Tsaqafah.id – Seperti menggali mutiara yang terpendam, siswa-siswi kelas 10, SMK Peradaban Desa, Pajangan, Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Bantul DIY mempelajari teks kuno Aksara Kawi atau juga disebut Jawa Kuno.
Mereka belajar membaca dan menulis teks Aksara Kawi yang memang menjadi salah satu mata pelajaran di SMK Peradaban Desa. Tujuannya untuk menggali kembali khazanah keilmuan dan peradaban pada abad 8 hingga 16.
Ayyas Davi Shafiyarrahman Asy- Syarif, salah satu siswa SMK Peradaban Desa mengatakan bahwa mempelajari Aksara Kawi memang membutuhkan ketekunan. Ia menilai mempelajari Aksara Kawi sama halnya dengan melestarikan khazanah keilmuan dan kearifan lokal yang dibawa oleh nenek moyang ratusan tahun yang lalu.
“Dengan mempelajari Aksara Kawi kita bisa tahu tentang apa yang tidak kita tahu pada saat ini. Kan itu salah satu menjaga tradisi, menjaga kearifan lokal,” ucap remaja asal Magelang itu.
Baca Juga
- Aktualisasi Makna Ta’dzim di Pesantren
- Peringati Hari Santri, Yenny Wahid : Perempuan Santri Harus Difasilitasi Agar Lebih Berdaya
Menurutnya belajar membaca dan menulis Aksara Kawi merupakan bentuk rasa syukur dan bentuk menghargai warisan leluhur.
Selain itu, katanya mempelajari teks-teks kuno memberikan referensi yang sangat mendalam sebab banyak hikayat dan falsafah hidup di dalamnya.
“Banyak ilmu yang didapat setelah mempelajari Aksara Kawi,” ucap Ayyas siswa SMK Peradaban Desa.
Namun, kata Ayyas untuk belajar aksara kawi membutuhkan ketekunan dan ketelitian. Sebab meliputi 33 huruf konsonan dan 16 huruf vokal.
“Untuk belajar Aksara Kawi butuh ketekunan dan ketelitian dalam belajar,” katanya.
Baca Juga
Perbedaan Aksara Jawa Baru dan Aksara Jawa Kuno
Dikutip dari buku Tata Bahasa Jawa Kuna yang ditulis oleh Miswanto, dia menjelaskan dalam bukunya bahwa Aksara Jawa ada yang berupa aksara Jawa Baru, ada yang berupa aksara Jawa Kuna.
“Aksara Jawa Baru adalah aksara yang dikenal luas di kalangan masyarakat Jawa, sedangkan aksara Jawa Kuna aksara yang bisa ditemukan dalam prasasti-prasasti dan kesusastraan Jawa Kuna,” tulisnya.
Miswanto juga menjelaskan bahwa karena banyak digunakan dalam penulisan kesusastraan, maka aksara Jawa Kuna disebut juga sebagai aksara Kawi.
Kata Kawi berasal dari kata Sanskerta kavi (-N)' yang artinyapenyair’ (Monier-Williams, 1899: 264). Artinya sesungguhnya Aksara Kawi adalah aksara yang dibuat atau digunakan oleh para penyair (rakawi).
“Aksara Jawa Kuna atau Kawi diyakini sebagai sebagai pendahulu bagi aksara-aksara Nusantara yang lebih modern, seperti aksara Jawa dan aksara Bali,” tandasnya.

