Hampir setiap orang pernah merasakan betapa menyenangkannya ketika dihargai dan diakui oleh orang lain. Sebaliknya, sikap acuh, pengabaian, atau tidak adanya respons terhadap kebaikan yang diberikan sering kali menimbulkan rasa kecewa, bahkan sakit hati.
Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia bukan hanya makhluk rasional, tetapi juga makhluk sosial yang memiliki kebutuhan emosional untuk diterima dan dihargai. Menariknya, kebutuhan tersebut ternyata telah mendapat perhatian dalam ajaran Al-Qur’an.
Salah satu ayat yang menyelesaikan persoalan tersebut adalah Q.S. an-Nisā’ [4]: 86 yang memerintahkan agar setiap penghormatan dibalas dengan yang lebih baik atau setidaknya setara. Ayat ini sering dipahami sebagai etika menjawab salam.
Namun, jika ditelaah lebih dalam, terutama melalui tafsir Fakhruddin ar-Rāzī, ayat tersebut juga mengandung pelajaran penting tentang psikologi manusia, khususnya terkait kebutuhan akan penghargaan, hubungan timbal balik, dan upaya menjaga keharmonisan sosial.
Baca juga: Menghadapi Rasa Takut: Membedah Ujian Al-Khauf dalam Tafsir Al-Mishbah dan Psikologi
Penghormatan sebagai Kebutuhan Psikologis
Q.S. an-Nisā’ [4]: 86 memerintahkan agar setiap penghormatan dibalas dengan yang lebih baik atau setara. Dalam tafsirnya, Fakhruddin ar-Rāzī menjelaskan bahwa tahiyyah (penghormatan) tidak terbatas pada salam, tetapi mencakup segala bentuk tindakan yang bertujuan memuliakan dan menghargai orang lain. Pemaknaan ini menunjukkan bahwa penghormatan merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial manusia.
Dari sudut pandang psikologi, penghormatan berkaitan erat dengan kebutuhan seseorang untuk diakui keberadaannya. Ketika seseorang mendapat sapaan, ucapan terima kasih, atau bentuk penghargaan lainnya, ia akan merasa diterima dan dihargai. Perasaan tersebut berkontribusi pada kenyamanan emosional dan meningkatkan kualitas hubungan dengan orang lain.
Sebaliknya, ketika penghormatan tidak mendapatkan respons yang layak, seseorang dapat merasa diabaikan atau tidak dianggap. Karena itu, Al-Qur’an tidak membiarkan penghormatan berhenti pada satu pihak saja, melainkan mendorong terjadinya respons timbal balik yang mampu menjaga perasaan kedua belah pihak.
Baca juga: Ketika Negara Memfasilitasi Kecemasan Pemuda
Mengapa Respons Kecil Bisa Menyatukan Hati?
Salah satu penjelasan menarik dari Fakhruddin ar-Rāzī adalah bahwa tujuan perintah membalas penghormatan adalah ta’līf al-qulūb, yaitu menyatukan hati, serta menghilangkan al-wahshah, yakni rasa asing atau keterasingan dalam hubungan sosial. Dengan kata lain, ayat ini tidak hanya mengatur ucapan, tetapi juga mengatur kondisi batin manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan yang harmonis sering kali dibangun melalui hal-hal sederhana. Sebuah sapaan, senyuman, atau jawaban yang ramah dapat membuat seseorang merasa dekat dan diterima. Sebaliknya, sikap dingin atau tidak merespons dapat menciptakan jarak emosional yang perlahan berkembang menjadi ketidaknyamanan dalam hubungan.
Di sinilah letak nilai psikologis ayat tersebut. Al-Qur’an mengajarkan bahwa hubungan sosial yang sehat tidak dibangun melalui tindakan besar semata, tetapi juga melalui perhatian terhadap hal-hal kecil yang menyentuh perasaan manusia. Respons yang baik menjadi sarana untuk mempererat hubungan dan menciptakan suasana sosial yang lebih hangat.
Baca juga: Solitudo Inkomunikabel, Istilah Saat Empati Manusia Mencapai Batas Titik Nadirnya
Resiprositas Emosional: Seni Membalas dengan Baik
Dalam psikologi sosial terdapat konsep yang dikenal sebagai resiprositas, yaitu kecenderungan manusia untuk membalas perlakuan yang diterimanya. Konsep ini tampak jelas dalam Q.S. an-Nisā’ [4]: 86. Namun, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan agar seseorang membalas, melainkan mendorongnya untuk membalas dengan kualitas yang lebih baik.
Perintah untuk membalas dengan yang lebih baik menunjukkan bahwa Islam tidak sekadar mempertahankan hubungan sosial, tetapi juga berusaha meningkatkannya. Jika seseorang menerima penghormatan lalu membalasnya dengan lebih hangat dan lebih baik, maka hubungan yang semula baik dapat berkembang menjadi lebih dekat dan lebih kuat.
Menariknya, ayat ini juga memberikan pilihan untuk membalas secara setara. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memahami kondisi manusia secara realistis. Tidak semua orang selalu mampu memberikan balasan yang lebih baik. Karena itu, balasan yang setara tetap dianggap cukup selama mampu menjaga keseimbangan hubungan dan menghindarkan munculnya perasaan negatif di antara sesama.
Q.S. an-Nisā’ [4]: 86 tidak hanya mengajarkan etika menjawab salam atau membalas penghormatan, tetapi juga mengandung pelajaran mendalam tentang psikologi manusia. Melalui tafsir Fakhruddin ar-Rāzī, ayat ini memperlihatkan bahwa kebutuhan untuk dihargai merupakan bagian dari fitrah manusia yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sosial.
Perintah untuk membalas penghormatan dengan yang lebih baik atau setara merupakan cara Al-Qur’an menjaga keharmonisan hubungan antarmanusia. Penghormatan melahirkan rasa dihargai, respons yang baik menyatukan hati, dan hubungan timbal balik yang sehat mampu menciptakan lingkungan sosial yang lebih hangat.
Dengan demikian, ayat ini mengingatkan bahwa tindakan yang tampak sederhana sering kali memiliki pengaruh besar terhadap perasaan dan kualitas hubungan manusia.
Baca juga: Kesendirian yang Artistik Ala Ibnu Atha’illah dan Imam Syafi’i

![Kenapa Kita Suka Dihargai? Pelajaran Psikologi dari Q.S. an-Nisā’ [4]: 86](https://tsaqafah.id/wp-content/uploads/2026/06/medium-shot-muslim-woman-posing-with-flowers-scaled.jpg)