Siapa yang bisa dengar azan di kereta? No one. Tasbih digital, aplikasi islami, bahkan mungkin hanya nuonline yang ngasih tahu. Tak ada azan magrib bahkan jika semua komuter itu muslim.
Tsaqafah.id – Suatu hari, saya menyengaja pergi ke suatu tempat di selatan Jakarta, sekadar ingin menjumpai perasaan manusia yang memeras keringat buat keluarga di petang sebelum magrib menjelang.
Upaya yang terawat sejak sekian purnama itu terasa seperti mimpi buruk di malam yang gerah. Pikiran hanya berhenti pada agar waktu benar-benar bergerak cepat sampai di tujuan dengan tepat.
Bayangkan, saya menunda naik Kereta Rel Listrik (KRL) sebanyak empat kali. Sengaja mendahulukan mereka yang lesu pulang kerja, menjemput moment berbuka bersama keluarga, selain karena memang sepenuh itu.
Sejak penundaan pertama, saya cukup yakin orang-orang yang pulang kerja layak mendapat tempat di awal. Tapi, banyak yang maksain masuk, sebanyak yang istigfar di rasuk.
Baca Juga Lets God will be done
Saat di peron, saya mempersilakan 12, 10, 8 gerbong kereta melintas begitu saja. Berpindah pintu kereta sebanyak empat kali. Dari mulai gerbong terdepan, mundur ke belakang, sampai ke gerbong paling tengah.
Anak muda sampai orang tua, laki-laki dan perempuan berebut oksigen di kereta. Tidur, pura-pura merem, melamun, scroll tiktok, dengerin podcast densu, chattingan, sampai ngangkat vc anak-anak di rumah jadi ritual komuter jelang azan tiba.
Tak ada ruang privat di kereta. Begitu halnya dengan sepinya ruang berempati. Segala gelagat diendus sebagai gerak yang mencurigakan. Pahit. Semua pasang mata saling menatap dengan tatapan getir, pedih yang disimpan masing-masing.
Siapa yang bisa dengar azan di kereta? No one. Tasbih digital, aplikasi islami, bahkan mungkin hanya nuonline yang ngasih tahu. Tak ada azan magrib bahkan jika semua komuter itu muslim.
Baca Juga Arisan dan Sekufunya
Tapi toh itu tetap jadi ritual pulang yang lebih syahdu daripada pulang-pulang yang lalu.
Tawa riang anak, aroma sedap masakan di dapur, melipat lesu itu jauh-jauh, dan menggantinya dengan tabiat baik sebuah kehangatan. Kehangatan dari menyambut magrib di rumah, buka bersama keluarga.
Kerja adalah ibadah, begitu halnya mencintai Ramadan sama berharganya dengan mencintai apa yang kita lakukan dalam urusan kerja.
Karena prinsip kerja itu satu, itqan alias profesional. semampunya, sekuat-kuatnya mengalihkan rasa dendam pribadi atas lelah pada keinginan untuk berada di lingkungan yang membangun, dan tentu, jadi manusia paling bermanfaat bagi sesama.

