Ramadan yang Fatherless

Ramadan yang Fatherless

11 Maret 2025
220 dilihat
3 menits, 17 detik

Tsaqafah.id- Ramadan ini suami saya mengemban tugas mengisi kajian sehabis subuh selama sebulan penuh. Beberapa hari lalu, bapaknya anak-anak itu iseng mengajak putri pertama kami. Alih-alih antusias tidur lagi, si mbarep justru semangat mengiyakan ajakan ayahnya. Jadilah selepas shalat subuh, dengan muka bantal dan sekadar mengganti celana pendeknya dengan celana panjang, ia mengekor ayahnya ngaji.

Awalnya itu hanya berlangsung di hari libur. Tapi kemudian berlanjut sampai hari-hari sekolah.

Saya melihat mereka berdua jadi lebih mesra dari biasanya. Si anak pertama ini juga jadi minim drama sebelum berangkat sekolah. Ditemani ayahnya, dia bahkan mau mandi dan siap-siap berangkat sekolah sendiri. Hal yang langka terjadi saat bersama saya, ibunya.

Melihat kemesraan bapak-anak ini saya jadi cemburu. Mungkin tepatnya mengasihani diri sendiri. Sebagai seorang anak, kini saya tidak bisa lagi bermesraan dengan sosok ayah.

Baca juga: Mengenal Habib Umar bin Ismail bin Yahya: Pendiri Tarekat Asy-Syahadatain Cirebon

***

Entah apa sebuah kebetulan, momen Ramadan di masa kecil saya juga adalah momen intimate dengan Bapak. Sebagai pemegang kompas keberagamaan di keluarga, Bapak merancang berbagai aktivitas Ramadan yang wajib hukumnya saya ikuti.

Bermula di sore hari, saya harus ikut ngaji di musala bersama anak-anak lain yang diampu oleh Bapak sendiri. Kami belajar membaca Al-Quran dan kemudian mendapat sedikit materi akidah, fikih, dan akhlak dari kitab Sullamut Taufiq. Tinggal di lingkungan perumahan yang jauh dari kultur santri, itulah persinggungan kali pertama saya dengan kitab kuning, dalam bentuk terjemahnya dengan sampul berwarna magenta yang masih saya ingat jelas.

Sekali dua kali Bapak akan memberikan ujian berupa soal-soal lisan atau tertulis pada kami. Saya masih ingat sensasi kompetisi itu, ingin menjadi peraih nilai tertinggi di kelompok kecil tersebut.

Selepas mengaji, kami berbuka bersama di musala dengan takjil pemberian tetangga yang dijadwal bergilir, sebelum kemudian shalat maghrib berjamaah diimami Bapak.

Saya dan Bapak, tentu saja, akan pulang sebentar untuk makan besar (nasi) sebelum kembali lagi ke musala melaksanakan jamaah Isya sekaligus tarawih. Lagi-lagi Bapak yang jadi imamnya. Peran itulah yang membuat saya jadi terbebani untuk ikut 23 rakaat penuh, karena bukankah anak Pak Imam harus memberi contoh yang baik kepada teman-temannya? Huft.

Setelah tarawih berakhir, kami, para anak-anak dan remaja masih akan tinggal di musala untuk tadarus bersama: mengkhatamkan Al-Quran dengan membaca bergiliran lewat pengeras suara. Lagi-lagi Bapak akan ada di sana untuk memantau sambil mengkhatamkan bacaan qurannya sendiri. Kadang kami akan pulang bersama, tapi lebih sering Bapak tinggal di musala hingga larut, sementara saya memberanikan diri untuk pulang ke rumah yang jaraknya paling jauh dari musala, dibanding teman-teman yang lain.

Begitulah Ramadan masa kecil saya dikawal Bapak dengan berbagai kegiatan dari sore hingga menjelang tidur. Di titik ini, jujur, saya tidak banyak mengenang peran Ibu, selain membuatkan setup pisang kolang-kaling dengan rasa kayu manis yang kuat.

Baca juga: Semangkuk Bakso Sebelum Ramadan

Di penghujung Ramadan, Bapak juga akan jadi komandan takbir keliling. Anak-anak di perumahan kami akan bergabung dengan squad dari kampung-kampung sekitar untuk takbiran bersama di rute yang telah ditentukan. Kegiatan itu juga jadi ajang lomba kreativitas antar kelompok dalam menghias obor berikut kekompakan takbir.

Bapak akan mengumpulkan bambu untuk kami termasuk turut menghias dan mengisinya dengan minyak tanah, mencarikan piranti-piranti perkusi untuk mengiringi gema takbir kami.

Ah ya, saya ingat. Sebelum Ramadan saya juga akan membantu Bapak membagikan jadwal takjil ke tetangga-tetangga. Saya, para anak-anak, dan remaja tanggung juga akan diperintah membersihkan masjid, menyiram lantainya sampai benar-benar licin.

Kalau dipikir-pikir, bisa-bisanya Bapak punya sebanyak itu kegiatan Ramadan di masyarakat, lepas dari pekerjaannya mengajar sebagai guru MI. Dan betapa dominannya ia saat itu. Mungkin karena perannya sebagai takmir masjid atau ada penjelasan lain.

Yang jelas Bapak adalah variabel paling tak terpisahkan dari Ramadan di masa kecil saya. Intensitas kebersamaan kami meningkat dibanding bulan-bulan lainnya. Ini lah yang hari ini saya kira sedang terjadi dengan anak sulung saya.

Saya belum pernah sampai pada kesimpulan apakah saya ini generasi fatherless atau tidak. Tapi yang jelas, ada satu titik dalam kehidupan masa kecil saya di mana kehadiran dan sentuhan Bapak sangat nyata dan terasa: di bulan Ramadan.

Fatherless bisa jadi karena dua alasan: by choice or no choice. Tahun ini, sebagaimana tahun lalu, Ramadan saya adalah Ramadan yang fatherless. With no choice.

***

Seseorang di media sosial pernah meriwayatkan dhawuh Gus Baha. “Bakti anak kepada orang tua tidak bergantung pada usia orang tua, tetapi usia anak.” Yang artinya meskipun orang tua telah tiada, anak masih bisa melakukan sesuatu untuk mereka, tak lain dengan mengirimkan sepenggal dua penggal doa.

Tanpa menelusuri sumbernya secara lebih akurat, saya memilih percaya kalimat itu. Kalimat yang membesarkan hati saya ketika sosok ayah sudah tak lagi di sisi.

Peluk untuk seluruh sobat yatim di manapun berada.

Profil Penulis
khalimatunisa
khalimatunisa
Penulis Tsaqafah.id
Alumni CRCS UGM dan PP Al-Munawwir Krapyak, bisa dihubungi di [email protected]

26 Artikel

SELENGKAPNYA