Tren TikTok Berbau “Pornografi”: Bibit Pelecehan Seksual Hingga Hilangnya Moralitas Beragama

Tren TikTok Berbau “Pornografi”: Bibit Pelecehan Seksual Hingga Hilangnya Moralitas Beragama

09 Juli 2023
486 dilihat
4 menits, 26 detik

Tsaqafah.idSebenarnya, fenomena ini tidak hanya baru kali ini terjadi dalam tren TikTok. Melainkan juga sudah berjalan lama semenjak naiknya tingkat konsumsi gadget.

Euforia teknologi sebagai wajah digitalisasi di zaman modern sangat berdampak kepada perilaku masyarakat. Masifnya perkembangan teknologi sudah menjadi keharusan bahkan kebutuhan bagi umat manusia di semua kalangan. Tak hanya di perkotaan, bahkan di daerah terpencil pun masyarakat turut serta mencicipi perkembangan teknologi ini.

Siapa sangka, wajah baru era digitalisasi yang digadang-gadang sebagai puncak kemajuan peradaban justru membawa petaka yang berakibat fatal. Gadget misalnya, bentuknya memang kecil, tapi dampak yang dibawa sangat besar. Di balik manfaat gadget yang banyak, menyimpang beberapa hal yang justru menjadi malapetaka bagi masyarakat. Banyak masyarakat melakukan hal-hal yang tidak senonoh akibat gadget baik itu di dunia nyata maupun dunia maya.

Di dalam gadget, banyak sekali aplikasi-aplikasi yang penulis rasa melanggar norma. Hoax, ucapan kebencian, penipuan bahkan pornografi sudah menjadi makanan sehari-hari di era digitalisasi ini. Bagi yang tidak kuat mental, hal ini sangat berbahaya, semoga saja bisa merespon dengan positif. Sebagai contohnya adalah aplikasi TikTok.

Baca Juga

Lebih fokus lagi, penulis di sini merasa risih dengan penyalahgunaan aplikasi TikTok yang tidak benar. TikTok digunakan untuk bahan konten negatif. Khususnya, konten yang mengandung unsur pornografi. Tren-tren sampah dijadikan budaya di aplikasi TikTok, seperti baru-baru ini tren kartun krisna yang dipotong cuplikan videonya, dengan kata “susu, susu, aku mau susu”, kemudian muncullah template dari aplikasi cap-cut yang diedit dengan foto pribadi perempuan memamerkan bodi dan payudara mereka, bahkan ada dari kalangan umat Islam sendiri. Entah, dimana letak malunya.

Sebenarnya, fenomena ini tidak hanya baru kali ini terjadi dalam tren TikTok. Melainkan juga sudah berjalan lama semenjak naiknya tingkat konsumsi gadget. Namun hal ini semakin banyak terjadi semenjak TikTok datang dengan kemasan cuplikan video singkat. Miris sekali jika tren-tren semcam ini mendarah daging tanpa adanya langkah preventif mengatasi fenomena ini.

Penulis tidak sepenuhnya mengklaim aplikasi TikTok dipenuhi oleh konten negatif, tapi penyalahgunaan ini perlu diatasi. Banyak sekali konten TikTok yang membawa kepada majunya negara, dakwah, hiburan dan sebagainya. Namun penulis tidak setuju dengan tren berbau negatif (pornografi), karena dapat menimbulkan birahi dari lawan jenis dan khawatirnya dilampiaskan kepada orang lain yang kemudian berujung pelecehan seksual.

Baca Juga Menjumpai Kristen Madura, Akhmad Siddiq: Tumbuh atas Rasa Kekeluargaan

Hal ini akan berimbas kepada semua kalangan, tidak memandang usia, tua ataupun muda, karena penontonnya bersifat umum. Mirisnya lagi anak usia dibawah umur yang berani melakukan hal yang tidak senonoh. Mungkin sebagian orang tidak setuju dengan pendapat ini, karena mereka menilai aksi itu tergantung dari pribadi masing-masing. Memang benar, akan tetapi pikiran seorang mejadi kotor akibat lingkungan atau tontonan yang kotor. Sebagian orang mampu menahannya, lalu sebagian yang lain melampiaskannya dengan hal yang tidak wajar, yang semestinya tidak dilakukan.

Menurut teori behavioristik dalam ilmu Psikologi, manusia dipandang sebagai homo mechanicus, yaitu manusia mesin. Behavior memandang individu manusia yang dikendalikan oleh faktor lingkungan. Perilaku manusia muncul karena adanya stimulus dan respon. Sama halnya dengan muculnya konten tersebut, maka respon yang terjadi adalah keinginan kuat untuk melakukan seksual yang diakibatkan oleh tren tersebut, kemudian berujung aksi pelecehan seksual.

Cara ampuh mengobatinya dalam teori ini adalah mengubah stimulus dengan menghilangkan konten negatif tersebut, yaitu meng-unistal aplikasi TikTok dari pribadi masing-masing atau diberlakukannya penghapusan oleh pihak TikTok terhadap konten yang mengandung pornografi. Sehingga respon yang semula itu ingin melakukan pelecehan semisal, lama-kelamaan hal itu bisa menghilang karena tontonan dan lingkungannya berubah.

Baca Juga Fenomena Habib, Identitas Arab dan Sikap Kita

Di satu sisi, kerap kali umat Islam sendiri mengikuti tren memamerkan lekuk tubuh, bahkan memakai busana terbuka demi adsense. Banyak ditemukan, konten kreator atau artis TikTok ketika sudah sukses, malah melepas hijab, joget-joget dan memamerkan tubuh mereka. Entah, penulis tidak mengerti sampai segitunya mencari uang dengan menjual keyakinan. Padahal sangat jelas bahwa agama Islam melarang memamerkan aurat karena dapat mengundang syahwat. Moralitas beragama kian hari kiat menghilang.

Dulu, ada sahabat bernama Su’airah Al-Asadiyah yang mengalami penyakit ayan (epilepsi). Apabila penyakit itu kambuh, otomatis perempuan ini auratnya terbuka. Dalam hadis Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa Su’airah meminta doa kepada Allah melalui perantara Nabi Muhammad untuk disembuhkan karena pada saat kambuh auratnya terbuka, namun kata Nabi jika perempuan itu ingin masuk surga dengan mudah maka hendaknya ia bersabar dengan penyakit itu. Kemudian, Su’airah meminta doa agar auratnya tidak terbuka pada saat kambuh.

Oleh sebab itu kita perlu untuk mempertahankan ajaran Islam. Moralitas beragama meski berada di era modern harus tetap dijaga dan dilaksanakan. Sebab Islam jika generasinya seperti ini, dapat mengakibatkan keruntuhan beragama. Tak hanya itu, perlu kiranya ketegasan pemerintah dalam menanggapi problematika ini. Kasus pelecehan seksual tidak semena-mena dilakukan secara spontan, pasti ada latar belakang yang kuat untuk melakukan itu, salah satunya kebebasan tontonan yang berbau pornografi.

Cara Meredam Syahwat Perspektif Islam

Dalam Islam, terdapat anjuran dalam menjaga syahwat agar tidak terjerumus kepada zina ataupun pemerkosaan. Langkah utama yang dianjurkan dari sabda nabi Muhammad SAW. Rasululah bersabda:

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ, فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ, وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ, وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud ra. berkata: ‘Rasulullah saw bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” (Muttafaq ‘Alaih).

Baca Juga

Konsep ajaran nabi Muhammad yang dianjurkan ketika syahwat ngelunjak adalah dengan menikah. Jika tidak bisa menahan syahwat serta memiliki syahwat yang tinggi kepada lawan jenis (kebelet), maka sangat dianjurkan untuk berpuasa, karena puasa adalah salah satu melemahkan syahwat.

Imam Ghazali dalam kitabnya ihya’ Ulumuddin menjelaskan, salah satu cara mengendalikan hawa nafsu adalah dengan mempersedikit makan. Menurut beliau sumber segala maksiat adalah nafsu /syahwat dan kekuatan. Bahkan kekuatan dan nafsu syahwat bersumber dari makanan. Maka menyedikitkan makan dapat melemahkan setiap nafsu syahwat.

Sebenarnya banyak cara lain untuk meredam syahwat. Tapi tidak ada gunanya jika syahwat kita berusaha diredam namun lingkungan masih kotor. Maka perlu kerja sama agar hal yang tidak diinginkan terjadi. Sudah sepantasnya sebagai muslim yang baik menjalankan ajaran yang benar. Laki-laki mulia karena tanggung jawabnya, dan perempuan mulia karena kehormatannya. Wallahu A’lam.

Profil Penulis
Abdul Munem Choiri
Abdul Munem Choiri
Penulis Tsaqafah.id

1 Artikel

SELENGKAPNYA