Saat Aparat Menindas yang Tertindas

Saat Aparat Menindas yang Tertindas

03 September 2025
160 dilihat
2 menits, 53 detik

Suatu tindakan yang sangat menyedihkan, mengingat institusi Polri yang telah mengklaim sebagai pengayom masyarakat. Namun setelah terjadinya hal kekerasan, sebuah “klaim” tersebut menjadi “omong kosong

Tsaqafah.id – Suatu tidakan yang sangat tragis oleh para demonstrasi buruh serta pekerja lainya. Seorang driver ojek online (ojol) dilindas oleh rantis brimop pada Kamis (28/08/2025), tepatnya di depan Rumah Susun Bendungan Hilir II, Jakarta, Pusat di tengah aksi massa.

Seorang ojol atas nama Affan Kurniawan telah dilindas oleh kendaraan taktis/brimob. Affan awalnya akan mengantarkan makanan kepada pelanggan, ucap seorang kawan ojol yang sering mangkal bersamanya.

Dilansir dari Tempo.com, kronologi yang terjadi yakni ketika ia akan menyebrang jalan, kemudian terjatuh. Dari belakang tiba-tiba mobil Brimob melaju dengan kencang, tanpa melihat kanan-kiri, depan-belakang dan akhirnya melindas ojol yang sedang jatuh di jalan tersebut.

Jika dilihat dalam rekaman video yang beredar, bahwa rantis brimop terus melaju tanpa berhenti setelah melindas korban. Brimob pun masih tidak sadar ketika sedang di kroyok massa, sopir mobil tersebut justru melaju tanpa menghiraukan apa yang telah terjadi dan tidak bertanggung jawab atas tindakan kekerasan yang telah dilakukan.

Affan Kurniawan dan Moh. Umar Amarudin merupakan korban dalam peristiwa tersebut. Naasnya seorang Affan, ketika akan di bawa ke RS, nyawanya sudah tidak bisa ditolong. Sementara Umar, masih bisa dilarikan ke rumah sakit.

Baca juga Gusdurian Desak Presiden Prabowo Copot Kapolri dan Hentikan Represifitas Terhadap Pendemo

Tindakan kekerasan tersebut dilakukan oleh 7 orang yang berada di dalam Brimob, mereka berinisal kompol C, Aipda M, Bripka R, Briptu B, Bripda M, Baraka Y, dan Baraka J.

Aparat Polisi yang seharusnya mengayomi dan melindungi, kini malah melindas rakyatnya sendiri. Seorang ojol yang kini tidak mendapat tunjangan sebagaimana para bapak-bapak terhormat yakni para wakil rakyat , tidak dipersenjata dari pajak rakyat sebagiamana polri, tidak hanya diam menerima bonus bermiliyaran sebagaimana para komisaris BUMN yang tentu banyak koneksinya dengan berbagai partai-partai dan tidak dapat jatah proyek-proyek yang bergelimbang harta –uang sebagamiana para petinggi negara.

Suatu tindakan yang sangat menyedihkan, mengingat institusi Polri yang telah diklaim bahwa dirinya sebagai pengayom seluruh rakyatnya. Namun setelah terjadinya hal kekerasan, sebuah “klaim” tersebut menjadi “omong kosong”. Suatu omongan yang “nyerocos”, dan kita semua tahu bahwa klaim tersebut palsu.

Adapun Kekerasan aparat kepolisian kerap menjadi polemik dalam kehidupan bermasyarakat. Tentu di satu sisi ada yang merasa terancam dengan tindakan kekerasan tersebut, di satu sisi lainya ada yang beranggapan jika kekerasan merupakan bentuk dari ketegasan aparat kepolisian dalam menjalankan tugasnya ketika menertibkan suatu aksi.

Baca juga Ketika Aspirasi Rakyat Terkubur Api Anarkisme

Namun, aksi yang dilakukan polisi justru melakukan tindakan kekerasan seperti melindas. Jika diusut kebelakang, kita akan menemukan banyak kejadian kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Seperti halnya konflik agrarian di Wadas, tragedi Kanjuruhan yang telah menewaskan ratusan korban dan tentu ada banyak lagi kasus yang telah terungkap.

Pada titik akhir kita menyimpulkan bahwa “klaim seorang polri yang harusnya mengayomi” kini telah berujung “ngapusi”, sebagaimana Gus Dur berkata; “Cuma ada 3 polisi yang jujur di negeri ini yakni polisi tidur, patung polisi dan Hoegeng.”

Aparat yang seharusnya melindungi, namun mengapa jadi begini? Rakyat yang ditindas, sementara mereka enak-enakan dan wakil rakyat yang dimanjakan dengan gaji yang tinggi. Seperti halnya lagu yang lagi viral;

“Wakil rakyat naik mercy, rakyatnya jalan kaki.. Wakil rakyat makan sate, rakyatnya makan tempe.. Wakil rakyat numpuk hutang, rakyatnya suruh bayar..”

Apakah Aparat kemarin, hari ini atau bahkan yang akan datang akan tetap represif? Apakah ini yang dinamakan merdeka?

Ya, merdeka tapi “bingung”. Setidaknnya ketika dikasih gaji tinggi, tunjukkan kerja yang nyata brooo!!!,

Jangan malah kerja misterius. Memang di dunia ini memperlihatkan bahwa kehidupan yang enak belum tentu mencerminkan kehidupan rakyatnya. Jangan-jangan mereka juga yapping ups ahahahaha.

Sunggh ironis sekali Negeri ini. Tindakan kasus di atas, selaras dengan pandangan KH. Abdurrahman Wahid, bahwa; “Negeri ini tidak akan hancur karena bencana, tetapi karena moral bejat dan perilaku korupsi oleh penguasa Negeri.“

Saat negara lupa menjaga hak warganya. Pada kenyataannya bahwa seorang rakyat kecil bisa mati begitu saja di bawah ban negara — tirani.

Wallahua’lam,

Semoga negeri ini lekas pulih.

Baca juga Dari Indonesia, Menjawab Jeritan Ibu dari Gaza

Profil Penulis
Binti Khabibatur
Binti Khabibatur
Penulis Tsaqafah.id

3 Artikel

SELENGKAPNYA