sebagian ketakutan terhadap pernikahan lahir dari ekonomi digital. Di era media sosial, standar “pernikahan ideal” sering dibentuk oleh konten-konten wedding goals, rumah minimalis estetik, dan liburan romantis yang terkesan mewah.
Tsaqafah.id – Beberapa tahun terakhir, media sosial sering dipenuhi keluhan dan candaan tentang betapa “menakutkannya” pernikahan. Tagar #MarriedIsScary bermunculan, disertai cerita tentang biaya pesta pernikahan yang membengkak, drama rumah tangga, atau kekecewaan karena pasangan tidak seperti yang diimpikan.
Di sisi lain, muncul pula ketakutan akan kesepian di usia senja, yang memicu diskusi tentang #SingleIsLonely. Dilema ini makin terasa di kalangan generasi muda muslim, yang dihadapkan pada tuntutan syariat untuk menjaga kehormatan, tapi juga realita hidup modern yang penuh tantangan.
Lalu, bagaimana Islam memandang dua kutub rasa takut ini?
Ketakutan terhadap pernikahan sering kali tidak muncul dari ruang kosong. Ada faktor ekonomi: biaya rumah, biaya anak, dan ketidakstabilan pekerjaan. Ada faktor sosial, ekspektasi keluarga besar, standar hidup yang tinggi, atau stigma kalau pernikahan tidak “sempurna”.
Baca juga Inilah yang Perlu Kamu Persiapkan Sebelum Menikah
Media sosial juga punya peran besar. Kisah rumah tangga yang retak, KDRT, atau perselingkuhan mudah sekali viral, sehingga memberi kesan bahwa menikah identik dengan penderitaan. Tagar #MarriedIsScary menjadi semacam ruang curhat sekaligus peringatan: “Hati-hati, pernikahan tidak seindah film.”
Padahal, dalam Islam, pernikahan bukan hanya urusan romantis atau ekonomi, tapi juga ibadah dan amanah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menikah maka menikahlah, karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pernikahan, dalam pandangan ini, bukan sekadar pilihan personal, tapi juga sarana untuk menjaga diri dari maksiat. Namun, Islam juga mengakui bahwa menikah butuh kesiapan, baik finansial, mental, maupun spiritual.
Di sisi lain, ada rasa takut akan kesepian, terutama ketika usia terus bertambah dan teman-teman sebaya mulai membangun keluarga. Tagar #SingleIsLonely mencerminkan kegelisahan ini.
Namun, rasa takut sendirian tidak selalu berarti seseorang siap menikah. Ada yang menikah hanya untuk menghindari kesepian, tapi akhirnya terjebak dalam hubungan yang tidak sehat karena tidak mempersiapkan diri dengan matang.
Bagi generasi Muslim, dilema ini tidak bisa dipecahkan dengan sekadar memilih “menikah” atau “sendiri”. Islam mengajarkan keseimbangan: menikah adalah sunnah yang sangat dianjurkan, tetapi kesiapan tetap penting.
Jika pernikahan ditakuti karena faktor finansial, Islam memberi solusi dengan menganjurkan kesederhanaan. Nabi ﷺ menikahkan sahabatnya dengan mahar yang ringan, bahkan sekadar hafalan Al-Qur’an. Artinya, standar pernikahan dalam Islam tidak ditentukan oleh pesta mewah atau rumah besar.
Jika kesendirian ditakuti karena kesepian, maka Islam mengajarkan pentingnya membangun jaringan persaudaraan (ukhuwah), berkontribusi dalam komunitas, dan mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat—sehingga hidup tetap bermakna meski belum berpasangan.
Baca juga Jomblo Ideologis: Dua Puluh Ulama yang Memilih Melajang Demi Ilmu
Menariknya, sebagian ketakutan terhadap pernikahan lahir dari ekonomi digital. Di era media sosial, standar “pernikahan ideal” sering dibentuk oleh konten-konten wedding goals, rumah minimalis estetik, dan liburan romantis yang terkesan mewah.
Tekanan ini bisa membuat generasi muda merasa “belum layak menikah” jika belum mencapai standar tersebut. Padahal, dalam Islam, keberkahan pernikahan tidak diukur dari jumlah likes atau followers, melainkan dari ketakwaan dan kualitas hubungan suami istri.
Alih-alih terjebak antara #MarriedIsScary dan #SingleIsLonely, perspektif Islam mendorong umat untuk mempersiapkan diri sejak dini. Persiapan ini meliputi:
- Spiritual: memperkuat iman, memahami hak dan kewajiban suami-istri.
- Emosional: belajar mengelola konflik, komunikasi sehat, dan empati.
- Finansial: memiliki penghasilan yang cukup untuk kebutuhan pokok, tanpa harus menunggu kaya raya.
- Sosial: memilih pasangan yang sejalan dalam nilai dan visi hidup.
Dengan begitu, keputusan menikah tidak lagi lahir dari ketakutan atau desakan, tetapi dari kesiapan dan kesadaran akan nilai ibadah di dalamnya.
Islam tidak mengabaikan ketakutan manusia terhadap pernikahan maupun kesendirian. Namun, ketakutan itu seharusnya menjadi pemicu untuk belajar dan mempersiapkan diri, bukan alasan untuk menutup pintu pada salah satu opsi.
Pernikahan memang punya tantangan, tapi juga membawa peluang besar untuk tumbuh sebagai pribadi dan beribadah bersama pasangan. Kesendirian pun bukan selalu kutukan, selama dijalani dengan kesadaran, produktivitas, dan koneksi sosial yang sehat.
Pada akhirnya, pilihan antara #MarriedIsScary atau #SingleIsLonely bukanlah sekadar memilih dua jalan yang saling bertentangan. Bagi seorang Muslim, jalan yang terbaik adalah yang mengantarkan pada ridha Allah, baik melalui pernikahan yang penuh berkah maupun kesendirian yang terjaga.
Wallahu a’lam bishawab

