toleransi

Survei INFID dan Gusdurian: Anak Muda Makin Toleran Tapi Juga Gamang

Tsaqafah.id – Hasil riset International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) dan Jaringan Gusdurian pada 2020 yang baru saja diluncurkan menunjukkan adanya pergeseran positif pada pandangan dan sikap anak muda terkait kekerasan bermotif agama. Namun, di sisi lain, mereka juga gamang dalam menghadapi isu-isu intoleransi.

Riset bertajuk “Persepsi dan Sikap Generasi Muda Terhadap Intoleransi dan Ekstremisme Kekerasan” 2020 adalah lanjutan dari studi serupa pada 2016. Survei yang digagas oleh INFID dan Gusdurian ini dilakukan di enam kota: Pontianak, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, dan Makassar.

Responden dalam riset ini berusia 18-30 tahun dari beragam agama, suku, dan jenis kelamin. Dilihat dari tingkat pendidikan yang mayoritas SMA hingga pendidikan tinggi, survei ini mewakili pandangan kalangan muda terdidik. Di satu sisi, temuan riset ini cukup menggembirakan, namun di sisi lain perlu mendapat perhatian.

Baca juga: Melawan Aksi Teror dengan Menolak Takut

Dalam topik radikalisme dan kekerasan berbasis agama, sebagian besar menaruh persepsi negatif terhadap terorisme. Terorisme dianggap sebagai kelompok yang menggunakan simbol-simbol agama tertentu untuk berperang, melakukan kekacauan, dan kekerasan. Persepsi negatif ini mengalami kenaikan signifikan dari 79,7% pada 2016 menjadi 94,4% pada 2020 atau naik 14,5%.

Sebagian . . . . . . besar responden tidak menyetujui tindakan radikalisme dan kekerasan berbasis agama sebagaimana bom gereja di Surabaya 2018 dan bom bunuh diri di Polresta Medan 2019. Dibandingkan 2016, pada 2020 generasi muda juga semakin yakin bahwa terorisme diakibatkan kedangkalan dalam memahami agama. Mereka juga tidak yakin bahwa kelompok teroris bertujuan untuk menegakkan syariat Islam, karena syariat Islam hanya bisa tegak melalui cara-cara damai.

Dalam topik mengenai intoleransi, sebanyak 93% menyatakan setuju terhadap toleransi. Akan tetapi, saat dihadapkan pada sejumlah kasus dan statement tertentu, mereka masih gamang menyikapinya.

Prosentase persetujuan terhadap narasi-narasi intoleran masih tergolong tinggi. Seperti: menganggap bahwa di luar Islam adalah golongan kafir 37,5%; tidak mengucapkan selamat hari raya keagamaan kepada selain non-Muslim 34,6%; cenderung tidak mau berteman dengan orang non-Muslim 29,7%; karena Islam mayoritas maka semua aspek kehidupan harus mengikuti Islam 37,9%; lebih utama menolong sesama Muslim 28,5%. Bahkan, persetujuan terhadap pelarangan Syiah dan Ahmadiyah mencapai angka 42,5%.

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa anak muda memiliki penolakan yang tegas terhadap aksi kekerasan bermotif agama, namun mereka sangat rentan untuk menjadi intoleran. Apakah kamu termasuk yang masih gamang menyikapi intoleransi, fren?

Baca juga: Menjadi Muslim yang Gembira dan Tak Mudah Curiga

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article
menolak teror

Melawan Aksi Teror dengan Menolak Takut

Next Article

Soal Aksi Terorisme, Gus Yahya Minta Umat Islam Waspadai Seruan yang Mendorong Segregasi Kelompok

Related Posts