Qana‘ah dan Bahaya Syuhrah: Pelajaran dari Ihya’ Ulumuddin

Qana‘ah dan Bahaya Syuhrah: Pelajaran dari Ihya’ Ulumuddin

24 September 2025
156 dilihat
2 menits, 52 detik

kadang tampilnya seorang ulama bukan karena mencari popularitas, melainkan untuk menegakkan hujjah dan membimbing umat.

Tsaqafah.id – Dalam khazanah turats, qana‘ah (القناعة) selalu ditempatkan sebagai permata kehidupan seorang mukmin. Imam al-Syāfi‘ī rahimahullāh menasihatkan, “al-qanā‘atu kanzun lā yafna”, qana‘ah adalah harta yang tidak akan pernah habis.

Maksudnya, hati yang ridha dengan pembagian Allah akan jauh lebih kaya daripada harta dunia yang fana. Sayangnya, realitas manusia modern justru sering berbalik. Kebahagiaan digantungkan pada limpahan materi, padahal nafsu dunia tidak ada ujungnya.

Orang kaya merasa kurang, orang miskin merasa sempit, dan akhirnya hati tercerabut dari ketenangan. Di titik inilah pentingnya kembali pada nasihat para salaf.

Imam al-Ghazālī dalam Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn (juz 3, hlm. 367) memberi peringatan keras mengenai syuhrah (terkenal). Beliau menulis bahwa salah satu pintu besar kehancuran amal adalah riya’ dan cinta popularitas.

Orang yang dikejar syuhrah seringkali terpaksa mempertontonkan amal shalihnya. Shalat, sedekah, bahkan zikir bisa berubah menjadi pertunjukan untuk pandangan manusia, bukan penghambaan kepada Allah.

Baca juga Mengungkap Tasawuf Akhlaqi-Amali: Jalan Penyucian Diri dan Kedalaman Tafsir Sufi

Namun, al-Ghazālī tidak menutup rapat-rapat pintu masyhur. Dalam kondisi tertentu, justru seorang ‘alim wajib menampakkan dirinya. Sebab bila orang shalih memilih tenggelam dalam khumūl (ketertutupan), sementara masyarakat hanya mengenal orang fasik yang masyhur, maka kebatilan akan semakin bercokol.

Dengan demikian, kadang tampilnya seorang ulama bukan karena mencari popularitas, melainkan untuk menegakkan hujjah dan membimbing umat.

Doa Panjang Umur dan Hikmah Kematian

Kisah Nabi Ibrāhīm ‘alaihis-salām yang termaktub dalam riwayat memberi pelajaran dalam soal umur. Beliau pernah memohon panjang umur, tetapi Allah memperlihatkan seorang renta yang bahkan tidak mampu makan anggur kecuali disuapi.

Melihat itu, Nabi Ibrāhīm justru menarik kembali doanya. Panjang umur tanpa barakah hanya menambah kesulitan, sementara umur singkat yang penuh ketaatan lebih berharga.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam pun berdoa: “Allāhumma ahyinī mā kānat al-hayātu khayran lī, wa tawaffanī idzā kānat al-wafātu khayran lī.” Hidup adalah kesempatan menambah amal, sementara mati adalah istirahat dari potensi maksiat. Sehingga bagi mukmin, hidup dan mati sama-sama membawa kebaikan.

Baca juga Dialog Kanjeng Nabi Adam dan Nabi Musa

Sabar dan Syukur sebagai Dua Sayap

Dalam al-Qur’an Allah menegaskan, luka yang menimpa sahabat di medan jihad sama dengan luka orang kafir. Bedanya, kaum mukminin punya rujukan tempat kembali: Allah Subhānahu wa Ta‘ālā. Inilah yang membedakan, sehingga sabar dan syukur menjadi dua sayap seorang mukmin.

Sebagaimana hadits riwayat Muslim:“`Ajaban li amri al-mu’min, inna amrahu kullahu lahu khayr; wa laysa dzālika li ahadin illā lil-mu’min; in asābat-hu sarra’ syakara fa kāna khayran lah, wa in asābat-hu darrā’ shabara fa kāna khayran lah.”

Artinya, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapat nikmat, ia bersyukur maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar maka itu baik baginya.”

Seni Hidup dengan Qana‘ah

Qana‘ah bukan berarti pasif atau malas. Ia adalah sikap menerima pemberian Allah dengan ridha, sambil tetap berusaha dalam batas syariat. Kisah-kisah ulama salaf menunjukkan hal itu.

Imam al-Syāfi‘ī ketika dihina orang hanya berkata, “Alhamdulillāh, itu bukti saya punya wibawa, sebab mereka tidak berani melakukannya di depan saya.”

Bahkan ketika dimarahi istri, beliau menganggapnya nikmat, karena lebih baik istri memarahinya daripada melampiaskan amarah pada orang lain.

Begitulah seni hidup dengan qana‘ah: memandang setiap kejadian dari sisi maslahat. Dengan hati yang ridha, hinaan berubah jadi nikmat, musibah berubah jadi pahala, dan kekurangan berubah menjadi ladang syukur.

Qana‘ah adalah mahkota hati. Ia menyelamatkan manusia dari kerakusan, menjauhkan dari riya’, dan membimbing kepada hidup yang tenteram. Sebaliknya, syuhrah yang dikejar tanpa niat lillāh hanya menjadi jerat syaitan.

Maka pantaslah nasihat ulama salaf selalu ditutup dengan doa: “Allāhumma inni as’aluka qalban qāni‘an wa ‘ilman nāfi‘an wa ‘amalan mutaqabbalan.”

Wallāhu a‘lam bi al-shawāb

Baca juga Esensi Pertunjukan Seni Bantengan: Tradisi, Hiburan dan Persfektif Agama

Profil Penulis
Hikmal Yazid
Hikmal Yazid
Penulis Tsaqafah.id

2 Artikel

SELENGKAPNYA