Tsaqafah.id – Ada kabar dari Pemalang yang bikin jidat saya berkerut sambil senyum-senyum sendiri, bentrokan antara PWI-LS dan FPI. Lah, ini dua-duanya ormas Islam, satunya ngaku-ngaku pembela Walisongo, satunya merasa paling islami sedunia, eh kok malah adu jotos di lapangan. Lah ini dakwah atau MMA?
Kalau Gus Dur masih hidup, mungkin beliau sudah geleng-geleng kepala sambil nyeletuk,
“Lho iki lucu, wong satu takbiran, satu shalawatan, kok malah gebug-gebugan? Kan bisa tukar kiai saja, bukan tukar bogem.”
Yang satu teriak, “Allahu Akbar! Bela Walisongo!” Satunya lagi jawab, “Allahu Akbar! Bela Islam!”
Baca Juga Melihat Syi’ah Lebih Dekat
Lah Allah-nya sama, Nabi-nya sama, kiblatnya sama, eh musuhnya malah sesama. Ini kayak rebutan sendok waktu buka puasa, padahal nasinya cuma satu piring.
Saya jadi curiga, jangan-jangan bentroknya bukan karena beda prinsip, tapi karena rebutan panggung ceramah. Mungkin mikrofon cuma satu, atau penceramah rebutan live TikTok. Wong zaman sekarang, yang penting viral, bukan faidah.
Gus Dur pernah bilang, “Yang lebih berbahaya dari kebodohan adalah kebodohan yang merasa paling benar.”
Nah, ini dia. Dua-duanya merasa paling islami, paling waras, padahal kalau dilihat dari cara berkelahinya, malah lebih mirip suporter bola yang salah tribun.
Baca Juga Membaca Kisah Dzulkarnain dengan Pendekatan Psikolinguistik
Harusnya PWI-LS itu ngajak ngaji, bukan ngajak gelut. FPI juga kalau memang cinta Islam, ya kasih contoh akhlak, bukan adu otot. Wong Islam itu dulu dikenal karena akhlak Nabi, bukan karena viral bentrokan.
Coba kalau Walisongo masih hidup dan lihat ini? Mungkin mereka langsung turun tangan, bukan untuk pisahin, tapi nyuruh dua-duanya ngaji ulang dari kitab akhlak.
Ayo dong, PWI-LS, FPI, sampeyan itu saudara seiman, bukan rival sinetron azab. Mari kita buktikan kalau Islam itu membawa rahmat, bukan rawat inap.
Sing sholawatan, sholawatan sing tenang. Sing takbiran, takbiran sing adem. Sing jotosan, pulang dulu, mandi terus istigfar.
Baca Juga Lirik Lagu Jadi Doa: Refleksi Lagu “Tanda” Yura Yunita dalam Perspektif Al-Qur’an
“Yang satu ngga percaya nasab, yang satu ngga percaya diri. Ya sama-sama repot!”
Kita ini bangsa Indonesia, bukan suku Quraisy. Tradisi kita ya guyub, bukan gebuk. Wong kalau cuma ribut nasab, ya mending tanya ke Dukcapil sekalian, atau tanya ke Pak RT. Jangan sampai Pemalang berubah jadi ring tinju spiritual, dan merembet ke daerah lainnya cuma karena dua kelompok over claim dan under control.
Saya cuma rakyat NU yang biasa sowan kiai, nyangking kitab, dan kadang nonton sinetron India sambil makan tahu petis, telo dan kopi. Tapi saya ngerti satu hal:”Cinta Nabi bukan diukur dari seberapa keras kita membela, tapi seberapa lembut kita meneladani.”

