Islam tidak mengajarkan kita untuk netral dalam menghadapi ketidakadilan. Belajar dari Abbasiyah, apakah agama berdiri sebagai nilai pembebasan atau justru menjadi alat kekuasaan?
Tsaqafah.id – Ada sesuatu yang menarik dari sebuah perjumpaan pertama setelah liburan panjang—ruang kelas terasa sedikit asing, canggung, seolah semua orang sedang menyesuaikan diri kembali dengan ritme yang sempat terputus. Dalam suasana seperti itulah saya mencoba membuka percakapan. Bukan dengan penjelasan panjang, melainkan dengan satu pertanyaan sederhana namun mengusik:
Dalam Islam, agama itu seharusnya netral atau justru berpihak?
Sejenak ruangan menjadi sunyi. Beberapa siswa saling bertatap, sebagian lain menunduk, mungkin mencari jawaban di dalam kepala mereka—atau justru berusaha menghindar dari pertanyaan yang terasa “terlalu besar” untuk dijawab spontan. Ada juga yang mencoba mengalihkan arah pembicaraan, seolah ingin keluar dari ketegangan kecil yang tiba-tiba hadir.
Namun dari sudut ruangan, dua suara pelan mulai muncul—ragu, tapi penuh keberanian.
Udin, ketua kelas, perlahan mengangkat tangan. Dengan nada hati-hati ia berkata,
“Harusnya netral, Pak. Karena Islam itu agama wasathiyah, berdiri di tengah-tengah, tidak memihak salah satu.”
Belum sempat suasana kembali tenang, Ririn langsung menimpali dengan nada yang lebih tegas,
“Tidak begitu, Pak. Justru agama itu harus berpihak. Karena menurut saya, memilih netral itu sama saja memilih untuk tidak berpihak pada siapa-siapa.”
Baca juga Pesantren dan Tuduhan Feodalisme: Antara Tradisi, Otoritas Ilmiah, dan Tanggung Jawab Moral
Seketika ruang kelas yang tadinya beku berubah menjadi hidup. Jawaban Udin dan Ririn seperti percikan kecil yang menyulut api diskusi. Teman-teman mereka yang sebelumnya diam, kini mulai gelisah—ingin ikut berbicara, ingin mengambil posisi, ingin menentukan sikap.
Saya mengangguk pelan.
“saya sepakat dengan Ririn, Pak…”
Belum selesai suasana mengendap, kini giliran Aurel yang mengambil suara. Ia berbicara dengan penuh keyakinan, seolah ingin menegaskan arah diskusi yang mulai menemukan nadinya.
“Agama itu mesti berpihak. Berpihak kepada siapa? Kepada mereka yang tertindas, kepada mereka yang fakir-miskin, kepada mereka yang haknya diambil oleh negara.”
Suasana kelas yang semula canggung perlahan berubah hangat. Diskusi mulai hidup. Saya hanya bisa tersenyum kecil—ada rasa bangga yang diam-diam tumbuh. Apa yang selama ini kutanamkan, rupanya mulai bersemi dalam cara mereka berpikir.
“Pak, ada itu ayatnya…”
Suara Agus tiba-tiba menyela. Dengan gaya khasnya yang santai namun sedikit terbata-bata, ia mencoba mengingat dan kemudian melafalkan:
“Innamash-shadaqātu lil-fuqarā’ wal-masākīn wal-‘āmilīna ‘alayhā wal-mu’allafati qulūbuhum wa fir-riqāb wal-ghārimīn wa fī sabīlillāh wabnis-sabīl…”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan terjemahannya:
“Sesungguhnya zakat itu diperuntukkan bagi orang-orang fakir, orang miskin, para pengelola zakat, mereka yang dilunakkan hatinya, untuk memerdekakan hamba sahaya, orang-orang yang terlilit hutang, di jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan.”
Setelah itu, ruang kelas mendadak hening.
Bukan karena kehabisan kata, tapi karena semua sedang mencerna.
Di tengah keheningan itu, Udin yang sejak tadi tampak gelisah—mungkin merasa ‘terkepung’ oleh jawaban teman-temannya—akhirnya angkat suara. Ia mencoba mengalihkan arah, sekaligus mencari pegangan.
“Lalu… bagaimana dengan jawaban Bapak?”
Pertanyaan itu meluncur pelan, tapi terasa berat. Kini semua mata tertuju padaku.
Aku tersenyum, memandang mereka satu per satu.
“Baik, terima kasih atas tanggapan kalian semua. Saya bangga dengan jawaban-jawaban yang kalian berikan. Udin, Ririn, Aurel, dan Agus—tidak ada satu pun dari jawaban kalian yang salah. Kalian sudah menjawab dengan sangat baik.”
Mereka mulai saling menatap, sebagian tersenyum kecil, sebagian lain masih terlihat ragu.
“Meskipun. Aku berhenti sejenak, sengaja memberi jeda, “mungkin di kepala kalian masih terbayang kasur empuk di rumah, kue nastar buatan mama, atau opor ayam sisa liburan kemarin.”
Beberapa langsung tertawa. Suasana kelas mencair sepenuhnya.
“Tapi di tengah semua itu, kalian tetap hadir di sini, berpikir, dan mencoba menjawab. Itu sudah lebih dari cukup untuk saya hargai.”
Aku lalu melangkah pelan ke arah meja, membuka laptop yang sejak semalam sudah kusiapkan. Layar menyala, materi pun terbuka. Namun sebelum masuk ke inti pembahasan, aku menarik napas sejenak—mencoba memastikan bahwa apa yang akan disampaikan benar-benar sampai.
“Baik, kataku sambil menatap kembali ke arah mereka, sekarang mari kita bahas lebih dalam.”
Ruang kelas kembali hening. Kali ini, bukan karena ragu— tetapi karena siap mendengar.
Aku berdiri di depan kelas, menatap mereka dengan perlahan.
“Kalau tadi kita sepakat bahwa Islam tidak netral, tetapi berpihak, pertanyaan berikutnya adalah : “Apakah dalam sejarahnya, Islam selalu konsisten dengan jalan-jalan keberpihakan itu?
Aku mengambil sedikit waktu jeda, memastikan mereka masih mengikuti. Untuk melihat akan hal ini kita mesti tengok sejarah. Salah satu periode pentig dalam Peradaban islam adalah masa Dinasti Abbasiyah.
Dinasti Abbasiyah : Pusat Ilmu dan Kekuasaan
Pada masa Abbasiyah, Islam mencapai puncak kejayaan dalam bidang ilmu pengetahuan. Kota Baghdad menjadi pusat peradaban dunia. Di sana berdiri Bayt Al-Hikmah, rumah kebijaksanaan tempat para Ilmuwan dari berbagai latar belakang berkumpul menerjemahkan, dan mengembangkan ilmu.”
Ini menunjukan bahwa Islam, dalam satu sisi benar-benar berpihak pada ilmu pengetahuan, keterbukaan dan kemajuan peradaban. Tapi sejarah tidak sesederhana itu.
Di sisi lain, pada masa Abbasiyah juga terjadi ketimpangan sosial dan politik juga terjadi. Pada masa itu kekuasaan terpusat pada elite tertetu bahkan, dalam beberapa fase, terjadi penindasan terhadap kelompok yang berbeda pandangan.
Aku kemudian menatap mereka lebih dalam.
Di sinilah kita belajar sesuatu yang penting : Islam sebagai nilai jelas berpihak kepada keadilan. Tetapi, dalam praktik sejarah, keberpihakan itu bisa bergeser, tergantung siapa yang memegang kekuasaan.
Baca juga Baghdad dan Nostalgia Peradaban yang Hilang
Kalian pernah mendengar kata “Minha?” mayoritas dari mereka menggeleng kepala tanda tak tahu. Minha adalah semacam “Ujian Ideology” yang diberlakukan oleh penguasa Abbasiyah, khususnya pada masa Al-Ma’mun. Para ulama dipaksa untuk mengikuti pandangan resmi negara tentang kepercayaan mereka. Siapa yang menolak? Dipenjara, dibungkam.
aku mengambil waktu jeda agar mereka menyerap tiap kalimat yang aku lontarkan.
Bayangkan, agama yang seharusnya membela, membebaskan, justru dijadikan alat untuk memaksa. Pada titik ini kita mesti jujur dalam melihat sejarah, bukan Islamnya yang berubah, tetapi cara manusia menggunakan Islam.
Ketika kuasa terlalu dominan, agama beresiko berubah dari nilai menjadi alat. Dari nilai pembebasan menjadi alat mencari pembenaran, dari nilai kebenaran menjadi alat legetimasi kekuasaan. Dan ini bukan hanya cerita masa lalu, setiap kali agama dipakai untuk membungkam kritik, agama dijadikan alasan untuk menjustifikasi ketidakadilan. Setiap kali orang kecil diabaikan atas nama stabilitas.ini adalah momen ketika keberpihakan mulai digeser oleh kekuasaan.
Mari sekarang kita berbicara tentang kita.
Aku mencoba mengambil ritme, mengajak mereka untuk kembali ada dalam jalan diskusi.
Kalau hari ini kalian melihat ketidakadilan lalu memilih diam, apakah itu netral? Kalau kalian tahu ada yang tertindas tapi memilih aman di posisi tengah, apakah itu bijak?
Tidak, itu bentuk lain dari keberpihakan, berpihak pada situasi saat ini yang sedang berjalan.
Islam dan Kita Hari Ini
Pada titik inilah tantangan terbesar kita hari ini, bagaimana memastikan bahwa agama tidak jatuh ke tangan kekuasaan yang salah arah. Bagaimana menjaga agar Islam tetap menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara, tetap menjadi pembela bagi mereka yang dilemahkan, dan tetap menjadi cahaya bagi mereka yang disingkirkan.
Sebab sejarah sudah memberi pelajaran yang sangat mahal, agama tidak pernah bermasalah hanya saja kita manusia yang bisa membuatnya kehilangan arah.
Aku kemudian menutup penjelasan ini dengan perlahan, tanpa slide,tanpa melihat poin-poin yang sudah ku buat dengan rapi. Hanya berdiri di depan dan menatap mereka.
Kalau kita tadi belajar dari sejarah, dari bagaimana agama ditarik ke dalam pusaran kekuasaan, maka pertanyaan yang penting sekarang adalah “Apa yang Terjadi Hari Ini?”
Ruang kelas hening, rupanya Udin, Ririn, Aurel, Agus dan teman-temannya masih begitu menyimak dengan baik. Aku kemudian melanjutkan.
Apakah agama masih berdiri di pihak yang tertindas? Atau justru tanpa kita sadari ikut diam dalam melihat ketidakadilan yang terjadi? Coba sesekali main jauh, di luar kelas ini, banyak sekali persoalan HAM yang terjadi. Masyarakat kecil yang kehilangan tanahnya. Mereka yang dikriminalisasi sebab bersuara. Kelompok rentan yang dipinggirkan seolah-olah mereka tidak punya tempat dalam keadilan.
Dan seringkali semua ini terjadi bukan tanpa alasan. Kadang ada pembenaran, kadang ada narasi, kadang mereka bawa dengan dalil. Pada titik ini, agama diuji. Pesan gurunya pak guru, ucapku.
Apakah agama menjadi nilai untuk membela mereka yang lemah, ataukah ia berubah menjadi alat yang membuat ketidakadilan terasa ‘wajar’?” aku kemudian menggeleng, tanda tidak sepakat atas ucapanku tadi.
Tidak. Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk netral, dalam menghadapi ketidakadilan. Karena diam di hadapan ketidakadilan adalah bentuk lain dari keberpihakan. Jadi, pilihan itu sekarang, ada ditangan kalian. Kalian mau menjadi generasi yang hanya memahami agama pada batas-batas hafalan atau sebagai keberanian untuk berdiri di sisi yang benar.
Sebab yang akan ditanya bukan seberapa banyak yang kita tahu, tetapi disisi mana kita berdiri. Aku memberi kode kepada udin, kalau pembelajaran telah usia, dan dia mengambil perannya sebagai komandan kelas.
Namun, seisi ruangan masih tetepa hening. Bukan sebab mereka lagi menunggu jawaban, tetapi karena mereka sudah menemukan jawabannya masing-masing.
Baca juga Menghidupkan Kembali Tsaqafah Islam untuk Generasi Muda

