…dalam mencari informasi, mesin pencarian seperti Google dan membuka situs web rujukan sudah mulai ditinggalkan. Lebih cepat dan praktis tentu saja kita bertanya pada mesin Chatbots (AI) yang seringkali tanpa disadari kita amini sebagai kebenaran.
Tsaqafah.id – Di zaman yang semua hal telah terintegrasi dalam sistem digital terkadang tanpa disadari kita hanyut dalam lautan informasi yang memekakkan sekaligus menghipnotis. Kita menghabiskan beberapa menit, beberapa jam untuk scrolling media sosial. Tanpa disadari waktu terbuang untuk hiburan sesaat yang memberi kepuasan instan tanpa pemenuhan pada apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Era digital telah memberi akses pada ‘keberlimpahan’, terutama dalam hal informasi. Seperti saat kita buka timeline Instagram atau TikTok, konten bergulir dengan cepat, trend muncul dan menghilang dalam waktu hitungan jam. Tak ada yang kini bisa bertahan lama, semua selalu disusul kebaruan-kebaruan.
Saat dunia makin bergerak cepat. Otak manusia langsung berpikir untuk juga bergerak cepat, manusia modern kini menjadi lebih takut ketinggalan. Ini valid dan wajar karena siapa yang cepat mereka yang dapat, termasuk dalam memperoleh kebutuhan di era digital economic. Tapi sayangnya, kecepatan itu telah membuat manusia hari ini kehilangan daya intuitifnya, menyempitnya ruang reflektif hingga kekeringan jiwa. Pencarian makna kerap kali tak memperoleh porsi yang cukup dalam kehidupannya yang menuntut cepat.
Tak jarang bagi sebagian besar umat muslim, kecepatan informasi tersebut turut menyuplai dalam mempengaruhi pengambilan keputusan sehari-hari (decision making). Mulai dari belanja impulsif diskon Jum’at berkah sampai diskon lebaran. Kita memantau live TikTok dan Shopee dengan keinginan mendapatkan harga murah. Hiburan dan entertainment telah berjalan beriringan, menyatu sekaligus.
Baca juga Hidup Damai di Tengah Dunia yang Menuntut Cepat
Terlebih dalam mencari informasi, mesin pencarian seperti Google dan membuka situs web rujukan sudah mulai ditinggalkan. Lebih cepat dan praktis tentu saja kita bertanya pada mesin Chatbots (AI) yang seringkali tanpa disadari kita amini sebagai kebenaran, tanpa perlu kroscek ke informasi rujukan yang shahih.
Di era inilah, sebagai umat muslim, kita seperti ditantang tak hanya oleh kecepatan informasi namun juga oleh keshahihan sebuah informasi. Dalam istilah jawa seringkali orang berkata “bener ora mesti pener”. Benar merujuk pada sesuatu hal yang benar, tapi pener selalu menempatkan pada kepantasan—pertimbangan moral.
Ya seperti di era digital, banyak informasi benar dibagikan. Tapi semuanya juga tak bisa langsung kita pakai begitu saja. Dalam setiap peristiwa, dalam setiap tindakan ada konteks, kondisi yang berbeda-beda bagi setiap orang yang mempengaruhi keputusan mana yang paling tepat. Di sini kita tak lagi dihadapkan untuk memilih antara yang baik dan buruk, tetapi memilih yang paling pas dan paling tepat pada saat kondisi tertentu.
Namun, bagaimana jika kita kehilangan kemampuan dalam ‘memilih’ ? Ini bukan hal yang tidak mungkin, setiap diri kita di era digital hari ini memang dihadapkan pada banyak pilihan, tapi sebenarnya kita kehilangan kemampuan dalam memilih. Terlihat kontradiktif, media sosial dan kecepatan sudah memperlihatkan kita pada lebih banyak pilihan, tapi itu tak disertai dengan meningkatnya kemampuan manusia dalam ‘memilih’ tadi.
Lalu, bagaimana kita memelihara kemampuan dalam ‘memilih’? Bagi Pascal, seorang pemikir Perancis, menyebut manusia abad 21 kehilangan kemampuan duduk sendirian di ruangan yang sunyi. Mungkin benar kata Pascal, karena pada beberapa menit duduk, tangan kita sudah gatal membuka handphone.
Memilih bukan hanya perkara, ‘oke aku suka, aku ambil’. Saat kita memasuki pusat perbelanjaan super lengkap misalnya, kita dihadapkan pada banyak barang, banyak merek, dan lebih banyak pilihan. Dan di saat itu kita akan mengambil barang-barang yang kita butuhkan, yang sesuai harga yang mampu kita bayar, dan tentu saja dengan pertimbangan yang menurut kita ‘worth it’. Dalam kegiatan berbelanja itulah, kita juga menggunakan kemampuan dalam decision making, memilih yang paling kita butuhkan. Kita menyediakan waktu untuk melakukan hal tersebut.
Baca juga Overthinking Dalam Pandangan Islam: Ketika Pikiran Menjadi Beban Yang Tidak Perlu
Tapi nampaknya kehidupan tak sesederhana berbelanja. Kita bisa menyediakan beberapa jam dalam sehari untuk berbelanja, tapi kita selalu kekurangan waktu dalam membuat keputusan hidup. Kita seperti kehilangan kemampuan ‘memilih’ atau kalau enggan menyebut demikian, mungkin adalah penurunan dalam kemampuan ‘memilih’ yang itu disebabkan oleh banyaknya pilihan yang tertatar di hadapan kita, pilihan yang tidak hanya banyak tapi juga cepat bergulir. Kita jadi kesulitan memahami yang esensi, yang otentik.
Kita tak tahan dengan notifikasi yang terus berbunyi setiap detik, yang tanpa disadari semua notifikasi-notifikasi itu telah mengaburkan kita dalam momen menghadapi kesunyian diri, momen penting yang kita butuhkan untuk menjaga kesadaran diri — sebuah kemampuan reflektif yang mutlak dibutuhkan untuk membuat keputusan yang tepat.
Padahal dalam momen sunyi itu kita sesungguhnya sedang memeluk kesadaran diri, memberi jarak pada kehidupan semu yang terpampang dalam setiap detik bunyi notifikasi. Kita sedang menjaga kemampuan reflektif yang diperlukan dalam menimbang dan memutuskan.
Tapi lagi-lagi, dunia digital sepertinya memang membenci momen sunyi seperti itu. Informasi yang lebih banyak sampah daripada yang benar-benar kita butuhkan adalah musuh terbesar bagi manusia modern dalam memeluk kesadaran dirinya. Hingga pada akhirnya, banyak orang kehilangan kemampuan ‘memilih’ itu.
Bagaimana tidak, kita bisa memilih apapun yang kita mau, tetapi sebenarnya pilihan itu hanya dipengaruhi dan dituntun oleh mesin algoritma, bukan oleh kesadaran diri. Persis seperti saat saya berencana checkout sebuah tas minimalis tapi berakhir membeli sepatu yang sebenarnya tak begitu saya butuhkan. Akhirnya saya hanya kesal pada diri sendiri, itu tindakan yang impulsif. Namun, lagi-lagi mesin algoritma dalam beberapa momentum selalu berhasil menyabotase pikiran — dalam sekecil apapun kesempatan yang tercipta di dalamnya.
Mungkin kita memang tak harus menyalahkan ini itu. Teknologi yang berkembang cepat seperti keniscayaan dalam meningkatnya kemampuan manusia yang berkeinginan menundukkan segala apapun — waktu, tempat, bahkan iklim… tapi juga berakhir pada sesama manusia, yang saling menundukkan. Inikah era baru, banalitas yang kembali muncul dalam bentuknya yang semakin modern.
Sesungguhnya jika kita berkaca pada masa-masa kenabian, lalu bagaimanakah manusia yang beriman?
Di era yang seperti ini, terombang ambing dalam batas yang semakin kabur antara realitas dan imajinasi, mungkin menjadi manusia yang beriman adalah manusia yang bisa duduk sendirian dalam ruangan yang sunyi, terbebas dari segala notifikasi, dan senantiasa memelihara cahaya batin untuk melihat pada realitas yang sesungguhnya—mencari keterhubungan hanya pada Sang al-Wajibul Wujud—pada Yang Ada dan Wajib Ada. Ikhtiar manusia modern dalam memelihara iman pada akhirnya adalah dengan menjadi manusia yang senantiasa memelihara kesadaran diri—sebagai makhluk, sebagai hamba.

