Manusia diciptakan berpasang-pasangan, begitulah kalimat yang sering kita dengar. Namun, kultur era digital ini seringkali menyempitkan makna “berpasangan” bukan sebagai ikatan yang suci dan transenden, melainkan sebatas kompetisi sosial, cepat dapat pasangan dianggap berhasil, lambat dianggap gagal.
Akibatnya, banyak orang “jomblo” merasa gelisah, pesimis, hingga putus asa karena merasa dirinya tidak laku. Bahkan, demi tidak mendapatkan stigma “jomblo”, tidak sedikit juga orang yang akhirnya memaksakan diri untuk menjalani hubungan asmara yang penuh kepura-puraan.
Pertanyaannya mungkin seperti ini, lebih baik mana sih antara orang yang masih sendiri dan orang yang memiliki pasangan, namun cintanya hanya pura-pura?
Baca juga : Overthinking Dalam Pandangan Islam: Ketika Pikiran Menjadi Beban Yang Tidak Perlu
Makna dari Kesendirian
Bukan hal yang bijak ketika kita selalu memaknai kesendirian sebagai hal yang berkonotasi negatif.
Padahal, jika kita menelisik lebih dalam, kesendirian tidak selalu demikian. Di dalam kesendirian sebenarnya ada makna dan spirit tertentu. Kita bisa merujuk pada apa yang disampaikan oleh Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam:
مَا نَفَعَ الْقَلْبُ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانُ فِكْرَةٍ
“Tidak ada yang bisa memberikan manfaat kepada hati seperti yang diberikan oleh uzlah, yang digunakan untuk memasuki medan pemikiran.” (Ibnu Atha’illah As-Sakandari, Al-Hikam [Kairo: Al-Maktabatul Azhariyah Litturats, 2011] halaman 106)
Imam Ibnu Atha’illah memang tidak secara eksplisit menyebut istilah kesendirian, Beliau menggunakan istilah uzlah. Namun perlu diketahui bahwa uzlah merupakan pengasingan diri untuk memusatkan perhatian pada spiritual. Oleh karenanya, antara kesendirian dan uzlah ini memiliki relasi kuat, karena kesendirian bisa menjadi sebuah kesempatan untuk memusatkan diri pada aktivitas berpikir.
Pertanyaannya, apa yang harus dipikirkan ketika sendiri, bukankah ini jatuh pada overthinking?
Dalam literatur Islam khususnya tasawuf, biasanya overthinking bukan gambaran dari berfikir (fikr), melainkan itu gambaran dari angan-angan panjang (thulul amal). Artinya ada perbedaan signifikan antara overthinking dan berpikir.
Baca juga : Macam-macam Dzikir Menurut Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari
Overthinking mengarah pada hal-hal yang berlebihan dan negatif, seperti imajinasi semu yang menyebabkan kecemasan yang sebenarnya tidak diperlukan. Contohnya, terlalu mencemaskan penilaian orang lain, atau penyesalan memilih jurusan kuliah tertentu, tanpa disertai dengan evaluasi.
Berbeda dengan overthinking, berpikir mengarah kepada hal-hal yang seimbang dan positif, seperti introspeksi dan evaluasi diri. Contohnya, seseorang tidak mencemaskan penilaian orang lain, dia lebih fokus memikirkan yang terbaik yang bisa dilakukan, atau seseorang tidak menyesalkan pilihan jurusan, dia lebih fokus mengevaluasi diri dengan pilihan yang telah ditentukan.
Dari sini bisa kita lihat, bahwa dua orang bisa memikirkan hal yang sama, tapi orang yang overthinking lebih melihat masalahnya saja, sedangkan orang pemikir menyertai dengan bagaimana mengatasi masalah.
إذن فإذا ألزم الإنسان نفسه بساعة من الخلوة في كل يوم وليلة مثلاً يعزل نفسه فيها عن الناس، ينبغي أن يملأ فراغ خلوته هذه بموضوع يسلط عليه فكره للمناقشة وللنظر وللتأمل على أن يكون الموضوع الذي يشغل فكره به مما يوقظه إلى معرفة الحقيقة الكونية، لا موضوعاً يستهوي النفس ويخبل العقل
“Oleh karena itu, jika seseorang berkomitmen untuk menyendiri selama satu jam setiap hari dan malam, misalnya, mengisolasi diri dari orang lain, mereka harus mengisi waktu pengasingan ini dengan topik yang melibatkan pikiran mereka dalam diskusi, pertimbangan, dan refleksi. Topik ini haruslah sesuatu yang membangkitkan kesadaran mereka akan kebenaran universal, bukan sesuatu yang hanya menarik bagi ego dan mengaburkan pikiran.” (Said Ramadhan Al-Buthi, Syarh Al-Hikam Al-Atha’iyyah [Damaskus: Darul Fikr, 2003] Juz 1 halaman 170)
Berpikir ini bisa dilakukan dengan berdialog atau deeptalk dengan diri sendiri untuk mengevaluasi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan jadikan kesendirian sebagai dalih untuk terus overthinking dan berpikir negatif terhadap diri sendiri, apalagi terhadap Allah.
Baca juga : Mengenali Ciri-ciri Rasulullah Saw dari Syair Lam Yahtalim
Asmara yang Pura-Pura Dalam Syair Imam As-Syafi’i
Setelah kita mendalami makna dari kesendirian, mari kita bergeser kembali untuk berbincang tentang cinta yang pura-pura. Untuk membincangkannya, kita kali ini mencoba untuk merujuk bukan pada ulama yang dikenal sebagai sufi, melainkan ahli fikih.
Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris As-Syafi’i atau dikenal dengan Imam Syafi’i, selain menggeluti fikih, Beliau juga aktif dalam menulis karya sastra atau syair. Jika uraian fikihnya dapat ditemukan di dalam kitab Al-Umm, maka untaian syairnya dapat ditemukan di kitab Diwanul Imamis Syafi’i.
Salah satu syairnya berbunyi begini:
إِذا المَرءُ لا يَرعاكَ إِلّا تَكَلُّفاً
فَدَعهُ وَلا تُكثِر عَلَيهِ التَأَسُّفا
فَفي الناسِ أَبدالٌ وَفي التَركِ راحَةٌ
وَفي القَلبِ صَبرٌ لِلحَبيبِ وَلَو جَفا
فَما كُلُّ مَن تَهواهُ يَهواكَ قَلبُهُ
وَلا كُلُّ مَن صافَيتَهُ لَكَ قَد صَفا
Jika seseorang tidak mempedulikanmu kecuali dengan berpura-pura (terpaksa),
maka tinggalkanlah ia, dan janganlah engkau banyak menyesali kepergiannya.
Sebab di antara manusia ada penggantinya, dan di dalam berpisah (dengan ketidaktulusan) ada ketenangan,
dan di dalam hati ada kesabaran bagi sang kekasih, meskipun ia menjauh.
Karena tidak semua orang yang engkau cintai hatinya juga mencintaimu,
dan tidak semua orang yang engkau beri ketuluasan kepadanya akan membalas dengan ketulusan yang sama.
(Muhammad bin Idris As-Syafi’i, Diwanul Imamis Syafi’i [Beirut: Darul Ma’rifah: 2005] halaman 81)
Tidak semua orang yang kita cintai juga mencintai kita dan tidak pula orang yang kita perlakukan secara tulus juga akan tulus kepada kita. Rasa cinta dan sikap tulus merupakan wilayah kerja hati, jika di hati tidak terdapat tabiat untuk mencintai dan bersikap tulus, maka keduanya tidak ada, yang ada hanya keterpaksaan. (Muhammad Ibrahim Salim, Syarah Diwani Imam As-Syafi’i [Kairo: Maktabah Ibnu Sina, TT] Halaman 99)
Syair ini menegaskan bahwa tidak ada cinta di dalam kepura-puraan. Cinta merupakan esensi yang bersifat transenden (tidak terbatas), kepura-puraan dan keterpaksaan yang penuh keterbatasan tidak akan mampu menjangkau sesuatu yang tidak terbatas.
Jika di awal tadi ada pertanyaan lebih baik mana antara orang yang masih sendiri dan orang yang memiliki pasangan dengan cinta yang hanya pura-pura. Maka syair ini menjawab bahwa kesendirian sebenarnya lebih baik, dengan catatan bahwa kesendirian harus dijadikan medan berpikir sebagaimana nasihat Imam Ibnu Atha’illah tadi.
Baca juga : Rasionalitas Ketenangan dalam Filsafat Ibn Ḥazm

