Panduan Menyambung Obrolan Renyah dengan Umat Beda Agama

Kami tidak hanya berbagi meja dan tempat duduk, ada makanan ringan yang tersaji yang berkali-kali kutawarkan kepadanya.

Tsaqafah.id – “Berkah ndalem”, ucap seorang lelaki paruh baya di sebelahku kepada orang yang baru datang, yang maaf, berukuran cebol di sebuah taman. Duduk di sebelah lelaki paruh baya yang kekar tapi melambat gerak tubuhnya itu membuatku pekewuh untuk tidak ikut mengangguk, sekedar membalas sapaan—yang asing bagi lingkunganku di pesantren. Sebenarnya tidak begitu asing, tapi saya belum juga mengerti.

Sembari menyambung dialog ringan, pikiranku sudah kejar-mengejar hingga terbesit pertanyaan pendek, salam jenis itu apakah masih ada kaitannya dengan Kraton Ngayogyakarta? Benarkah sebagai jenis manusia yang diistimewakan kraton (abdi dalem palawija), salam kepada orang cebol harus seperti itu?

Pertanyaan yang kadung menjejali pikiran itu urung kutanyakan juga. Meski gamang, saya enggan beranjak dan tetap memposisikan diri sebagai temang ngobrol yang sederajat. Sebelum akhirnya kami memasuki lokasi acara. Saya beranikan diri untuk itibak lelaki dempal tersebut, sekedar mengudarasa dan menuntaskan rasa penasaran.

Di lokasi acara, kami tidak hanya berbagi meja dan tempat duduk, ada makanan ringan yang tersaji yang berkali-kali kutawarkan kepadanya. 

Usai bercakap ringan, akhirnya keberanianku menebal. Selesai dengan dua pertanyaan pembuka, giliran pertanyaan yang menjejal kepala tadi kumuntahkan.

“Mohon maaf pak, apa benar salam ‘berkah ndalem’ tadi sampean ucapkan karena orang cebol itu bagian dari kraton?”

“Tidak mas, itu salam yang biasa kami pakai buat menyapa sesama umat Katolik.” Jawab sang bapak halus, melegakan.

Baca Juga: Kisah Umar bin Khattab dan Perempuan Pedagang Susu

Sudah begitu, bapak itu mengimbuhi jawaban dengan romansa kehangatan kepada orang-orang Islam, terutama santri. “Saya itu senang dekat dengan santri. Tetangga saya banyak yang orang pesantren. Sering satu-dua anak pesantren main ke rumah saya.”

Jawaban itu mencairkan obrolan kami yang sedarinya gamang. Tapi apa yang membuat bapak senang dekat dengan santri? Usut punya usut, lelaki paruh baya itu punya ingatan buruk atas perilaku umat beriman yang menggunakan dalih agama tapi merusak. Banyak dari tetangganya yang menjadi bulan-bulanan . . . . . . sebab tidak mengikuti aturan agama yang berjalan di wilayahnya, di kota Yogyakarta.

Agama yang Bersambungan

Pengalaman ini hanya secuil dari seabrek pengalaman lintas iman yang dialami oleh orang lain.  Secuil pengalaman ini mengingatkan saya pada salah satu ibrah peristiwa besar yang dialami Nabi Muhammad  Saw. Peristiwa yang dalam bahasa Islam tergolong sebagai mukjizat dan diperingati sebagai perintah awal ritual shalat itu adalah Isra’ Mi’raj.

Lewat pemahaman sejarah dalam melihat Isra’ Mi’raj, mukjizat itu memiliki salah satu dimensi sebagai peristiwa napak tilas Nabi Muhammad untuk melihat sambungan dari misi beliau dengan misi nabi-nabi sebelumnya yang dalam konteks Timur Tengah, sebagian besar adalah keturunan nabi-nabi Israil. Israil artinya hamba Allah. Ia adalah gelar Nabi Ya’qub, anak dari Nabi Ishak, cucu dari Nabi Ibrahim.

Baca Juga: Perkara Sandal Jepit dan Kaum Tipis Iman Menyifati Tuhan

Peristiwa fenomenal dan monumental ini menjadi titik berangkat penyegaran kembali Nabi kita tentang tugas suci beliau sebagai akhir dari para Nabi dan rasul (khatamu al-anbiyaa’ wa al-mursaliin). Namun sayang, refleksi peristiwa besar itu kebanyakan terhenti pada ruang teologis dan historis. Hanya sedikit yang mengulik sisi panjang dari sejarah sosial mukjizat tersebut.   

Sore hari sebelum diperjalankan di atas Buroq oleh Allah Swt, Nabi Muhammad sempat berkunjung ke rumah saudaranya yang belum memeluk Islam.  Di Yerussalem Nabi mendapat pengalaman shalat bersama semua nabi yang pernah ada dan beliau sendiri menjadi imam. Pengalaman spiritual karena nabi-nabi itu sudah meninggal, dan orang yang sudah mati tidak akan kembali hidup.

Di Masjid Aqsa Yerussalem (al-Quds) memperlihatkan gambaran bagaimana ia menjadi pembimbing manusia dalam kehidupan religius dan spiritual.

Oleh karena manusia membutuhkan nubuwwah, manusia harus dibangunkan dari mimpi buruknya oleh orang yang sadar untuk menemui kebangkitan jiwa dan raga dan menggapai keharuman batin dengan membaiki sesama. Konteks kebangkitan ini menjadi penting terutama di dunia modern, dimana agama telah jauh tercerai dari aspek kehidupan lain. Semoga!

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Ekspresi Beragama di Masa Corona

Next Article

Aktivitas-Aktivitas Sunnah Ketika Berpuasa

Related Posts