Keserakahan ekonomi di sini tidak selalu berbentuk akumulasi harta pribadi tetapi juga dapat muncul dalam wujud penyalahgunaan kekuasaan yang menguntungkan kelompok tertentu dengan dalih pemerataan
Tsaqafah.id – Sepanjang sejarah ekonomi dunia berbagai sistem telah lahir, tumbuh, dipuji, lalu dikritisi. Kapitalisme sering dianggap sebagai motor pertumbuhan yang mendorong inovasi. Sosialisme dipandang sebagai upaya meraih pemerataan.
Komunisme, neoliberalisme dan beragam isme lainnya pun pernah hadir membawa janji kesejahteraan. Namun dibalik semua itu ada satu kekuatan laten yang kerap menjadi penggerak sekaligus perusak yaitu keserakahan.
Dari sinilah lahir fenomena yang dapat disebut sebagai Serakahnomic yaitu sebuah pola ekonomi yang menjadikan kerakusan sebagai energi utama yang menggerogoti setiap sistem yang ada bahkan yang digadang gadang paling adil sekalipun.
Serakahnomic bukanlah teori ekonomi formal melainkan refleksi realitas. Ia hadir ketika motif akumulasi kekayaan pribadi atau kelompok mendominasi rasionalitas ekonomi.
Dalam kapitalisme, keserakahan kerap dianggap bagian dari mekanisme pasar. Dorongan mencari keuntungan disebut sebagai motor inovasi dan kompetisi. Namun, ketika dorongan ini melampaui batas etika maka lahirlah monopoli eksploitasi tenaga kerja, manipulasi pasar, dan krisis keuangan yang menghantam banyak pihak, sementara segelintir elit justru semakin makmur.
Baca juga Nganggur.. Kapan Kita sudahi?
Salah satu contoh nyata adalah krisis finansial global yang dipicu oleh praktik keuangan yang rakus dan tidak terkendali.Di sisi lain, sosialisme yang mengusung pemerataan pun tidak kebal terhadap Serakahnomic.
Dalam sejarah, beberapa negara sosialis gagal menghindari kemunculan kelompok elite baru yang memanfaatkan kontrol negara atas sumber daya untuk kepentingan sendiri. Kekuasaan ekonomi yang terpusat sering kali menciptakan korupsi yang meluas sehingga rakyat tetap tidak merasakan janji keadilan yang disuarakan.
Keserakahan di sini tidak selalu berbentuk akumulasi harta pribadi tetapi juga dapat muncul dalam wujud penyalahgunaan kekuasaan yang menguntungkan kelompok tertentu dengan dalih pemerataan.
Pertanyaannya, adakah sistem yang benar-benar bebas dari Serakahnomic? Bahkan ekonomi berbasis agama termasuk ekonomi Islam dapat terinfeksi jika nilai moralnya dikompromikan. Zakat, wakaf, dan filantropi lainnya dapat disalahgunakan untuk kepentingan politik.
Investasi syariah pun tidak luput dari risiko praktik rente yang hanya berbalut label halal. Serakahnomic bukan sekadar masalah struktur tetapi juga masalah sifat dasar manusia yang tidak dibatasi dengan tegas.
Mengapa Serakahnomic begitu kuat? Salah satu alasannya adalah sifat keserakahan itu sendiri yang adaptif. Ia dapat hidup dalam pasar bebas yang liberal di negara dengan kendali ekonomi yang ketat bahkan di komunitas kecil yang konon egaliter.
Keserakahan menyusup melalui celah regulasi dengan lemahnya pengawasan dan melalui pembenaran moral yang dibelokkan. Ketika mekanisme pengawasan dan keseimbangan melemah Serakahnomic akan tumbuh subur.
Baca juga Potret Ekonomi Islam: Refleksi Pemikiran Karl Marx
Dalam skala global fenomena seperti tempat persembunyian pajak, sistem perbankan bayangan, dan akumulasi kekayaan oleh segelintir orang adalah gejala nyata bahwa kerakusan telah mengendalikan aturan main.
Dampaknya tidak main-main. Ketimpangan ekonomi semakin melebar, kepercayaan terhadap institusi publik menurun, dan keberlanjutan lingkungan dikorbankan demi keuntungan jangka pendek. Krisis iklim kerusakan hutan dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali sebagian besar berakar pada Serakahnomic yang selalu menginginkan pengambilan sebanyak mungkin tanpa memperhitungkan generasi mendatang.
Apakah Serakahnomic dapat dihentikan? Mungkin bukan pada penghapusan total, sebab keserakahan adalah bagian dari sifat manusia, melainkan pada pengendalian regulasi yang ketat dan rekayasa insentif yang berpihak pada keadilan.
Pendidikan etika bisnis, penerapan pajak progresif yang efektif, transparansi dalam pengelolaan kekayaan negara hingga pemberdayaan masyarakat sipil adalah bagian dari strategi untuk mengikis pengaruh Serakahnomic.
Dalam lingkup global, kesadaran bersama untuk tidak terus menerus mengukur kemajuan hanya dengan indikator pertumbuhan ekonomi juga sangat mendesak untuk diperkuat.
Pada akhirnya Serakahnomic adalah cermin gelap ekonomi manusia. Ia menunjukkan bahwa sehebat apa pun ideologi dan seindah apa pun rancangan sistem, jika manusia di dalamnya dikuasai oleh keserakahan, maka sistem itu hanya akan menjadi panggung bagi kerakusan untuk berjaya.
Kapitalisme, sosialisme, komunisme bahkan ekonomi berbasis keadilan sekalipun dapat runtuh dari dalam ketika Serakahnomic berkuasa. Maka tantangan abad ini bukan lagi sekadar memilih sistem tetapi menundukkan sifat rakus yang terus berevolusi mengikuti zaman.

