadaran itu. Yang ada justru rasa takut. Takut tidak mampu. Takut membuat keputusan yang salah. Takut mengecewakan orang-orang yang menggantungkan harapan, meski tidak pernah mengucapkannya secara langsung.

Ramadan tidak membuat rasa takut itu hilang. Justru sebaliknya, ia memperjelasnya. Puasa tidak lagi sekadar menahan lapar. Lapar sudah menjadi bagian dari keseharian. Yang lebih sulit justru menahan kegelisahan: rasa tertinggal, rasa tidak cukup, rasa seolah hidup bergerak terlalu cepat sementara saya berjalan terseok. Di masjid, semuanya berjalan normal. Orang-orang tetap datang. Takjil tetap dicari. Tarawih tetap ramai. Doa-doa dilafalkan dengan suara yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Dari luar, tidak ada yang berubah.

Hanya saya yang berbeda.

Baca juga Kerinduan seorang Hamba di Menjelang Malam Terakhir Ramadan

Saya berhenti berharap Ramadan akan memberi jawaban. Saya berhenti menunggu momen pencerahan yang tiba-tiba membuat semuanya jelas. Yang saya temukan justru hal yang lebih sederhana dan lebih jujur: iman tidak selalu hadir sebagai ketenangan. Kadang iman hadir sebagai keberanian untuk tidak lari. Untuk mengakui bahwa saya takut. Bahwa saya belum siap. Bahwa saya lelah. Tapi juga bahwa saya tidak punya kemewahan untuk berhenti. Ramadan kali ini tidak membuat saya merasa lebih saleh. Ia tidak memberi saya pegangan baru. Ia hanya mengajarkan satu hal yang selama ini luput: bahwa hidup sering kali mencabut sandaran lebih dulu, baru kemudian memaksa kita belajar menjaga keseimbangan sendiri.

Saya tidak tahu ke mana semua ini akan berujung. Keinginan untuk melanjutkan studi masih ada, tapi realitas ekonomi memaksa saya berhitung lebih keras. Masa depan keluarga ada di depan mata, tapi jalannya belum berbentuk. Untuk pertama kalinya, saya berhenti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Saya berhenti memaksakan narasi bahwa hidup harus selalu naik, selalu jelas, selalu rapi.

Ramadan ini membuat saya sadar bahwa menjadi dewasa bukan soal kesiapan. Ia soal kesediaan untuk berjalan, bahkan ketika arah belum sepenuhnya terlihat.

Dan mungkin, di situlah tumbuh dimulai.
Bukan dari kepastian.
Bukan dari kemenangan.
Melainkan dari keberanian bertahan di tengah hidup yang tiba-tiba berhenti di depan kita.

Baca juga Hidup Damai di Tengah Dunia yang Menuntut Cepat

Profil Penulis
Hikmal Yazid
Hikmal Yazid
Penulis Tsaqafah.id

2 Artikel

SELENGKAPNYA