Tsaqafah.id – Salah satu amanah paling berharga yang Allah titipkan kepada setiap manusia adalah tubuh yang sehat. Setiap sel dalam tubuh kita sejatinya adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Sayangnya, di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba cepat, kita sering kali lupa mendengarkan ”suara” dari tubuh kita sendiri.
Dalam sesi Guest Star #NyantriKilat 6.0 bertajuk “When the Body Speaks but the Soul is Silent”, dr. Ita Fajria Tamim atau Ning Ita mengajak peserta menyelami kembali hubungan antara fisik, mental, dan jiwa. Ning Ita, yang merupakan seorang dokter sekaligus pengasuh pesantren, mengingatkan bahwa kesehatan seutuhnya menurut WHO tidak hanya soal badan yang bugar, tapi juga sehat secara mental, spiritual, dan sosial.
Baca juga Menjaga Nikmat Sehat Melalui Makanan Tradisional
Seperti dalam contoh yang memprihatinkan akhir-akhir ini, Ning Ita menyoroti maraknya kasus anak-anak usia belia yang harus menjalani cuci darah seumur hidup akibat gagal ginjal stadium akhir. Dahulu, penyakit ini identik dengan umur lansia, namun kini ”akselerasi” perburukan organ terjadi begitu cepat pada anak muda. Penyebab utamanya bukanlah nasib semata, melainkan akumulasi gaya hidup yang tidak sehat dari konsumsi minuman kemasan dan makanan olahan (Ultra Processed Food) yang berlebihan.
“Mengusahakan makan real food atau makanan yang bentuk aslinya tidak banyak berubah adalah cara kita menghargai tubuh,” jelas Ning Ita.
Bayangkan, jika setiap hari kita menabung gula lebih dari 50 gram, maka tanpa sadar kita sedang menanam ”bom waktu” bagi kesehatan kita sendiri. Cara menyelamatkannya pun sederhana: cukupi kebutuhan air putih minimal 2 liter sehari dan mulailah bersahabat kembali dengan sayur serta buah-buahan musim lokal.
Selain urusan fisik, Ning Ita juga mengingatkan agar kita tidak menutup mata pada kesehatan mental. Penyakit mental bukanlah kondisi yang bisa sekadar dicap sebagai ”kurang ibadah”, melainkan membutuhkan penanganan profesional seperti psikolog atau psikiater. Beliau menitipkan tiga kunci penting: sadar diri (awareness), tangguh dalam menghadapi masalah (toughness), dan berani menetapkan batasan (boundaries) terhadap hal-hal yang beracun bagi jiwa.
Baca juga Serius Tapi Luwes: Seni Menjalani Hidup
Di akhir pemaparannya, Ning Ita memberikan refleksi spiritual yang sangat mendalam tentang sifat qanaah atau merasa cukup. Di era yang penuh godaan untuk selalu mengejar ”lebih”, kunci ketenangan justru ada pada tawakal.
“Terkadang, penyelesaian masalah tidak dicapai dengan menggenggam erat tangan kita untuk mencari solusi, melainkan justru dengan melepaskan genggaman tersebut dan membiarkan Allah mengambil alih.” Begitu pesan Ning Ita, mengingatkan bahwa ada kekuatan besar di balik sikap berserah diri.
Dari penjelasan Ning Ita tersebut, kita belajar bahwa menjadi sehat seutuhnya adalah sebuah proses untuk menyamakan hati dan pikiran agar selaras dengan kehendak Sang Pencipta. Menjaga tubuh dan jiwa dengan ilmu bukan hanya membuat kita bugar di dunia, tapi juga menjadi bentuk syukur yang membawa kemuliaan di hadapan-Nya.
Baca juga Obati Dahaga Ngaji Ramadan di Pesantren, Alumni Krapyak Buka Kelas “#NyantriKilat”

