Tips Mencuci Pakaian Secara Syar’i

..mencuci pakaian menjadi harus diperhatikan. Menggunakan pakaian yang suci adalah salah satu syarat sahnya shalat.

Tsaqafah.id – Pakaian adalah kebutuhan umat manusia, terlebih di zaman modern ini bahkan kita akan berganti pakaian setiap hari. Hingga pakaian yang menumpuk setiap akhir pekan akan menjadi beban hidup manakala belum dicuci. Namun ternyata tidak semua pakaian kotor kita memiliki tingkat kekotoran yang sama, bahkan bisa jadi beberapa terkena najis (mutanajjis) tanpa kita sadari. Padahal pakaian selain digunakan setiap harinya, juga digunakan untuk ibadah shalat.

Karena hal itu maka mencuci pakaian menjadi harus diperhatikan. Menggunakan pakaian yang suci adalah salah satu syarat sahnya shalat.  Berikut diantara tips cara mencuci pakaian agar terbebas dari najis secara syar’i;

Pertama, kita pilah-pilah dulu pakaian berdasarkan tingkat kekotorannya. Kita bisa mengingat-ingat apakah pakaian itu digunakan untuk keluar sehari-hari, main lumpur di sawah, atau tanpa sengaja menduduki kotoran ayam hingga menempel di baju. Kita bisa mengelompokkan menjadi dua jenis, misalnya ember 1 adalah pakaian yang dipakai sehari-hari untuk ke sekolah, ke kampus atau bekerja dan ember 2 adalah pakaian yang terkena najis.

Baca juga; Aktivitas-aktivitas Sunnah Ketika Berpuasa

Kedua, pakaian dalam ember 1 adalah pakaian kotor yang tidak terkena najis, kotornya disebabkan oleh keringat, debu di jalanan, dan lain-lain. Sedangkan pada ember 2 adalah pakaian yang terkena najis, yang secara kasat mata dan melalui indra penciuman dapat kita rasa dengan jelas, misalnya terkena air kencing, kotoran ayam, kotoran kambing, terkena darah, dll.

Ketiga, untuk pakaian yang hanya . . . . . . kotor saja maka kita bisa mencucinya dengan lebih mudah, tidak ada ketentuan pasti dalam syariat mengenai pembersihannya, kita bisa mencucinya sampai dirasa bersih. Kini yang menjadi perhatian kita adalah pakaian yang terkena najis (mutanajjis). Untuk pakaian yang terkena najis maka yang perlu dilakukan adalah membersihkan najisnya terlebih dahulu. Misalnya terkena darah atau kotoran binatang, maka kita bisa mencuci terlebih dahulu bagian yang terkena darah, di ‘ucek-ucek’ sampai tidak lagi mengeluarkan warna merah ketika di peras atau sampai baunya hilang.

Baca juga; Gus Baha: Tidurnya Orang Puasa Apakah Ibadah?

Setelah itu baru bisa dimasukan ke dalam ember untuk direndam kemudian baru dibasuh sampai dapat dipastikan pakaian sudah bebas dari najis, bisa dilihat dari warna dan bau pakaian yang tidak lagi berbau dan berubah menjadi wangi detergen.

Akan tetapi cara mencuci pakaian bisa menjadi berbeda manakala kita mencuci pada tempat yang melimpah persediaan airnya seperti di danau, sungai, atau dalam bak air dengan ketentuan jumlah minimum air adalah 2 kolah menurut Imam An-Nawawi atau sekitar 60 Cm (PxLxT) sama dengan 216 liter . Di tempat seperti ini pakaian yang terkena najis bisa langsung dimasukkan dan dikucek tanpa harus menghilangkan bagian yang terkena najis terlebih dahulu. Hal ini karena pada kolah dengan ukuran minimum 2 kolah atau sungai yang airnya banyak tidak akan merubah sifat-sifat air seperti warna dan bau.

Wallahu a’lam

Referensi : Matan al-Ghayah wa at-Taqrib

Total
0
Shares
Previous Article

8 Syarat dan Tata Cara Istinja (Cebok) Menggunakan Batu

Next Article

Mendebat Ayat Di Lantai Dua Masjid – Sebuah Cerpen Ahmad Segaf

Related Posts