Ramadan tahun ini di Mahad al-Jami’ah UIN Sunan Ampel Surabaya memberiku rasa kebersamaan yang luar biasa. Memasuki tahun kedua sebagai pengurus Ma’had al-Jami’ah UINSA yang mengoordinasi kegiatan mahasantri dan aku menemukan banyak pengalaman baru. Tahun pertama dahulu terasa sunyi; buka puasa sendirian di kamar dengan rasa rindu rumah yang menyesakkan dada. Namun kini, setiap hari penuh dengan cerita kecil antar-pengurus yang membuat puasa terasa lebih manis.
Momen paling berkesan terjadi pada Sabtu, hari ketiga Ramadan. Di Masjid Raya Ulul Albab UINSA, takjil dan buka bersama hanya disediakan Senin sampai Jumat. Karena tidak ada jadwal kuliah di akhir pekan, kami biasanya hanya beristirahat. Awalnya kami berpikir untuk buka seadanya, tetapi kami para pengurus sepakat, “Patungan yuk! Daripada sendirian, lebih seru kalau masak bareng.”
Setelah urusan masing-masing selesai, kami berkumpul di room pengurus. Dari sepuluh orang, hanya delapan yang bisa ikut karena dua lainnya sedang bertugas di luar daerah. Kami berbagi tugas: ada yang membeli bahan es buah dan sayur sop (aku salah satunya). Di belakang kampus sangat ramai penjual takjil. Kami singgah di minimarket untuk membeli sirup, agar-agar, dan susu. Kami sengaja mencari produk diskon agar lebih hemat. Lucunya, di depan minimarket ada pembagian takjil gratis, jadi kami ikut mengambilnya sebagai tambahan menu.
Baca juga Meraih Keberkahan Ramadhan dengan Tradisi Berbagi Takjil
Kembali ke room, suasana berubah chaos tapi seru. Ada drama agar-agar yang gagal total karena dimasukkan saat air sudah mendidih hingga menggumpal. Ada yang mengiris bawang sambil menangis karena perih, ada yang memotong wortel, sosis, hingga memasak nasi. Tugasku khusus meracik es buah: memadukan sirup, potongan buah, nata de coco, susu, dan bongkahan es batu agar segar.
Kami mendokumentasikan semua kekacauan itu. Foto makanan yang berantakan namun menggoda serta video singkat proses memasak dikirim ke grup pengurus. Seorang ustaz langsung membalas, “Mantap! Otw,” lengkap dengan stiker jempol, teman yang sedang magang di luar daerah pun menyahut, “Kirim lewat jnt ekspres ya, biar cepat sampai!” Kami tertawa bersama hal sederhana yang membakar semangat.
Saat azan Maghrib berkumandang, kami duduk lesehan di lantai. Angin malam Surabaya berembus sepoi-sepoi masuk lewat jendela. Di tengah lingkaran kami, tersaji nasi hangat, sayur sop sederhana, dan es buah buatanku. Suasana penuh canda, saling berbagi cerita puasa tahun lalu, dan menertawakan kegagalan agar-agar tadi. Dalam hati aku merasa hangat; rindu rumah itu masih ada, tetapi momen ini adalah obatnya.
Baca juga Mencari Makna (2): Masjid dan Peran-Peran Terlupakan
Usai salat Maghrib berjamaah, tugas kembali menanti. Saat Isya tiba, kami mengingatkan mahasantri untuk bersiap menuju masjid. Memastikan adik-adik tetap semangat adalah tanggung jawab kami. Malamnya, setelah tarawih, kami kembali patungan untuk sahur! Menunya sederhana: kangkung, tempe goreng, dan sambal. Kami menyiapkannya lebih awal agar nanti tinggal dipanaskan. Lelah? Pasti. Tapi lelah yang membuat hati puas.
Dari patungan recehan ini, aku belajar bahwa puasa di perantauan bukan soal kemewahan, melainkan tentang ikhtiar dan kebersamaan. Sebagai pengurus, aku sadar peranku bukan hanya mengoordinasi, tetapi juga menciptakan tradisi agar tim tetap kompak. Akhir pekan tanpa takjil masjid justru menjadi momen terbaik yang membuat Ramadan kali ini penuh berkah.
Untuk teman-teman pengurus di mana pun, jika takjil tidak tersedia, cobalah patungan. Mulai dari sirup dan agar-agar, kalian bisa menciptakan cerita indah yang tak terlupakan.
Baca juga Tarak: Menjadikan Ramadhan yang Bukan Sekedar Puasa

