Kewajiban Belajar, Latihan Berekspresi, dan Ancaman Menjadi Sotoy

Kewajiban Belajar, Latihan Berekspresi, dan Ancaman Menjadi Sotoy

04 September 2021
755 dilihat
2 menits, 52 detik

Tsaqafah.id – Setiap kita pasti telah akrab dengan hadis, “Utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi”, yang merupakan perintah untuk menuntut ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat. Senada dengan hadis tersebut, dalam Kitab Nashaihul Ibad karya Syeikh Nawawi Al Bantani juga dituliskan tentang pentingnya mencari ilmu:

Dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu: ”Barang siapa yang mencari ilmu maka surgalah sesungguhnya yang ia cari. Dan barang siapa yang mencari maksiat maka sesungguhnya nerakalah yang ia cari.”

Pada kesempatan lain, dalam ngaji pasan kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah di GusMus Channel, beliau (KH Ahmad Mustofa Bisri) juga pernah ngendiko yang kurang lebih begini:

“Jangan pernah berhenti belajar. Berhenti mondok boleh, berhenti sekolah boleh, tapi tidak boleh berhenti belajar. Keadaan yang mengacaukan masyarakat pada saat ini adalah orang yang berhenti belajar.”

Semua perintah di atas, dan tentu saja banyak lagi anjuran-anjuran sejenis lainnya di luar sana, memberitahukan kepada kita betapa pentingnya belajar, betapa wajibnya memerangi kebodohan dalam kepala. Karena belajar menjadikan kita tahu, dan tahu merupakan modal penting bagi pengambilan keputusan. Bukankah Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri?

Generasi hari ini tentu patut bersyukur. Bermula dari proposal Ph.D seorang Leonard Kleinrock berjudul “Information Flow in Large Communication Nets” pada bulan Mei tahun 1961, hari ini kita bisa menikmati kemudahan berselancar di dunia maya. Sehingga akses informasi dan literasi dapat tersebar lebih luas serta lebih mudah. Membuat kita bisa belajar apa saja, dari siapa saja, dan kapan saja.

Baca Juga: Tahun Baru dan Intropeksi: Menimbang Sebelum Ditimbang

Namun, “menjadi tahu” rupanya juga bukan berarti terbebas dari masalah. Tidak sedikit orang yang—menurut istilah psikologi populer—terjebak Dunning-Kruger Effect. Sebuah fenomena bias kognitif dimana seseorang keliru menilai kemampuan yang dimilikinya. Bisa berupa orang dengan tingkat keahlian rendah yang cenderung menilai dirinya melebihi kenyataan, memiliki rasa percaya diri tinggi, dan membentuk khayalan bahwa dirinya hebat (illusory superiority). Atau sebaliknya, orang yang benar-benar ahli dan hebat dalam suatu bidang, tetapi merasa dirinya kurang baik dan perlu belajar lebih banyak lagi.

Dalam penelitiannya, Dunning dan Kruger menuliskan bahwa orang yang memiliki pengetahuan terbatas menanggung dua beban. Mereka tidak hanya telah menarik kesimpulan yang salah, melainkan juga memiliki ketidakmampuan untuk menyadari kesalahan tersebut. Kondisi ini tentu berpotensi mengacaukan banyak aspek kehidupan. Terlebih bila yang mengalami adalah orang-orang dengan posisi vital, dan bertanggung jawab atas hajat hidup orang banyak. Sebagaimana sabda Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”

Maka, belajar saja juga sebetulnya belumlah cukup. Karena mempelajari sesuatu dan bagaimana memberikan respons atas masalah yang muncul pada bidang-bidang yang sedang kita pelajari merupakan dua hal berbeda. Keduanya harus terus dilatih hingga masing-masing menemukan bentuk-bentuk kedewasaannya.

Beberapa waktu yang lalu laman healthline menuliskan beberapa langkah untuk menghindari Dunning-Kruger Effect. Di antaranya ialah berlatih mengambil jeda waktu untuk berpikir, saat diminta membuat keputusan dalam waktu singkat. Atau bila memiliki waktu cukup panjang, tidak ada salahnya berlatih menantang klaim serta mencari kontradiksi atas asumsi yang telah diyakini.

Baca Juga: Sukses Dengan Istiqamah

Lebih lanjut, healthline juga menyarankan agar mencoba cara berlogika baru untuk mengembangkan kemampuan penalaran menjadi lebih fleksibel, serta menambah kemampuan metakognisi—pemahaman seseorang tentang sistem pemrosesan informasi pada dirinya sendiri. Kemudian mengasah kemampuan berpikir kritis dengan mencari suatu klaim pengetahuan, lalu memburunya sampai pada detail bukti-bukti spesifik yang mendasarinya.

Salah satu kisah terbaik yang bisa kita jadikan teladan ialah tatkala seorang utusan dari Maroko menempuh tiga bulan perjalanan demi menyampaikan empat puluh pertanyaan kepada Imam Malik tentang suatu masalah, dan hanya delapan pertanyaan saja yang dijawab. Lalu saat utusan itu merasa kecewa dan memohon-mohon, Imam Malik berkata kepadanya: “Ketika kau kembali ke tempat tinggalmu, kabarkan pada masyarakat di sana bahwa aku berkata kepadamu: lâ uhsinuhâ—aku tidak mengerti masalah tersebut dengan baik.”

Imam Malik yang ahli fiqih dan hadis saja masih bisa menjawab demikian ketika disodori pertanyaan dimana beliau membidangi keilmuan tersebut. Lantas, bagaimana dengan kita (wabil khusus; penulis) yang baru membaca caption di media sosial saja sudah merasa unggul dan begitu yakin berpendapat?

Profil Penulis
Ahmad Mufid
Ahmad Mufid
Penulis Tsaqafah.id
Santri PP. Al-Munawwir Krapyak, dan alumni Universitas Amikom Yogyakarta.

1 Artikel

SELENGKAPNYA