Saat banyak orang nganggur dan suatu pekerjaan paruh waktu berubah menjadi laiknya pekerjaan full time, sepertinya yang perlu kita selidiki adalah, how did this happen?
Tsaqafah.id – Berbicara soal pengangguran di negeri ini memang kian hari kian memprihatinkan. Dulu orangtua menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan formal kantoran atau jadi PNS lah ya. Tak tanggung-tanggung, per hektar sawah dan kebun rela dijual buat biaya sekolah anak di kota.
Namun, impian para orangtua boomers dan X kini makin ditantang zaman. Mungkin bagi generasi milenial sebelum tahun 90an, mereka masih menikmati masa moncer, lulus kuliah langsung cepet dapat kerja di corporate atau sektor UMKM. Sayangnya, situasi berubah sejak negara api menyerang, yaitu pandemi Covid-19 lalu, dimana dampaknya tak tanggung-tanggung, banyak perusahaan melakukan layoff pekerja karena permintaan menurun dan cost produksi harus ditekan.
Saat pandemi berlangsung dan puluhan hotel, rumah makan, bahkan diikuti pabrik-pabrik merumahkan pegawainya. Manusia pasca pandemi jelas ditantang oleh dinamika yang berbeda dalam membuka jalan memperoleh maisyah.
Dunia selalu terus berubah, survey McKinsey terbaru mendata berbagai pekerjaan yang akan lenyap pada 2030; diantaranya adalah petugas administrasi, teller dan perkasiran, desain grafis, telemarketer, agen perjalanan, pergudangan, operator mesin, dll.
Baca juga : Semua itu adalah Jarak
Dari itu agaknya kita hanya akan kecewa jika dengan sekolah berharap dapat pekerjaan propper menurut orang-orang secara umum. Apalagi in this economy, tatkala kita mulai sadar bahwa bonus demografi penduduk negeri ini belum bisa dimanfaatkan secara maksimal. Berbagai kebijakan pemerintah jelas masih jauh dari preferensi ideal mengenai berlimpahnya penduduk dalam usia produktif.
Seperti hari ini, fenomena yang jelas bisa kita lihat salah satunya adalah ojek online (ojol). Kini menjadi ojol adalah suatu pekerjaan yang diburu dan bukan lagi pekerjaan sampingan. Padahal di tahun 2017 lalu saat saya masih kuliah, dan sering naik ojol, para driver yang saya temui umumnya punya pekerjaan lain. Berbeda dengan hari ini, ketika saya kembali naik ojol, dan saya temukan hampir semua driver yang saya temui menceritakan menggantungkan pendapatannya dengan full seharian narik, dari pagi subuh sampai malam hari.
Kondisi itu jelas memperlihatkan bagaimana kini sebuah pekerjaan paruh waktu berubah menjadi tumpuan dan pekerjaan full time. Para pengemudi ojol pun terus melakukan tuntutan, dari tahun ke tahun demonstrasi ke perusahaan ojol terus dilakukan dengan permintaan mengangkat driver sebagai pekerja tetap bukan mitra. Namun, sepertinya hal itu adalah pekerjaan multidimensi yang menantang.
Saat banyak orang nganggur dan suatu pekerjaan paruh waktu berubah menjadi laiknya pekerjaan full time, sepertinya yang perlu kita selidiki adalah, how did this happen?
Kita menjadi perlu melihat lanskap ketenagakerjaan dan kebijakan ekonomi secara menyeluruh. Selama pasca pandemi, efek dari kegagalan pemerintah memitigasi ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global kita rasakan. Kita runut aja, banyaknya pabrik yang tutup operasi jelas mengindikasikan produksi dalam negeri tak mampu lagi bersaing baik dalam pasar domestik sendiri atau di pasar global.
Dan di saat bersamaan justru kita menikmati serbuan barang dari negeri tirai bambu, mulai dari perihal pakaian, alas kaki, elektronik, peralatan sekolah, kertas, peralatan dapur, semuanya diserbu oleh barang dari China. Kita jadi bertanya pula, apa dalam negeri kita tak mampu memproduksi semua barang-barang tersebut?
Jawabannya tentu saja mampu kan ya, hanya saja siapa yang mau menjual barang dengan angka produksi yang lebih tinggi yang pada akhirnya barangnya juga jadi lebih mahal. Dalam hal ini kita dibuat takjub oleh China, mereka memiliki skala produksi yang luar biasa sehingga menekan biaya produksi dengan angka yang signifikan. Terlebih pemerintah China juga telah melakukan berbagai kebijakan yang mendukung skala produksi dalam negeri terus meningkat. Bahkan pemerintah China telah menghapus pajak ekspor (china-briefing.com).
Tak heran jika saat saya berkunjung ke suatu swalayan beberapa hari lalu, hampir semua barang made in China. Luar biasa, ucap saya dalam hati. Benar ternyata perkataan Pram beberapa dekade lalu, bahwa raksasa jompo (China) akan segera bangkit lagi, dan sekarang agaknya raksasa jompo itu sudah bangkit, dan bahkan meremajakan kembali sel-selnya.
Lantas kita menilik lagi kondisi dalam negeri. Jumlah pengangguran yang terus meningkat, pekerjaan informal jadi tumpuan. Kita menjadi harus mengakui bahwa deindustrialisasi dini (premature deindustrialization) merupakan salah satu dari apa yang mesti kita persoalkan. Fenomena penurunan kontribusi sektor industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) telah dialami bangsa ini sebelum pendapatan mencapai tingkat menengah ke atas.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat tren pertumbuhan industri manufaktur Indonesia di bawah laju pertumbuhan ekonomi. Pada semester I-2024, industri manufaktur hanya tumbuh 4,04%, sedangkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,08%. Sementara, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB juga masih kecil atau hanya 18,52% pada semester I-2024.
Menurut Chatib Basri, anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), dikutip dalam CNBC Indonesia, penyebab pertama deindustrialisasi dini terjadi ialah karena Indonesia sempat terjangkit penyakit dutch disease ringan. Penyakit Belanda ini terjadi ketika sebuah negara melakukan eksploitasi besar-besaran sumber daya alamnya secara mentahan.
Baca juga : Nyala-Nyala di Tempat Ibadah
Hal itu membuat penguatan nilai tukar rupiah atau apresiasi hebat, namun bersamaan dengan itu industri manufaktur otomatis loyo karena tipe industri ini bukan berfungsi sebagai price maker sebagaimana industri ekstraktif.
Dengan biaya ekonomi di indonesia yang terbilang tinggi, maka ketika harus bersaing di pasar terbuka yang sangat kompetitif, perusahaan mesti mereduksi keuntungan seminimal mungkin demi barang produksi bisa diserap pasar. Dan itu berat, sampai pada akhirnya harus takluk dengan banjirnya keran import yang terus dibuka.
Pendeknya, demi menekan biaya produksi, Industri dalam negeri terpaksa memangkas banyak pekerja yang bahkan itu juga belum cukup untuk tetap bertahan. Hingga satu persatu industri dalam negeri terpaksa menutup operasional.
Melihat fenomena tersebut, maka jawaban atas fenomena pengangguran dan kesulitan mencari pekerjaan dewasa ini menjadi sangat bisa dimengerti. Deindustrialisasi dini menyebabkan kita tak cukup kompeten dalam menghadapi transformasi ekonomi dan digitalisasi.
Slogan-slogan, hidupkan UMKM hanya renyah di permukaan dan bahan jualan yang menggiurkan tapi pada kenyataannya sederet fenomena di sektor UMKM membuat pelaku UMKM lebih bersikap hari-hati. Pasalnya pajak yang dipungut dari UMKM tidak sedikit, belum lagi pemalakan sana sini.
Iya, UMKM memang bisa mengurangi dampak dari deindustrialisasi dini, tapi UMKM bukan antibiotik yang bisa bekerja cepat, dalam struktur UMKM diperlukan lingkungan yang kondusif untuk dapat menyerap banyak tenaga kerja.
Sebagai generasi muda, kita jadi mikir bahwa memang perlu sih menciptakan peluang baru, bisnis yang inovatif dan mencerahkan. Tapi bagaimana mau merintis usaha jika ditimpa beban sebagai sandwich generation gara-gara orangtua yang sebenarnya masih produktif baru kena layoff dari pabrik?
Baca juga : Ojek Perempuan Di Pintu Keluar Stasiun

