Alwi Fajri Annas, S.H. di Nyantri Kilat 6.0: Ekonomi Kebercukupan di Tengah Godaan Lebih

Alwi Fajri Annas, S.H. di Nyantri Kilat 6.0: Ekonomi Kebercukupan di Tengah Godaan Lebih

03 Maret 2026
70 dilihat
2 menits, 23 detik

Tsaqafah.id – Dalam sesi Guest Star #NyantriKilat 6.0 bertajuk “Trading with God: The Economics of Survival & the Temptation of Excess”, Alwi Fajri Annas, S.H. mengajak peserta menyelami kembali cara memaknai hidup dan persoalan finansial secara lebih utuh. Alwi, yang merupakan seorang praktisi hukum sekaligus pemerhati ekonomi syariah, mengingatkan bahwa ekonomi kebercukupan tidak hanya soal sudut pandang finansial semata, tapi juga soal kedalaman spiritual dan kecerdasan emosional.

Alwi mengawali materi dengan menekankan bahwa tantangan terbesar manusia modern bukan sekadar kekurangan harta, melainkan kegagalan memahami batas antara kebutuhan dan keinginan. Ia mengangkat dua kisah kontras tentang sosok dengan latar belakang berbeda: satu hidup sederhana namun meninggalkan warisan keberkahan, dan satu lagi bergelimang kemewahan tetapi runtuh oleh krisis dan gaya hidup berlebihan. Dari sini, ia menegaskan bahwa kesuksesan finansial lebih banyak ditentukan oleh emotional intelligence dibanding sekadar kecerdasan teknis atau kemampuan membaca peluang investasi.

Baca juga dr. Ita Fajria Tamim di Nyantri Kilat 6.0: Menjadi Generasi Sehat Seutuhnya

Dalam perspektif Islam, konsep tersebut sejatinya telah lama dikenal melalui istilah ma‘īsyah—penghidupan yang menjadi dasar keberlangsungan hidup manusia. Mengacu pada Al-Qur’an, Alwi menjelaskan bahwa Allah telah membagi rezeki dan sumber penghidupan setiap hamba-Nya. ma‘īsyah bukan tentang kemewahan, melainkan tentang sandang, pangan, papan, dan kecukupan yang menjaga manusia tetap bisa beribadah dan menjalankan perannya sebagai khalifah di bumi.

Ia mengkritik kecenderungan zaman yang menjadikan gaya hidup sebagai tolok ukur kebahagiaan. Ketika ego lebih dominan daripada akal dan iman, manusia mudah terjebak dalam lingkaran tanpa akhir—semakin banyak memiliki, semakin merasa kurang. Kondisi inilah yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai ma‘īsyatan ḍankan, kehidupan yang terasa sempit meski secara materi terlihat luas.

Lebih jauh, Alwi menegaskan bahwa bekerja dan mencari nafkah adalah kewajiban. Kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bentuk ketaatan. Tanpa penghidupan yang layak, manusia sulit menjaga kualitas ibadah dan martabatnya. Bahkan sejarah masuknya Islam ke Nusantara menjadi bukti bahwa aktivitas ekonomi yang dijalankan dengan integritas dapat melahirkan dampak peradaban. Para pedagang Muslim yang datang dengan niat mencari penghidupan justru menjadi perantara tersebarnya Islam karena akhlak dan profesionalitas mereka.

Baca juga Kenapa Manusia Menderita, Jika Tuhan Mahakuasa?

Dalam pembahasannya tentang hakikat uang, Alwi mengajak peserta memahami perbedaan antara harga dan nilai. Uang hanyalah alat, bukan tujuan. Ia ibarat bensin dan oli yang menggerakkan mesin kehidupan, tetapi bukan esensi dari perjalanan itu sendiri. Ketika uang diposisikan sebagai tujuan akhir, manusia rentan diperbudak oleh ambisi. Sebaliknya, ketika uang dipahami sebagai sarana ibadah dan dari sisi manfaatnya, ia menjadi wasilah menuju keberkahan.

Sesi ini juga menyoroti pentingnya menghindari mentalitas korban dalam menghadapi kesulitan ekonomi. Setiap manusia telah diberi potensi dan pintu rezeki yang beragam. Mengeluh dan menyalahkan keadaan hanya akan mempersempit perspektif. Keyakinan terhadap luasnya rahmat Allah harus diiringi dengan ikhtiar yang konsisten dan disiplin.

Melalui kelas ini, Nyantri Kilat 6.0 kembali menegaskan tema besarnya: menemukan “cukup” di tengah godaan “lebih”. Trading with God bukan tentang menukar dunia dengan akhirat secara hitam-putih, melainkan tentang menata orientasi hidup—bahwa setiap kerja, setiap rupiah, dan setiap keputusan finansial adalah bagian dari transaksi spiritual dengan Allah.

Kelas ini meninggalkan satu pesan kuat: bertahan hidup adalah keniscayaan, tetapi menjaga diri dari godaan berlebihan adalah pilihan sadar. Dan di antara keduanya, ada ruang bernama kecukupan—tempat di mana manusia bekerja dengan sungguh-sungguh, namun hatinya tetap lapang dan merdeka.

Baca juga Menemukan Rasa Cukup: Belajar Qanaah dan Zuhud di Era FOMO

Profil Penulis
tsaqafriend
tsaqafriend
Penulis Tsaqafah.id

76 Artikel

SELENGKAPNYA