Bisakah Kita Melerai Kekerasan dari Islam?

Tarik-ulur opini yang bernada kutukan menyebut bahwa kekerasan sebagai perilaku tidak identik dari ajaran Islam yang damai

Tsaqafah.id – Aksi terorisme terjadi kembali. Kali ini, polemik kekerasan dan kebiadaban tersebut terjadi di Gereja Katedral Makasar dalam ibadah misa Minggu Palma (28/3). Seperti aksi-aksi serupa yang pernah terjadi sebelumnya, kekerasan tersebut ditengarai didasari oleh ideologi agama yang menekankan pentingnya jihad dan jaminan mati syahid.

Pada umumnya, jamak aksi bom bunuh diri digerakkan oleh kelompok ideologis salafi-jihadi seperti al-Qaeda dan Islamic State (IS) yang menggunakan taktik ini tanpa pandang bulu dalam memilih target mereka,  bahkan tempat ibadah yang dalam catatan sejarah Islam saat kondisi perang pun menghancurkan rumah ibadah tidak diperbolehkan. 

Aksi kekerasan berupa bom bunuh diri (suicide bombing) menurut rilis Kepolisian ditengarai dilakukan oleh pasutri yang baru 6 bulan menikah. Suaminya bahkan meninggalkan surat wasiat kepada orang tuanya yang isinya mengatakan bahwa yang bersangkutan sudah berpamitan dan siap mati syahid (istishhad).

Menurut pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh, Al Chaidar, meyakini pelaku pengeboman di depan Gereja Katedral Makassar merupakan bagian dari jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) yang berafiliasi ke ISIS.

Perihal bom bunuh diri, sejarah modern bom bunuh diri sendiri terjadi di Lebanon pada awal tahun 1980. Kejadian itu menandai keberhasilan militer Hizbullah dalam perjuangan mereka melawan tentara Amerika Serikat, dan Israel bertanggung jawab atas adopsi taktik tersebut oleh kelompok lain. Menariknya, mereka yang mencoba meniru kesuksesan Hizbullah berasal dari beragam ideologi.

Usaha meneroka fenomena bom bunuh diri ini tidak bisa dilepaskan dari kajian sosiologis yang dilakukan oleh Emile Durkheim, Durkheim’s Suicide yang pertama kali terbit pada tahun 1987. Bagi Durkheimian, faktor non-sosial seperti keterbelakangan mental, konsumsi alkohol, iklim, musim dan kepalsuan memiliki sedikit atau bahkan tidak ada signifikansinya sama sekali. Sebaliknya, alasan mengapa orang mencari kematian dengan sengaja adalah hasil dari dua kekuatan: integrasi sosial dan regulasi sosial.

Baca Juga: Melawan Aksi Teror dengan Menolak Takut

Dua Kisah

Contoh kasus integrasi sosial ini pernah dialami oleh Ed Husein yang ia kisahkan dalam buku yang sudah diterjemahkan dengan judul Pengakuan Pejuang Khilafah. Ed yang mulanya hidup anti Islam Politis, kemudian larut oleh ajakan temannya dalam Youth Muslim Organization (YMO) yang aktif menggelar halaqah di Masjid London Timur.

Keikut-sertaan Ed dalam pertemuan YMO itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi dari pengawasan kedua orang tuanya. Lambat laun gerak-geriknya diketahui dan Ed diusir dari rumahnya. Kondisi yang membuat Ed singgah di Masjid London Timur sehingga lebih masif dalam mengikuti aktivitas dalam gerakan yang berafiliasi terhadap Hizbut Tahrir yang tekstualis dan dogmatis . . . . . . tersebut.

Ed berubah haluan ideologisnya dan tidak percaya terhadap Hizbut Tahrir ketika dia mendapati seorang temannya melakukan pembunuhan terhadap kelompok pemuda lain. Setelah ditelurusi ternyata, motif dari pembunuhan itu didasari oleh doktrin semangat khilafahisme. Dari sini, Ed mempertanyakan, apakah Islam membolehkan kekerasan dalam memperjuangkan cita-cita politisnya?

Sementara itu, regulasi sosial bisa ditilik dari gambaran kehidupan masa kecil intelektual Islam modern, seperti Mustofa Akyol yang, secara jujur dalam pengantar buku Islam Without Extremism mengisahkan betapa masa kecilnya dia dididik secara tradisional oleh kakeknya. Praktik sosial pendidikan tradisional itu kebanyakan diserap dari ajaran yang termaktub dalam al-Qur’an dan sunah.

Baca Juga: Gemuruh Headline Islam

Pada suatu ketika, Akyol kecil mampir di perpustakaan kakeknya dan menemukan buku kumpulan do’a yang di sampul belakangnya tertera sebuah hadis yang menyebutkan “Jika anak-anak anda tidak mula bersolat pada usia sepuluh tahun, ” katanya, “maka pukullah mereka.” Dari sini, Akyol kecil ketakutan.

Dia yang mengimani kakeknya sebagai orang yang berbelas kasih tidak menyangka kelak akan mendapat pukulan. Tapi asumsi itu buyar ketika dia menyodorkan hadis tersebut kepada kakeknya untuk kemudian dijabarkan secara detail dan membumi. Bahwa pukulan hanya akan melayang bagi anak yang nakal dan jahat.

Dari kedua gambaran singkat tersebut, setidaknya kita bisa sedikit melihat bagaimana Islam dengan cara pandang tertentu memiliki unsur kekekerasan yang, meskipun itu bisa diminimalisir. Tapi persoalan utamanya adalah apakah kita mau mengakui kekerasan dalam Islam?

Terus Terang

Tarik-ulur opini yang bernada kutukan menyebut bahwa kekerasan sebagai perilaku tidak identik dari ajaran Islam yang damai. Sementara itu, beberapa tokoh mempertanyakan peran Islam damai yang jauh ini diarus-utamakan di banyak tempat. Mereka meminta supaya cendekiawan muslim serta agamawan lainnya berterus-terang perihal akar dari potensi kekerasan dari ajaran agama sehingga solusi bisa lebih mudah dicari.

Dari kedua kisah gambaran singkat tersebut, setidaknya kita bisa sedikit melihat bagaimana Islam dengan cara pandang tertentu memiliki unsur kekekerasan yang, meskipun itu bisa diminimalisir. Tapi persoalan utamanya adalah demi melerai polemik kekerasan agama apakah kita mau mengakui adanya kekerasan dalam Islam itu sendiri?

Meskipun demikian, sekali lagi, beberapa tokoh masih menafikan unsur kekerasan dalam al-Qur’an dan Sunah yang bisa menjadi titik berangkat dari aksi kebiadaban yang lebih luas lagi. Karena itu, jamak pemangku kebijakan kemudian secara malas menyebut terorisme bukan bagian dari agama.

Terlepas dari itu, banyak dari tokoh lintas agama yang mengutuk dan kemudian memberikan dukungan kesetiakawanan kepada korban untuk menolak takut terhadap ancaman terorisme.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Soal Aksi Terorisme, Gus Yahya Minta Umat Islam Waspadai Seruan yang Mendorong Segregasi Kelompok

Next Article
cadar

Dear Sobatku Muslimah Bercadar, Kalian Tuh Wanita Penyabar dan Layak Dihormati

Related Posts