Apabila Kita Terjun Kedalam Mimbar Virtual Agama

Bukankah menguatnya nilai-nilai keimanan merupakan hal yang positif? tentu saja, meningkatnya spirit keberagamaan merupakan hal baik bagi stamina keberagamaan di Indonesia.

Tsaqafah.id – Menguatnya paham ekslusifitas agama belakangan ini sekilas menampakkan lokus keberagamaan Indonesia yang mempunyai banyak wajah. Era dimana agama kini dikelola secara desentralis melalui kanal-kanal daring, memudahkan taburan ajaran ekslusif-radikalis, yang rentan tertanam di benak Muslim tempo hari.  

Keberagaman ini, sekilas juga menandai kebangkitan religiusitas masyarakat Indonesia. Persebaran tayangan-tayangan televisi, film, media sosial yang bernuansa islami telah banyak melahirkan semacam “keimanan baru”.

Bukankah menguatnya nilai-nilai keimanan merupakan hal yang positif? tentu saja, meningkatnya spirit keberagamaan merupakan hal baik bagi stamina keberagamaan di Indonesia.

Namun menilik beberapa fakta pengelolaan agama yang belakangan terjadi mempertontonkan bahwa, mimbar virtual kini menjelma menjadi mimbar anyar yang tidak hanya dijadikan sebagai alat penggiring opini melainkan sekaligus menjadi alat mobilisasi virtual community.

Sejauh ini, podium virtual memiliki hubungan fluktuatif dengan kaum milenial. IDN Research Institute 2019 menemukan bahwa 97 % milenial melihat TV dan sebanyak 55 %mengakses media digital untuk mengetahui berita terkini.

Sementara itu, Kemenag merespon prasangka kebudayaan itu dengan mendesiminasi moderasi beragama.

Baca Juga: Syaikh Prof. Dr. Muhammad Muhanna: Pentingnya Belajar Agama Secara Metodologis

Pendidikan moderasi beragama dibangkitkan melalui penerimaan fakta sejarah bahwa Indonesia beragam dan tempat menginang bagi beberapa penganut agama. Di samping tekstur radikalisme agama merupakan barang asing bagi kebudayaan Indonesia.

Dua Keimanan

Keimanan atau ketakwaan memiliki relasi antara pemuda dan pembentukan karakter (character building) yang, lama diusung oleh founding father’s bangsa Indonesia. Pemuda yang berperan sebagai katalisator perubahan adalah aset bangsa dalam mempertahankan kedaulatan itu.

Sejauh ini, pengelolaan ketakwaan Muslim Indonesia di era revolusi digital terus mengerucut dalam kanal islamis-radikal. Meskipun, tidak sedikit dari muslim yang mencoba mengaktualisasikan nilai-nilai keislaman inklusif . . . . . . dalam ritus ibadah sosial (muamalah). Sialnya, kenderungan miopik masih menjangkiti pandangan hidup kita. Mengukur secara subjektif apa yang kini terjadi dan abai terhadap masa depan.

Daripada itu, perlu diperjelas ruas makna takwa, pertama, “takwa preventif”, merupakan nilai ketakwaan kepada Tuhan dengan cara mentaati perintah serta menjauh larangannya (amr ma’ruf nahi munkar).

Kedua adalah “takwa inovatif”, merupakan ketakwaan yang didorong tidak hanya oleh pesan moral amar ma’ruf nahi munkar, ia juga diperkuat oleh kehausan dalam memodifikasi seluruh ciptaan Tuhan (al-Baqarah 2: 190-191).

Dalam konteks kekinian, takwa inovatif ini tidak hanya terpaku pada penguasaan teknologi digital melainkan sekaligus konsen pada pembangunan narasi dan konten-konten yang mendamaikan, sebagai bagian dari proses mengonter hegemoni dari ajaran-ajaran islamis-radikal yang tersebar di dunia maya. Sudah saatnya rasa berdigital (sense of digitalizing) diikuti oleh rasa kemanusiaan (sense of humanity) Allah swt berfirman dalam surat at-Thalaq 65:11:

Baca Juga: Panduan Menyambung Obrolan Renyah dengan Umat Beda Agama

رسولا يتلوا عليكم ءايت الله مبينت ليخرج الذين أمنوا وعملوا الصلحت من الضلمت الى النور

Artinya: “(dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya..” (at-Thalaq 65:11)

Rasulullah saw sebagai penyampai ajaran profetik menuntun orang-orang beriman untuk beramal saleh: mengajak mereka keluar dari kegelapan menuju kebajikan dan menebar kasih sayang. Sedangkan Tuhan memberikan dua imbalan bagi mereka yang bertakwa, yakni kemudahan dalam setiap urusan dan dilebarkan pintu rezeki dan kemudahan dalam setiap urusannya.

Ala kulli hal, internalisasi nilai ketakwaan menjadi modal sosial (capital social) muslim milenial dalam melahirkan gagasan inovatifnya yang dibalut dengan asas kasih sayang, kebhinnekaan dan kebangsaan. 

#berislamdengancinta

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Kartini, Gadis 13 Tahun yang Membuat Sang Mahaguru Menangis

Next Article

8 Syarat dan Tata Cara Istinja (Cebok) Menggunakan Batu

Related Posts