Belajar Ekologi sampai Ekofeminisme Lewat Film Animasi Ghibli “Princess Mononoke”

Tsaqafah.id – Studio Ghibli banyak menuai pujian dunia internasional akan garapan film-film animasinya yang luar biasa. Anime yang bisa dinikmati mulai dari anak-anak hingga dewasa ini sangat kaya akan unsur imajinasi. Lebih dari itu, tak sedikit di antaranya mengusung isu lebih serius. Misalnya saja kampaye anti-war lewat film “Grave of the Fireflies” yang disutradarai Isao Takahata. Kisah tentang dua anak yatim piatu bersaudara pada zaman pasca Perang Dunia II di Jepang ini begitu mengharukan.

Dari sutradara Hazao Miyazaki, ada satu film yang kental dengan isu lingkungan: Princess Mononoke. Film Princess Mononoke menghadirkan ide tentang hubungan ideal antara manusia dan alam. Meski sudah dirilis 20 tahun lalu, isu yang diangkat dalam film berdurasi 133 menit itu masih relevan hingga saat ini, saat di mana kampanye lingkungan makin masif digaungkan.

Film ini menceritakan bagaimana manusia mulai mengambil alih bumi dan membuat beberapa kerusakan baik secara fisik maupun spititual (membuat dewa marah). Dengan kemasan animasi, film ini berhasil mempertanyakan persoalan paling krusial yang harus dipecahkan di era antroposen – sebutan untuk epos baru di mana aktivitas manusia membawa pengaruh signifikan terhadap ekosistem bumi, ini: bagaimana manusia bisa memanfaatkan alam, tanpa merusaknya?

Princess Mononoke berlatar era Muromachi di Jepang. Selama periode ini, terlihat ketegangan yang jelas antara alam dengan segala kearifannya dan upaya manusia untuk mengeksploitasinya. Film ini dibuka oleh petualangan Ashitaka, seorang pangeran dari desa Emishi yang sedang mencari obat untuk kutukan yang disebabkan oleh Dewa Iblis. Perjalanan tersebut melibatkannya ke dalam konflik antara dua pemimpin perempuan dan komunitas mereka: seorang pengeksploitasi hutan dan penjaga lingkungan.

Berpihak pada modernisasi atau ekologi?

Alam yang dalam film ini diwakili oleh hutan dimaknai sebagai makhluk hidup. Di dalam hutan, hiduplah sejumlah roh (spirits) yang dipercaya dapat menjaga keseimbangan hidup. Semua entitas hutan seperti hewan dan tumbuhan mempertahankannya mati-matian. Dalam film ini, roh-roh hutan memiliki arti penting sebagai . . . . . . sumber pengetahuan atau nilai, bahkan turut menentukan sikap mereka.

San, seorang gadis yang tumbuh di suku serigala benar-benar merepresentasikan seorang ekologis. Dia, mewakili entitas hutan, percaya pada tatanan alam, keterhubungan di antara semua makhluk hidup. Dia tidak bisa menerima kehadiran orang-orang yang mendominasi alam demi mereka.

Baca juga: Menyikapi Bencana Alam Secara Bijak

Sedangkan potret modernisasi diperlihatkan oleh sosok Lady Eboshi. Dia adalah seorang wanita revolusioner yang memiliki pabrik besi di dekat hutan. Ia memimpin para pekerjanya dengan karismatik dan menempatkan perempuan pada posisi strategis sebagai pengolah pasir besi. Dia menyangkal semua mitos hutan. Perhatiannya adalah bagaimana mendapatkan keuntungan yang maksimal dari alam.

Film ini pada dasarnya menunjukkan pertentangan antara kelompok modernis dan ekologis. Namun, animasi ini tidak dihadirkan dalam warna hitam putih. Ashitaka sebagai protagonis, menempatkan dirinya di tengah. Dia berjuang untuk alam dan perdamaian manusia. Dalam pikirannya, manusia dan alam bisa hidup berdampingan. Oleh karena itu, dalam film tersebut ia mencoba untuk mendamaikan kubu ekologis dan modernis selama perang berlangsung di antara mereka. Hingga akhir film, hubungan ideal antara keduanya tetap menjadi pertanyaan yang belum terjawab.

Ekofeminisme

Penekanan karakter wanita dalam film ini menurut saya bukan tidak disengaja. Hayao Miyazaki, sang sutradara film, menggunakan pendekatan feminis dalam memahami ekologi, yang sesuai dengan konsep ekofeminisme. Dalam film tersebut, ia menempatkan perempuan bukan sebagai sosok yang “diobjekkan” di bawah pemeran utama laki-laki. Perempuan memiliki peran penting sebagai pengambil keputusan terhadap alam. San, digambarkan sebagai seorang pencinta lingkungan yang memiliki kepedulian terhadap ekologi, sekaligus berjuang memimpin gerakan. Dalam paradigma ekofeminisme, kerusakan alam umumnya disebabkan oleh dominasi laki-laki terhadap kelompok bawahan yang tertindas seperti perempuan, orang kulit berwarna, anak-anak dan orang miskin. Perjuangan San dalam Princess Mononoke dapat dibaca sebagai aktivisme pihak subordinat-feminis, meski tidak ada gambaran yang jelas tentang kondisi patriarki di sana.

Baca juga: Membuka Diskusi tentang Ruang Aman Perempuan dari Film Wadjda

Total
0
Shares
Previous Article

Menolak Lupa Founding Mothers Indonesia

Next Article

Ajaran Spirit Berbagi KH. Ahmad Dahlan

Related Posts