Memasuki abad ke-17, tepatnya pada tahun 1633, Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam mengambil langkah revolusioner yang mengubah wajah sosiokultural Jawa selamanya. Beliau secara resmi menyatukan kalender Saka yang berbasis matahari dengan kalender Hijriah yang berbasis bulan.
Tsaqafah.id – Langkah kaki di tanah Jawa saat fajar Syawal menyingsing selalu disambut oleh suasana yang unik. Ada getaran magis yang merambat di sela gema takbir, sebuah atmosfer yang memadukan kesalehan religius dengan keteguhan adat yang presisi.
Bagi banyak orang, fenomena ini memicu rasa penasaran yang mendalam. Bagaimana rangkaian ritual yang detail ini bermula hingga menjadi napas kehidupan masyarakat Jawa secara luas.
Pertanyaan tersebut membawa saya, Hafizhaturrahmah, seorang mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum, untuk menemui Ibu Rohimah, M.Fil.I. Beliau merupakan Dosen Sejarah Peradaban Islam sekaligus Koordinator Bidang Mahad Putri Mahad Al-Jami’ah UINSA yang menetap di kawasan Wonocolo, Surabaya.
Di sebuah sudut asrama yang teduh, sembari aroma teh hangat mengepul, perbincangan kami mengalir menelusuri lorong waktu sejarah yang membentuk wajah Lebaran di tanah Jawa.
“Pertanyaan yang cerdas, Nak,” ujar Ibu Rohimah dengan senyum teduh sembari menuangkan teh. “Memang, kalau kita mau telusuri, ini adalah hasil perpaduan tiga zaman yaitu zaman Wali, zaman Kerajaan, dan zaman Kemerdekaan. Mari kita bedah satu per satu.
“Penelusuran sejarah membawa kita kembali ke masa keemasan dakwah Islam di pesisir utara Jawa pada abad ke-15. Sosok Sunan Kalijaga hadir sebagai arsitek budaya yang jenius dalam menerjemahkan ajaran langit ke dalam bahasa bumi yang mudah dimengerti. Beliau memadukan ajaran agama dengan kearifan lokal melalui simbol visual yang kuat bernama Kupat.
Baca juga Desa Mawa Cara: Ketahanan Sosial yang Tak Dimiliki Kota
Pada masa itu, masyarakat sangat menghormati padi sebagai sumber kehidupan. Sunan Kalijaga mengambil simbol tersebut dan memberikan ruh baru sebagai media dakwah.
Kupat diperkenalkan sebagai hidangan meja makan sekaligus media instruksional yang bercerita tentang pengakuan kesalahan. Nama Kupat merupakan akronim dari ‘Ngaku Lepat’. Anyaman janur yang rumit dan saling silang mencerminkan kesalahan manusia yang bercabang dan membingungkan. Ketika anyaman itu ditarik dan dibelah, di dalamnya terdapat nasi putih padat yang melambangkan kesucian hati setelah menunaikan ibadah puasa sebulan penuh.
Inilah titik awal dari lahirnya konsep Bakda Lebaran dan Bakda Kupat yang dilaksanakan hingga hari ini. Pasangannya adalah Lepet yang memiliki arti ‘Silep Ingkang Rapet’ atau perintah untuk mengubur kesalahan dalam-dalam setelah dimaafkan.
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini mendapatkan legitimasi politik yang kokoh. Memasuki abad ke-17, tepatnya pada tahun 1633, Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam mengambil langkah revolusioner yang mengubah wajah sosiokultural Jawa selamanya. Beliau secara resmi menyatukan kalender Saka yang berbasis matahari dengan kalender Hijriah yang berbasis bulan.. Kebijakan ini merupakan diplomasi budaya tingkat tinggi yang mengubah hari raya keagamaan menjadi perayaan kenegaraan yang terstruktur.
Melalui dekrit tersebut, Idul Fitri dirayakan hingga merambah ke alun-alun dan bangsal keraton. Munculnya Grebeg Syawal di lingkungan istana menjadi simbol bahwa kebahagiaan hari raya harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat secara merata. Raja mengeluarkan Gunungan hasil bumi untuk diperebutkan oleh rakyat sebagai bentuk sedekah dan syukur. Peristiwa ini mengukuhkan Idul Fitri sebagai identitas pemersatu bangsa Jawa yang menyatukan antara pusat kekuasaan dan rakyat jelata dalam satu frekuensi kegembiraan.
Dimensi emosional perayaan ini semakin mengental melalui ritual Sungkeman yang menjadi standar etika dalam keluarga. Tradisi yang dikenal luas sekarang ini merupakan kristalisasi protokol dari Pangeran Sambernyawa atau KGPAA Mangkunegara I di Surakarta pada abad ke-18.
Pasca peperangan panjang, beliau memandang perlunya sebuah mekanisme rekonsiliasi untuk menjaga stabilitas mental dan sosial para pengikutnya. Sungkeman menetapkan standar etika bahwa meminta maaf memerlukan penanggalan ego secara total.
Posisi tubuh yang merendah hingga bersimpuh di hadapan orang tua merupakan manifestasi dari kerendahan hati yang dalam. Dalam tradisi ini, seorang anak melepaskan segala atribut kesuksesan duniawinya untuk kembali ke pangkuan asal-usulnya. Penggunaan bahasa Krama Inggil dalam prosesi ini menjadi instrumen komunikasi batin yang halus.
Bahasa tersebut merupakan alat komunikasi sekaligus bentuk penghormatan tertinggi yang menggetarkan hati baik yang mengucapkan maupun yang mendengar. Di sinilah terjadi proses Ngalap Berkah, sebuah pencarian restu yang dipercaya akan mempermudah jalan hidup di masa depan.
Kejutan sejarah berlanjut hingga masa modern. Istilah Halalbihalal yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kamus besar bangsa Indonesia lahir dari situasi krisis politik nasional yang genting. Pada tahun 1948, atas saran KH Abdul Wahab Chasbullah kepada Presiden Soekarno, pertemuan silaturahmi besar digelar untuk mencairkan ketegangan para elit politik pasca-kemerdekaan.
Baca juga Kapan Lebaran Ketupat 2023? Ini Filosofi Ketupat Menurut Budayawan Kiai Jadul Maula
Nama tersebut (Halal bihalal) secara harfiah berarti saling menghalalkan segala kesalahan demi persatuan bangsa. Tradisi ini kemudian meledak secara populer dan dipraktikkan oleh seluruh lapisan masyarakat di Jawa sebagai ajang reuni dan rekonsiliasi sosial yang masif.
Di berbagai wilayah Jawa, tradisi ini terus bernapas secara dinamis dengan karakteristik yang beragam namun tetap satu akar. Karakter masyarakat pesisir yang egaliter dan terbuka membuat perayaan terasa inklusif dan meriah. Di pedalaman yang kental dengan pakem keraton, suasana lebaran terasa lebih kontemplatif dan penuh tata krama yang artistik.
Di mana pun lokasinya, tradisi berbagi makanan atau Ater-Ater tetap terjaga dengan etika piring yang kembali dalam keadaan terisi. Hal ini menjadi bukti bahwa sirkulasi kasih sayang antar-warga tetap menjadi prioritas utama dalam menjaga harmoni sosial.
Setiap rumah di Jawa saat lebaran menjadi oase kedamaian. Pintu terbuka lebar bagi tamu, dan meja makan senantiasa penuh dengan sajian. Kebiasaan mengantar makanan kepada tetangga sebelum hari raya tiba merupakan jaring pengaman sosial yang memastikan setiap orang di lingkungan tersebut merasakan kemeriahan kemenangan. Inilah yang membuat perayaan di Jawa terasa komunal dan hangat, sebuah perasaan yang membawa para perantau pulang ke rumah yang sesungguhnya.
Idul Fitri di tanah Jawa membuktikan bahwa agama dan budaya berjalan secara selaras. Tradisi tersebut merupakan pengingat bahwa di atas segala perbedaan status sosial, pencapaian akademik, atau latar belakang ekonomi, harmoni dan rasa hormat adalah pondasi utama dalam membangun peradaban yang beradab.
Perjalanan dari anyaman janur Sunan Kalijaga hingga meja makan Halalbihalal Presiden Soekarno menunjukkan bahwa masyarakat Jawa memiliki cara yang elegan untuk menjaga persatuan melalui jalur kultural.
Bagi generasi muda, memahami sejarah ini adalah langkah meresapi nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Setiap suapan Kupat membawa memori tentang kerendahan hati, dan setiap jabat tangan Sungkeman membawa pesan tentang restu orang tua. Tradisi ini terus bertahan melintasi zaman selama nilai-nilai kemanusiaan tersebut tetap dijaga dengan penuh cinta.
Tanah Jawa dengan segala kerumitan adatnya menjadi pelabuhan batin yang menenangkan bagi siapa pun yang bersedia menyelami kedalaman maknanya.Seluruh rangkaian tradisi ini bermuara pada satu prinsip hidup masyarakat Jawa yang selalu mengutamakan kedamaian batin dan keselarasan sosial melalui peribahasa luhur; “Mangan ora mangan kumpul, jer basuki mawa beya, rukun agawe santosa.”
Baca juga Mencari Makna (6): Berkaos di Hari Raya

