Syaikh Prof. Dr. Muhammad Muhanna: Pentingnya Belajar Agama Secara Metodologis

Permasalahannya hari ini adalah perbedaan antara ilmu dan informasi.

Tsaqafah.id – Memasuki teknologi internet, arus informasi kian semakin cepat. Segala pemberitaan bisa didapatkan dari berbagai media. Dengan berbekal smartphone kini kita bisa belajar apapun, termasuk belajar ilmu keagamaan juga dari internet. Ini semua adalah hal yang lumrah dimana teknologi telah memungkinkannya.

Namun, dengan segala informasi yang ada juga harus dibarengi dengan kemampuan memilah-milah sehingga kita dapat mendapatkan manfaat dari suatu informasi. Banyaknya berita hoax di internet telah menjadi ancaman dari kemajuan informasi. Suatu kabar yang tidak disampaikan dengan benar dan baik tentulah hanya akan menjadi sumber masalah baru.

Agar tidak terjebak pada pemahaman yang keliru ketika belajar melalui internet, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu perbedaan antara informasi dengan ilmu. Dalam kajiannya yang rutin diselenggarakan di masjid Al-Azhar Syarif, Cairo. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Muhanna, Penasehat Imam Besar menguraikan perbedaan antara informasi dan ilmu, berikut penjelasannya;

Dari Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari, Syaikh Muhanna menguraikan penjelasannya,

وقال – صلى الله عليه وسلم – إن الله لا ينزع العلم انتزاعاً من الناس بعد أن يؤتيهم إياه ولكن يذهب بذهاب العلماء فكلما ذهب عالم ذهب بما معه من العلم حتى إذا لم يبق إلاَّ رؤساء جهالاً أن يسألوا أفتوا بغير علم فيضلون ويضلون

Baca Juga: Takwa Inovatif, Jalan Milenial Menggerus Radikalisme Agama

“Sesungguhnya Allah benar-benar tidak mengangkat ilmu dari manusia. Setelah Dia memberikan ilmu pada mereka. Namun ilmu pergi bersama perginya para ulama. Tiap orang alim pergi, ilmu yang bersamanya juga pergi. Hingga ketika tidak ada orang alim yang tersisa. Manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Jika mereka ditanya, mereka menjawab tanpa ilmu. Maka mereka menjadi sesat dan menyesatkan. “

Permasalahannya hari ini adalah perbedaan antara ilmu dan informasi. Syaikh Muhanna menjelaskan bahwa informasi berkaitan dengan jumlah (kuantitas), sedangkan ilmu dengan metode (methodology).

Informasi bisa didapatkan dari melihat berita, atau membaca surat-surat kabar baik online maupun offline, itu semua adalah bentuk informasi. Lebih lanjut Syaikh Muhanna menerangkan, bahwa ilmu terkait dengan metode. Jika informasi tidak digunakan sesuai dengan metode ilmiah, maka akan merugikan dan tidak bermanfaat.

Syaikh Muhanna . . . . . . mencontohkan, seperti banyaknya orang yang hafal al-Qur’an dan hafal Hadis, namun tidak mempunyai metode ilmiah. Maka ia tidak bisa menggunakan al-Qur’an dan Hadis yang dihafalnya sesuai dengan kaidah ilmu. Hingga akibatnya ia akan menghalalkan darah manusia, membunuh, mengkafirkan, serta berbuat kerusakan di dunia dengan informasinya tersebut. Atas perbuatan-perbuatan mereka yang menanggung konsekuensinya adalah Islam.

Baca Juga: Pesantren Online, Kenapa Tidak?

Syaikh Muhanna juga menerangkan bahwa yang menyebabkan islamophobia dan ketakutan pada islam adalah karena aksi-aksi mereka yang berdalih pada Al-Qur’an dan Sunah. Mereka berkata dengan menyandarkan pada ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw. Namun, yang menjadi permasalahannya bukan terletak pada al-Quran dan hadis yang mereka gunakan melainkan dari apa yang di firmankan Allah Swt dan yang di sabdakan Rasulullah Saw. Sehingga permasalahannya/urusannya terletak pada cara memahami firman Allah Swt dan hadis Nabi Saw.

Syaikh Muhanna berpesan kepada kita agar tidak mencari ilmu pada tukang lembaran dan dari tukang mushaf. Maksud dari tukang lembaran ialah ia mendapatkan dan mencari ilmu dari lembaran buku (saja), tidak dari para guru, tidak dengan berguru pada orang yang lebih berilmu dan lebih alim. Maka jangan mencari ilmu pada orang yang tidak mendapatkannya dari para guru. Sesungguhnya apa yang membedakan dalam agama ini adalah sanad, ketersambungan, dimana terus menyambungkan dari ulama-ulama sebelumnya hingga sampai pada Rasulullah Saw.

Al-Qur’an dan hadis adalah ilmu, namun yang dapat menggalinya adalah para ulama-ulama. Inilah dapat dipahami bahwa Allah Swt mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama. Hingga seorang yang hanya belajar dari buku saja maka sesungguhnya ia lebih dekat dengan kesesatan daripada kebenaran, lanjut Syaikh Muhanna.

Waba’du, semoga kita diberikan kelapangan untuk terus mengaji pada para guru-guru kita, menggali dan memperdalam agama dengan para ulama disamping dengan banyak membaca. Aamiin.

*Tulisan ini disarikan dari kajian Syaikh Prof. Dr. Muhammad Muhanna, berikut video aslinya;

https://www.youtube.com/watch?v=DdPLnqp7HZ4

المكتبة الشاملة الحديثة

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Semacam Seni Membangunkan Orang Tidur yang Sia-Sia

Next Article

Soal Empati, Kita Mesti Belajar kepada Kernet Bus!

Related Posts