Menjadi Muslim Tenanan II

Menjadi Muslim Tenanan II

27 Mei 2026
9 dilihat
2 menits, 50 detik

Menjadi Muslim tenanan di era sekarang itu susah. Godaannya tinggi. Berbuat apa-apa kalau nggak dapat uang atau imbalan seringkali diabaikan. Dilakukan semaunya dan semampunya. Sebagaimana orang ngabdi pada umumnya. Fakta di lapangan, meski nggak semuanya, orang ngabdi tenanan itu langka.

Jadi umat Islam idealnya nggak hanya paham kalau ritualnya serba arab, begitu pula pakaiannya. Harus tahu dan sadar juga kalau baiknya seorang Muslim saja nggak cukup, tapi juga pasrah bongkokan sama Tuhan. Modelnya ngabdi. Prakteknya ya ibadah. Yang wajib prioritas, yang sunnah diusahakan dilaksanakan, yang makruh dan haram diusahakan betul tidak dilakukan.

Rela meluangkan waktu buat salat 5 waktu itu bagus, apalagi dihidupkan sama jamaah, patut diapresiasi angkat topi. Tapi sengaja menunda salat, apalagi meninggalkan salat demi ihwal duniawi, perlu dipertanyakan betul keislamannya. Kepasrahannya. Pengabdiannya.

Baca juga: Menjadi Muslim Liberal: Menuju Kedewasaan Intelektual

Dulu, zaman jahiliyyah, pengejawantahan “muslim” orang Arab hanya mengenal ḥilm sebagai model kesalehan sosial. Toshihiko Izutsu merekam dengan baik bagaimana jalan ḥilm/ḥālim kemudian menjadi islam/muslim – iman/mukmin, dan jahil kemudian menjadi kafir.

Jahiliyyah bukan berarti orang yang bodoh secara ilmu pengetahuan, lebih dari itu, ego dan nafsunya tinggi. Nggak mau kalah sama yang lain, suka seenaknya sendiri, dan yang terpenting, nggak mau tunduk sama penguasa, entah itu pemerintah ataupun Tuhan. Dan ketika ada konsep ketuhanan, ia berubah jadi kafir. Tidak mau mensyukuri kebaikan Tuhan, menolak patuh dan tunduk sama Tuhan (Allah).

Model jahiliyyah ini sangat lekat dengan konsep “Übermensch”-nya Nietzsche, bahwa manusia mampu menjadi superman tanpa perlu bergantung pada dogma tradisional termasuk Tuhan.

Baca juga: Menaksir Rupa Identitas Generasi Muslim Milenial

Sementara ḥilm/ḥālim kebalikannya. Ia mampu mengendalikan ego dan nafsunya. Mau mengalah, nerimo ing pandum, sabar, dan mau tunduk sama penguasa alam. Ketika konsep ketuhanan masuk, ia berubah menjadi Muslim. Kebaikan apapun selalu melibatkan Tuhan. Dan sejak saat itu, sifat ḥālim itu tidak berlaku lagi buat manusia, hanya Tuhan yang berhak menyandang sifat itu. Sementara manusianya disebut Muslim. Kalau tingkat percayanya tinggi akan kepasrahannya kepada Tuhan, ia disebut Mukmin.

Nah, ḥālim ini lebih dekat dengan konsep “insān al-kāmil“-nya Muhammad Iqbal, bahwa ia bisa menjadi manusia sempurna dengan berakhlak ilahiah.

Menjadi Muslim tenanan di era sekarang itu susah. Godaannya tinggi. Berbuat apa-apa kalau nggak dapat uang atau imbalan seringkali diabaikan. Dilakukan semaunya dan semampunya. Sebagaimana orang ngabdi pada umumnya. Fakta di lapangan, meski nggak semuanya, orang ngabdi tenanan itu langka.

Guru honorer dan guru ngaji, misalnya. Mereka simbol pengabdian agama dan negara. Namun, in this economy, di kala tuntutan semakin mencekik, sementara penghasilan tak menutup kebutuhan dasar, niat pengabdian kepada Tuhan bisa bergeser pada pengabdian setan kapitalisme. Bisa separuh Nietzchean, separuhnya lagi Iqbalian.

Malahan, zaman yang kita injak hari ini seolah dekat dengan jahiliyyah-nya Arab pra-Islam. Kapitalisme menyeruak di sendi-sendi kehidupan, mengelus nafsunya manusia, menyulap keinginan menjadi kebutuhan. Kapitalis cukup jitu melambatkan iman manusia dengan menyuntikkan benih-benih syaiṭān al-rajīm.

Baca surat an-Nās dan al-Falaq untuk mengusir godaan setan percuma jika tak ada iman dan islam. Begitu juga dengan melakukan berbagai ritual ibadah Muslim, mulai dari taharah, wudu, salat, puasa, zakat, haji, syarat utamanya adalah Islam. Nggak hanya Islam ktp atau ikut-ikutan. Meski sah secara lahiriah ibadahnya orang yang berislam ala kadarnya, tanpa kepasrahan total kepada Tuhan, orang gampang mudah terombang-ambing iman-islamnya.

Baca juga: Memahami Perilaku Konsumtif Muslim Milenial dan Bagaimana Menyikapinya

Jangankan mukmin, jadi muslim tenanan itu susah. Wong Nabi Ibrahim yang jadi simbol pasrah bongkokan sama Tuhan sampai rela mengorbankan anaknya saja berdoa, apalagi kita. Doanya begini:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, (jadikanlah) dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan manasik (rangkaian ibadah) haji, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang” (Al-Baqarah [2]:128).

Meski kita sudah masuk “wolak-waliking zaman”, semoga kita nggak lelah buat berusaha jadi muslim tenanan. Pasrah total sama Zat Yang Maha Agung yang kita kenal sebagai Allah itu butuh perjuangan.

Semangat! Semoga kita bisa meninggal dengan keadaan khusnul khatimah. Amin.

Profil Penulis
Ahmad Fauzan
Ahmad Fauzan
Penulis Tsaqafah.id

11 Artikel

SELENGKAPNYA