Akabir ‘anil Ashaghir: Rahasia Kerendahan Hati Ulama dalam Menuntut Ilmu

Akabir ‘anil Ashaghir: Rahasia Kerendahan Hati Ulama dalam Menuntut Ilmu

18 Februari 2026
109 dilihat
3 menits, 1 detik

Sejak dahulu, usia dan kedudukan tidak menjadi pertimbangan utama dalam menuntut ilmu. Fenomena ini telah terjadi dari zaman periwayatan hadis Nabi SAW. Tradisi tersebut telah berlangsung sejak zaman shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga ulama-ulama setelahnya. Para ulama dengan lapang dada menerima riwayat hadis dari siapa pun, tanpa memandang usia maupun kedudukan. Mereka mengambil riwayat-riwayat dari para guru, baik guru yang lebih tua, lebih muda, maupun sebaya.

Walaupun begitu, para ulama tetap memiliki prinsip, adab, dan kriteria dalam menerima suatu ilmu demi menjaga keotentikan dan kemurniannya. Dalam periwayatan hadis, misalnya, seorang periwayat dinilai sah keilmuannya jika memiliki kepribadian tepercaya (kredibilitas) dan kecerdasan (intelektual). Selain itu, riwayat yang disampaikan tidak boleh menyelisihi Al-Qur’an, riwayat lain yang kualitasnya lebih kuat, dan tidak bertentangan dengan akal sehat.

Baca juga Faedah Ilmu sebagai Pelita Kehidupan

Mengenal Makna dan Konsep Akabir ‘anil Ashaghir

Dengan cara-cara tersebut, otentisitas dan validitas ilmu akan terjaga, terlepas dari usia ataupun kedudukan penyampainya. Prinsip ini berlaku universal dan masih relevan hingga hari ini dalam dunia akademik, khususnya studi hadis. Dalam sejarah periwayatan hadis, terdapat beberapa bentuk penerapan prinsip tersebut, yaitu munculnya bentuk periwayatan Akabir ‘anil Ashaghir. Istilah ini memiliki dua cakupan makna.

Pertama, dimaknai sebagai seseorang yang usianya lebih tua menerima hadis dari orang yang lebih muda. Contohnya ayah meriwayatkan dari anak atau guru meriwayatkan dari murid. Kedua, dimaknai sebagai periwayatan seseorang yang kedudukannya lebih tinggi menerima hadis dari seseorang yang kedudukannya lebih rendah. Contohnya shahabat meriwayatkan dari tabi’in atau tabi’in meriwayatkan dari tabi’ut tabi’in.

Keteladanan Imam Malik dalam Tradisi Akabir ‘anil Ashaghir

Sebagai contoh, sebuah sanad hadis dalam Muwatha’ Malik Nomor 754, disebutkan bahwa Imam Malik (lahir 93 H dan wafat 179 H) meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Dinar (wafat 127 H). Imam Malik merupakan ulama besar Madinah yang saat itu menjadi rujukan ulama hadis dan fikih, tetapi ia tidak segan meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Dinar yang kedudukannya lebih rendah, yaitu periwayat biasa.

Contoh lainnya, sanad hadis dalam Sunan at-Tirmidzi Nomor 1794, disebutkan bahwa Yahya bin Sa’id al-Anshari (lahir sekitar 70 H) yang berusia lebih tua, meriwayatkan hadis dari Imam Malik yang usianya lebih muda. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang lebih tua tidak perlu gengsi jika memperoleh ilmu dari yang lebih muda. Tradisi ini menjadi bukti bahwa ilmu tidak berbicara soal usia dan kedudukan, melainkan tentang kebenaran. Selama ilmu yang dibawanya sahih, maka ilmu tersebut bisa diterima.

Baca juga Pengajian Gus Baha: Tingginya Derajat Mencari Ilmu

Kerendahan Hati sebagai Sumber Kemuliaan Ilmu

Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Unzhur Maa Qaala wa Laa Tanzhur Man Qaala”. Arti pepatah tersebut yaitu, lihatlah apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Allah Swt. dapat menitipkan ilmu kepada siapa pun, tidak terikat usia, kedudukan, bahkan pengalaman hidup. Sebagaimana para ulama terdahulu yang telah memberikan keteladanan bahwa ilmu bisa datang dari siapa saja, termasuk dari orang yang lebih muda ataupun yang kedudukannya lebih rendah. Mereka telah menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa.

Periwayatan Akabir ‘anil Ashaghir bukan sekadar persoalan intelektual saja, tetapi juga tentang urusan hati. Tidak sedikit orang yang menyangkal dan enggan menerima kebenaran dari yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya karena gengsi. Rasa gengsi ini kerap kali muncul saat seseorang merasa takut dinilai kurang kompeten, sehingga menutup diri dari kebenaran yang ada. Padahal bisa jadi sebaliknya, dalam bidang tertentu, orang yang lebih muda justru lebih kompeten, wawasannya lebih luas, dan pengetahuannya lebih mutakhir.

Baca juga Aktualisasi Makna Ta’dzim di Pesantren

Pentingnya Adab dan Validitas Ilmu

Dengan demikian, pembahasan Akabir ‘anil Ashaghir ini menitikberatkan pada kerendahan hati. Sikap tersebut menjadi sumber kemuliaan bagi siapa pun yang menerapkannya. Orang yang terbuka terhadap ilmu dari berbagai arah, akan lebih mudah maju dan berkembang. Sementara itu, orang yang menutup diri hanya karena usia dan kedudukan penyampainya, justru akan kehilangan banyak kesempatan dalam memperoleh hikmah.

Pada akhirnya, menuntut ilmu adalah perjalanan seumur hidup. Sebagai penuntut ilmu, jangan sampai fokus kita tertuju pada hal-hal yang kurang signifikan, tetapi justru terhadap hal-hal yang substantif, yaitu keabsahan suatu ilmu. Selain itu, penuntut ilmu juga harus memiliki sifat rendah hati, yang dapat menerima ilmu dari mana pun sumbernya, selama itu valid dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya tanpa didominasi oleh usia maupun kedudukan semata.

Baca juga Meluruskan Garis Pembeda antara Adab dan Feodalisme

Profil Penulis
Savira Dwi Aryanti
Savira Dwi Aryanti
Penulis Tsaqafah.id
Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

2 Artikel

SELENGKAPNYA