Dimensi Sosial Ibadah Kurban

Tsaqafah.id Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang dimuliakan dan sangat istimewa bagi umat muslim, selain bulan Ramadhan. Di bulan ini terdapat dua ibadah yang bernilai tinggi bagi kehidupan umat manusia. Selain ibadah haji, di bulan Dzulhijjah kita juga merayakan hari Raya Idul Adha atau sering disebut Hari Raya Kurban.

Jika ibadah haji dilakukan sebulan penuh selama bulan Dzulhijjah maka ibadah kurban dirayakan tanggal 10 Dzulhijjah. Di hari raya Idul Adha umat muslim seluruh penjuru dunia melaksanakan pemotongan hewan kurban, yang selanjutnya akan dibagi-bagikan ke masyarakat setelah melaksanakan shalat sunnah Ied Adha. 

Hari yang dirayakan di seluruh dunia tersebut juga dirayakan dengan tradisi yang berbeda-beda di setiap negara. Misalnya saja di negara Arab Saudi kita akan menemukan masyarakat Arab juga biasa berkurban dengan unta. Sementara di Indonesia, masyarakat kita akan berkurban dengan sapi atau kerbau, selain kambing. Perbedaan ini disebabkan oleh kondisi geografis dan kultural yang berbeda di setiap kawasan. 

Baca juga: Habib Umar Muthohar Bocorkan Tiga Amal yang Tidak Putus Pahalanya

Menengok  sejarah, peristiwa kurban pertama kali dialami oleh Nabi Ibrahim a.s bersama putranya Ismail a.s. Setelah mendapat perintah dari Allah, Nabi Ibrahim a.s membicarakannya dengan sang putra yaitu Ismail a.s yang waktu itu masih berumur 9 tahun atas perintah penyembelihan itu. Dengan ikhlas Ibrahim dan Ismail akhirnya berjalan ke sebuah bukit untuk mengurban sang putra, Ismail a.s.

Nabi Ibrahim a.s adalah hamba yang taat, yang tanpa ragu akan mematuhi perintah Tuhannya. Nabi Ibrahim a.s sangat meyakini, percaya betul bahwa perintah dari Allah pastilah kebaikan dan akan kembali kepada dirinya, kepada hamba-Nya yang menjalankan syariat- Nya. Keajaiban turun, saking ikhlasnya Nabi Ibrahim dan Ismail, Allah menggantikan posisi Nabi Ismail yang sudah hendak mau disembelih dengan seekor gibas (kambing).

Dari peristiwa tersebut,  umat islam disyariatkan untuk berkurban, sebagaimana dalam Al-Qur’an. “Bagi setiap umat telah . . . . . . kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya, kepada mereka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka berserah dirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat kepada Allah” (QS. Al Hajj [22]: 34). 

Jika dilihat lebih dalam, keutamaan melaksanakan ibadah kurban tidak hanya dirasakan oleh pengkurban. Berkurban adalah berbagi kebahagiaan dan cinta kasih kepada sesama. Dengan adanya kurban semuanya dapat menikmati makanan enak yaitu daging, yang bagi sebagian orang sangat susah mengkonsumsinya karena harganya yang relatif mahal. Di hari raya kurban, orang-orang miskin dan dhuafa yang jarang sekali makan daging dapat menikmati daging. Dari sini kita ketahui bahwa islam adalah agama sosial dan memiliki nilai kemanusiaan tinggi. 

Baca juga: Ajaran Spirit Berbagi KH. Ahmad Dahlan

Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (DECD) menyebutkan bahwa konsumsi daging terkait dengan indikator ekonomi seperti standar hidup serta produksi ternak dan harga konsumen. Konsumsi kurban berkaitan dengan pendapatan yang lebih tinggi dan pergeseran konsumsi makanan ke arah yang mendukung peningkatan protein dari sumber hewani. 

Di hari raya kurban stok hewan kurban makin banyak dibutuhkan, orang-orang menjadi berpikir bagaimana agar ketersediaan hewan kurban tetap aman. Usaha dikerahkan manusia, mensejahterakan para peternak menjadi dipikirkan agar kebutuhan hewan kurban dapat selalu terpenuhi. Dari segi ekonomi, pelaksanaan kurban, selain membawa berkah untuk pengurban dan penerima daging kurban, juga mensejahterakan para peternak, petani yang menyediakan makanan hewan kurban, serta para penjual binatang ternak, seperti disebutkan diatas. 

Menengok potensi ibadah kurban yang bernilai sosial kemanusiaan yang amat tinggi berkaitan dengan kesejahteraan, memaksimalkan ibadah kurban di tengah gagalnya berangkat ke tanah suci serta kondisi yang masih dihantui COVID-19, bisa jadi obat penawar rindu tahun ini. Merengkuh kerinduan dan memaksimalkan berbagi cinta kasih pada sesama di 10 Dzulhijjah. Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H!

Total
0
Shares
Previous Article

"Mbah Mariah" - Sebuah Cerpen Fas Rori

Next Article

Pandemi dan Laku Agama yang Tak Direstui

Related Posts