Sepilihan Puisi Fas Rori: Duka Kopi

Duka Kopi

Warung ini sepi setelah

pemiliknya kau tinggal pergi.

Kopi ini sedih setelah bibir cangkirnya

tak pernah kau kecup lagi.

Bekas bibirmu masih tertinggal di sana

bersama ampas-ampas dari hatiku

yang lupa kau bawa serta.

Di meja yang biasa kubuat

untuk menghayal kata, tertulis

namamu dari tumpahan kopiku.

Kopiku berduka;

menyebut-nyebut namamu

pada malam panjang saat aku berdoa.

Pekerja

Kau tahu,

aku hanya seorang pekerja

yang setiap hari berkewajiban

menafkahimu dengan rindu

demi ganjaran temu.

Kau juga tahu,

jika aku tak bekerja

maka aku akan berdosa:

mendapat siksa jauhnya jarak

dan waktu yang lama.

Aku harap

rinduku cukup memenuhi

kebutuhan hatimu sehari-hari.

Hingga kau tak perlu lagi

mencari tambahan isi hati.

Biar aku bekerja dan cukup

rinduku saja yang kau punya.

Baca Juga: Sepilihan Puisi Chusnul C: Waktu dan Aku

Kacamata

1.

Orang hebat bukan orang yang hadir membawa cinta

tapi dialah yang bisa menambal luka.

Aku tahu,

jika ada putih dalam diriku

itulah hitam yang kau hapuskan.

2.

Kita hidup dalam keterbatasan.

Ketidakmengertian,

tak tahu tentang masa depan,

tak . . . . . . tahu mana kota mana hutan.

Kita tidak tersesat,

hanya tak tahu mana yang tepat.

Tapi di matamu ada pandangan.

Kutatap matamu, mencari celah

ke mana aku mesti melangkah.

3.

Matamu adalah anugerah dari Tuhan.

Bukan sebab kekuatan atau ikatan. Bukan.

Di sana ada senja yang kemerah-merahan.

Juga pagi yang hadir bersama mentari dengan pelan.

Sayangnya kau terburu-buru:

kau ganti kacamatamu.

4.

Boleh kubawa kacamata ini?

 Apa gunanya untukmu?

Ia bisa membawaku kembali ke sebuah kota

yang sedikit dingin dan embunnya menghangati.

Ia bisa memperjelas pandanganku yang silau

oleh matahari yang semakin redup.

Atau paling tidak ia bisa membuatmu datang lagi.

Sebab aku tahu, sedikit pandanganmu tertinggal di sana.

Kesepian

Saya pernah bertemu dengan cinta yang sedang sendirian.

Tidak bersama rindu atau kasih sayang seperti biasanya.

Saya tanyakan padanya, “Mengapa engkau sendirian?

Di mana rindu dan kasih sayang?”

Cinta, yang dari awal menundukan muka, menjawab,

“Rindu terlalu menggebu mencari temu. Sedangkan kasih sayang inginnya selalu ditimang.”

Akhirnya saya putuskan menemani cinta.

Membantunya menciptakan kesepian.

Total
2
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article
cadar

Dear Sobatku Muslimah Bercadar, Kalian Tuh Wanita Penyabar dan Layak Dihormati

Next Article

Kisah Ibu dari Orang-Orang yang Syahid di Medan Perang, Khansa binti Amru

Related Posts