Sepilihan Puisi Chusnul C: Waktu dan Aku

Waktu dan Aku

Tiba-tiba waktu terasa seperti puisi

Mendetak di ulu hati, mendebar cepat di jantung

Ia bercerita tentang hening dan gelisah

Pada suatu ketika, betapa nestapa

Tapi pada waktu jua cinta tersemat begitu khidmat

Hening sekaligus ribut, bagaimana aku harus menyebut?

Aku luka, sayatan kepedihan

Dan sunyi seperti jendela di beranda

Serupa daun yang basah oleh hujan

Lalu, pada subuh tak bersyarat,

Gigil merupa keangkuhan yang keparat

Mari beranjak

Gerimis

Gerimis di kotaku bu,

Serupa takdir kematian yang tiba-tiba

Ia datang mencerai kehidupan

Gerimis menderas, gusar, dan orang-orang berlalu lalang pulang

Lalu persimpangan menjadi lengang

Seperti usai pemakaman

Baca Juga: Buku, Kuburan, dan Kisah Pemancing Gagal

Menziarahi Batin

Pak, aku pikir aku sudah lupa cara mengingatmu

Anakmu lelah terus melekat pada nama

Maka pergilah, biar kurapikan hidupku, biar ku simpan citramu

Karena kau telah usai dengan waktu

Aku pikir lidahku kelu mengucap namamu

Sebab lara terendap lama

Dan aku larut menghilangkan jejakmu;

seperti pecundang yang menghilang

seperti musafir yang pergi atas nama perjalanan -enggan kembali ke tanah kelahiran           

Tapi . . . . . . anakmu pulang pak,

Entah melalui jalan yang mana,

dan aku telah sampai

Kau masih di sana rupanya dengan wangi tubuh yang menusuk hidung

Apakah punggungmu masih sering gatal?

Sini biar kugaruk, dan akan kumainkan tahi lalat di pundakmu

Tapi aku capek pak, maukah bapak menggendongku lebih dulu, meninabobokanku?

Atau pinjami aku lenganmu, aku ingin bergelanyut

Sejauh perjalanan ku tempuh

Pada akhirnya aku merindukanmu

Dan bapak masih di sana, di sudut tergelap batinku

Paragraf Dongeng

Suatu hari ibu mengecupku,

Dengan darah yang tak pernah hilang dari tatapan

Mungkin sepenggal kisah tentang tukang becak, anak-anak yatim di pangkuan, mungkin pula tentang bekas pacar yang gagal di pelaminan

Matamu adalah mata yang memiliki aliran sungai darah

Bahkan terus menerus mengalir hingga akhirnya ragamu tertimbun batu nisan

Tapi darah tetap menetes, entah dari mata yang mana

Hingga menderas melebihi hujan Januari, barangkali

Suatu hari lagi di pemakaman yang itu juga,

Darah kembali mengalir, entah dari mata yang mana

Note: Paragraf dongeng juga pernah dimuat di antologi puisi rumah pohon an Dhedhe Lotus

Total
2
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Faedah Ilmu sebagai Pelita Kehidupan

Next Article

Ingatan yang Memberiku Nafas Panjang dalam Mengenal Gus Dur

Related Posts