Sensitivitas dan Pergeseran Makna dalam Pertanyaan “Kapan Nikah?”

Sensitivitas dan Pergeseran Makna dalam Pertanyaan “Kapan Nikah?”

03 April 2026
38 dilihat
2 menits, 44 detik

Begitu tiba di rumah keluarga besar, pertanyaan itu hampir pasti muncul: “Kapan nikah?” Diucapkan sambil tersenyum, kadang disertai tawa, seolah basa-basi yang wajar

Tsaqafah.id – Lebaran seharusnya menjadi momen penuh kebahagiaan—waktu berkumpul bersama keluarga, saling memaafkan, dan merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun bagi sebagian orang, khususnya mereka yang belum menikah, momen ini justru hadir dengan kecemasan tersendiri.

Begitu tiba di rumah keluarga besar, pertanyaan itu hampir pasti muncul: “Kapan nikah?” Diucapkan sambil tersenyum, kadang disertai tawa, seolah basa-basi yang wajar. Padahal, bagi yang mendengarnya, pertanyaan itu bisa terasa seperti luka kecil yang terus ditusuk berulang kali.

Fenomena ini bukan hal baru. Ia sudah mengakar dalam budaya masyarakat kita sebagai bagian dari “kepedulian” keluarga. Namun, jika ditelaah lebih dalam, pertanyaan tersebut kerap tidak lahir dari rasa peduli yang tulus, melainkan dari dorongan norma sosial yang menganggap pernikahan sebagai pencapaian wajib yang harus ditempuh pada usia tertentu. Ketika seseorang belum memenuhi ekspektasi itu, ia dianggap “kurang lengkap” dan pertanyaan “kapan nikah?” menjadi alat tak sadar untuk mengingatkan hal tersebut.

Dalam kajian psikologi, ucapan yang merendahkan kondisi seseorang—meski disampaikan dengan nada bercanda—termasuk dalam kategori microaggression, yaitu bentuk kekerasan verbal halus yang dampaknya terakumulasi dari waktu ke waktu. Mary P. Rowe (1990), peneliti dari MIT yang mempopulerkan istilah ini, menjelaskan bahwa microaggression dapat menyebabkan kecemasan, rendah diri, hingga depresi ringan.

Baca juga Anak Muda dan Dilema Pernikahan

Pertanyaan “kapan nikah?” yang dilontarkan berulang-ulang, apalagi di hadapan banyak orang, bisa menjadi salah satu bentuknya—terutama bagi mereka yang tengah berjuang dengan masalah kesehatan, karier, atau pilihan hidup yang tidak sejalan dengan ekspektasi keluarga.

Islam sendiri tidak mengajarkan umatnya untuk mempermalukan atau menekan seseorang, bahkan atas nama kebaikan sekalipun. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat [49]: 11:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain… dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri serta janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”

Baca juga Spiritualitas di Tengah Gemerlap Konsumerisme Hari Raya

Meskipun konteksnya lebih luas, ayat ini mengandung prinsip mendasar: menjaga kehormatan dan perasaan sesama adalah bagian dari adab Islami yang tidak boleh dikompromikan, termasuk dalam konteks percakapan keluarga di hari raya.

Dalam perspektif mubadalah—pembacaan relasional dan berkeadilan gender atas teks-teks keislaman—setiap ucapan yang menekan salah satu pihak perlu dievaluasi ulang. Pertanyaan “kapan nikah?” secara tidak proporsional lebih banyak ditujukan kepada perempuan dan sering kali datang bersamaan dengan ekspektasi bahwa perempuanlah yang harus “segera diselesaikan” urusannya. Ini mencerminkan relasi kuasa yang tidak seimbang: tubuh dan pilihan hidup perempuan dianggap sebagai urusan kolektif keluarga, bukan domain pribadi yang perlu dihormati.

Tentu tidak semua yang bertanya bermaksud jahat. Banyak di antara mereka melakukannya karena terbiasa, karena itulah yang dulu dilakukan kepada mereka, karena mereka sungguh peduli dengan cara yang belum mereka sadari bisa menyakiti. Di sinilah pentingnya literasi relasional dalam keluarga—kesadaran bahwa niat baik tidak selalu cukup dan bahwa cara kita mengungkapkan kepedulian perlu terus-menerus dievaluasi. Kepedulian yang sejati bukan menekan, melainkan mendengarkan.

Lebaran adalah momen fitrah—kembali kepada kesucian dan kemanusiaan yang paling dasar. Maka alangkah indahnya jika kita juga kembali kepada cara berkomunikasi yang lebih manusiawi: mengganti “kapan nikah?” dengan “apa yang sedang kamu kerjakan sekarang?”, atau sekadar “kamu baik-baik saja?”. Pertanyaan-pertanyaan kecil itu jauh lebih bermakna daripada sekadar menanyakan status pernikahan seseorang. Sebab pada akhirnya, Idul Fitri bukan ajang untuk mengevaluasi kehidupan orang lain—melainkan ruang untuk hadir, tulus, dan saling memuliakan.

Baca juga Kisah Nabi dan Anak Kecil di Hari Raya Idul Fitri

Profil Penulis
Muhammad Fadhil Wathani
Muhammad Fadhil Wathani
Penulis Tsaqafah.id

1 Artikel

SELENGKAPNYA