Membaca Kisah Dzulkarnain dengan Pendekatan Psikolinguistik

Membaca Kisah Dzulkarnain dengan Pendekatan Psikolinguistik

20 Juli 2025
212 dilihat
3 menits, 37 detik

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang tidak hanya mengandung hukum dan petunjuk, tetapi juga sarat dengan ekspresi emosional yang dalam dan menyentuh sisi psikologis manusia. Setiap ayatnya membawa daya ungkap yang bukan hanya retoris, tetapi juga membentuk dinamika batin pembacanya.

Dalam hal ini, ekspresi bahasa Al-Qur’an dalam kisah Dzulkarnain menjadi salah satu contoh menarik untuk dikaji dari perspektif psikolinguistik, karena kisah tersebut mengandung pesan-pesan kejiwaan yang mendalam, mencerminkan sosok pemimpin yang tangguh, adil, dan empatik.

Kajian ini mengangkat pendekatan ilmu اللغة النفسية (psikolinguistik) sebagai metode untuk menelaah ayat-ayat al-Qur’an, khususnya dalam Surat al-Kahfi yang menceritakan tentang sosok Dzulkarnain. Pendekatan ini memadukan antara aspek linguistik (seperti fonetik, morfologi, dan sintaksis) dengan aspek psikologis guna memahami dinamika makna dan emosi yang muncul dari struktur bahasa al-Qur’an.

Sebagaimana dijelaskan oleh Marwa Muhammad Abdul Azim dalam artikelnya “التعبير القرآني في قصة ذي القرنين في ضوء علم اللغة النفسي” yang dimuat dalam مجلة كلية اللغة العربية بالمنوفية, bahwa pemahaman psikologis terhadap ekspresi linguistik mampu mengungkap rahasia makna yang tersembunyi di balik susunan kata dan irama bunyi dalam ayat-ayat kisah tersebut. Dalam perspektif psikolinguistik, penting untuk memperhatikan relasi antara bentuk-bentuk bunyi (الصوت), struktur kalimat (التركيب), dan konteks emosional (السياق العاطفي) dalam memahami pesan-pesan al-Qur’an. Misalnya, dalam kisah Dzulkarnain, penggunaan konsonan kuat dan vokal panjang mengandung muatan emosional yang menunjukkan ketegasan, kelembutan, ataupun peringatan.

Baca juga: Kisah Pertemuan Dua Wali Allah

Pendekatan ini sejalan dengan pendapat Imam Abdul Qahir al-Jurjani yang mengatakan:
bahwa “الألفاظ خدم للمعاني وتابعة لها” artinya: “lafal-lafal adalah pelayan bagi makna dan mengikuti makna itu sendiri”, maka pendekatan psikolinguistik yang mengkaji hubungan antara bunyi, struktur kalimat, dan konteks emosional menjadi relevan dalam memahami kedalaman pesan-pesan al-Qur’an, termasuk dalam narasi kisah Dzulkarnain.

Adapun pentingnya mengkaji ekspresi kejiwaan dalam kisah ini juga didukung oleh teori-teori dalam ilmu bahasa psikologis modern yang menekankan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cerminan dunia batin. Bahkan dalam tradisi klasik, para ulama telah menyadari hal ini, sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Rafi’i dalam menafsirkan gaya bahasa al-Qur’an:


“جعل من نظمه طريقة نفسية في الطريقة اللسانية”

Artinya: “Allah menjadikan susunan ayat-ayat-Nya sebagai metode psikologis dalam gaya linguistiknya.”

Analisis Psikolinguistik terhadap Fonologi dan Sintaksis Narasi Dzulkarnain


قَالَ أَمَّا مَن ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُّكْرًا – (QS. Al-Kahfi: 87)
قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي ۖ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا – (QS. Al-Kahfi: 98)

Kedua ayat ini merupakan bagian penting dari narasi kisah Dzulkarnain dalam Al-Qur’an yang tidak hanya menyampaikan peristiwa, tetapi juga mengandung muatan ekspresif dan emosional yang kuat. Dalam kerangka psikolinguistik, ayat-ayat tersebut dapat dianalisis dari aspek bentuk bunyi (الصوت) dan struktur kalimat (التركيب) untuk mengungkap lapisan makna psikologis yang tersembunyi di balik susunan kata.

Bentuk-bentuk bunyi dalam kisah Dzulkarnain memberikan pengaruh besar terhadap pesan psikologis yang ingin disampaikan al-Qur’an. Dalam ayat-ayat tersebut, ditemukan dominasi huruf-huruf konsonan kuat (الشديدة) dan huruf-huruf mufakhkhamah (tebal) seperti ق (qaf), ط (tha), ض (dhad), dan د (dal), yang ketika diucapkan menghasilkan tekanan suara tinggi dan kesan yang kuat. Selain itu, penggunaan vokal panjang seperti alif (ا), waw (و), dan ya (ي) menambah efek kemegahan dan kedalaman emosional, menciptakan suasana yang mendukung citra Dzulkarnain sebagai pemimpin agung dan penuh wibawa.

Baca juga: Kisah Hidup Syaikh Mulla Romdlon Al-Buthi

Pengaruh bunyi-bunyi tersebut tidak hanya bersifat estetik, tetapi juga membawa efek psikologis yang dalam. Konsonan kuat seperti ق dan ط menegaskan karakter kepemimpinan yang tegas, sementara vokal panjang seperti آ atau و memberi kesan keluasan dan ketenangan. Pola ini sejalan dengan konsep psikolinguistik, di mana unsur fonetik memiliki peran dalam membentuk persepsi emosional pembaca atau pendengar. Al-Qur’an, dengan keindahan dan ketepatan bunyinya, menyusun kata-kata dalam kisah ini untuk menciptakan respons psikologis tertentu yang mencerminkan kekuatan, keadilan, dan ketegasan Dzulkarnain dalam menjalankan misinya.

Penjelasan ini diperkuat oleh pandangan Imam Abdul Qahir al-Jurjani dalam karyanya Asrar al-Balāghah. Beliau menyatakan bahwa makna yang kuat dalam sebuah ucapan akan tampak melalui kekuatan lafalnya. Ia berkata:

“ومن قوة المعنى قوة اللفظ، فإن الحروف إذا اجتمعت على وجه خاص جاءت بما لا يكون لغيرها من التأثير.”

Artinya: “Dari kekuatan makna timbullah kekuatan lafal, karena huruf-huruf jika dikombinasikan secara khusus akan menghasilkan pengaruh yang tidak dimiliki oleh bentuk lainnya.”

Selain aspek fonetik, struktur kalimat dalam kisah Dzulkarnain juga memperkuat kesan psikologis yang ingin dibentuk. Kalimat-kalimat dalam narasi ini disusun secara tegas dan langsung pada inti tujuan, mencerminkan karakter kepemimpinan yang jelas dan penuh ketegasan. Salah satu ciri menonjol dari struktur tersebut adalah dominannya penggunaan fi’il madhi (kata kerja bentuk lampau), yang memberikan kesan kuat terhadap kepastian tindakan dan kejelasan keputusan.

Contohnya dapat dilihat dalam ayat-ayat seperti: قال (Dia berkata), سوف نعذبه (Kami pasti akan mengazabnya), dan جعله دكّاء (Dia jadikan itu rata). Kalimat seperti ini tidak hanya menunjukkan narasi, tetapi juga mengekspresikan kepribadian pemimpin yang tidak ragu dalam bertindak serta memiliki visi dan misi yang terang.

Dalam perspektif psikolinguistik, bentuk lampau yang digunakan secara konsisten tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga sebagai penanda kepastian aksi, yang memiliki efek psikologis terhadap pendengar atau pembaca. Ketika Allah mengabadikan ucapan dan tindakan Dzulkarnain dengan bentuk lampau, hal itu menciptakan kesan bahwa segala keputusan telah ditimbang secara matang dan dilakukan dengan penuh otoritas. Ini menambah bobot emosional narasi dan memperkuat keteladanan figur kepemimpinan dalam kisah tersebut.

Hal ini sejalan dengan pandangan Imam al-Zamakhsyari dalam tafsirnya al-Kasysyaf, bahwa penggunaan fi’il madhi dalam al-Qur’an tidak semata untuk menunjukkan masa lampau, melainkan juga digunakan untuk mengungkapkan “taḥqīq al-wuqu’” (تحقيق الوقوع) yaitu kepastian dan keteguhan terjadinya suatu peristiwa, bahkan jika ia merujuk pada masa depan. Beliau menyatakan hal ini ketika menafsirkan bentuk-bentuk kalimat dalam al-Qur’an yang menggunakan kata kerja lampau dalam konteks janji atau ancaman ilahi.

Profil Penulis
Avika Afdiana Khumaedi
Avika Afdiana Khumaedi
Penulis Tsaqafah.id
Saya Avika Afdiana Khumaedi, akademisi Pendidikan di bidang agama dan sosial, sekarang sibuk mengajar dan belajar bermasyarakat dengan komunitas keperempuanan. Saya aktif dalam kegiatan volunter lingkungan hidup dan literasi. Saya Lulusan dari Pondok Pesantren Al-Hikmah 2 Brebes dan pernah menjabat sebagai ketua Fatayat NU Maroko periode 2020-2022.

13 Artikel

SELENGKAPNYA