Jejak Kecil Rumah Tembakau, Representasi Agama dan Seni di Desa Tembakau

Tembakau bagi masyarakat Kemloko dan Lamuk memiliki kesedapan aroma yang menggugah kesadaran dalam ikhtiar melestarikan tembakau dengan berbagai jalan

Tsaqafah.id – Short Documentary dan tembakau adalah dua cerobong yang terus mengepulkan asap di masa pandemi ini. Di jagad twitter misalnya, berjejal antrian film pendek yang menarik untuk dinikmati. Begitu pula tembakau yang terus menjaga daya tahan berpikir dan stabilitas manusia dalam menempuh persoalan hidup yang bergegas menua ini.

Eksistensi dua cerobong itu mempunyai sebab permakluman, 1) Industri perfilman mengalami kemerosotan, 2) Daya beli masyarakat menurun sebab krisis ekonomi di masa pandemi. Bukan salah ibu mengandung kalau kemudian film pendek dan tembakau jadi ruang eksistensi baru dari lapis kebudayaan di masa pandemi.

Film pendek “Jejak Kecil Rumah Tembakau” bisa dibilang mengikuti jejak film “Negeri di Atas Awan” sebagai representasi dari pola sosial-kultural kehidupan masyarakat di pedesaan. Sekilas hanya dibedakan oleh kronis ekonomi kerakyatan yang lebih disorot oleh “Negeri Di Atas Awan”. Selebihnya, seperti profesi tani, interaksi sosial antara warga dan pola pendidikan sejauh ini masih memiliki kesamaan.

Film pendek garapan Koes Yuliadi seorang Dosen Seni Teater di Institut Seni Indonesia Yogyakarta digarap dengan apik. Dia mencoba mengulik peradaban tembakau di dua Desa: Kemloko dan Lamuk. Peradaban tembakau di dua desa tersebut memiliki peran pembangkit kecerdasan artifisial yang berbeda. Ada yang kelebihan menyesap peran budaya tembakau, seperti di desa Lamuk. Dan peran agama yang lebih mengemuka di Desa Kemloko. Dalam film ini, keberadaan dua peran itu bukan untuk dibenturkan akan tetapi didudukkan dalam satu kearifan tembakau.

Baca Juga: Tari Gandrung Banyuwangi dalam Pusaran Sejarah

Religiusitas Kemloko dan Keelokan Lamuk

Durrotun Nafisah, seorang Guru Agama Kemloko, mengisahkan rutinitas harian anak Kemloko yang religius. Selepas shubuh anak-anak mengaji al-Qur’an di langgar, setelah itu mereka “Njanggol” membantu pengrajin tembakau memindahkan setumpuk demi setumpuk tembakau dari kebun ke mobil pick-up untuk diangkut ke rumah pengolahan. Dari keringat “Njanggol” itu mereka kadang dikasih sedikit upah untuk uang saku di sekolah.

Sempat anak-anak itu dilarang “njanggol” dengan catatan tetap diberi uang saku oleh para juragan tembakau kalau mereka berangkat sekolah. Tapi mereka menolak secara arif, “dengan njanggol, kami bisa merasa bahagia sebab ini hasil keringat . . . . . . dan jerih-payah kita sendiri”.

Di waktu petang, anak Kemloko mendaras bersama pelajaran sekolah. Sampai dalam peraga mengurus tembakau mereka tetap mendendangkan “nadham alala”–yang dinukil dari Kitab Ta’lim Muta’allim–sebagai irama penyemangat dalam menjalani dan bergumul dengan daun-daun tembakau. Begitu halnya praktik ziarah kubur di Kamis sore, menyetempel mereka sebagai muttabi’ ajaran Nahdlatul Ulama ala Ahlissunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah.

Sementara itu, di Desa Lamuk kesenian menjadi nafas masyarakat dalam mempertahankan tradisi seni tembakau yang sudah diwariskan sejak sebelum Indonesia merdeka. Porsi kebudayaan Desa Lamuk ini mendapat porsi visual yang tidak banyak dari Desa Kemloko. Hanya sekilas tarian-tarian Kuda Lumping dengan atribut ‘tampah’ tempat menjemur tembakau.

Baca Juga: Perempuan dalam Balutan Negeri Padang Pasir

Corak Pendidikan

Sutopo sebagai tokoh masyarakat Desa Lamuk mengatakan bahwa di desa Lamuk itu ada tiga model pendidikan, pendidikan formal seperti SD, SMP dan SMA, non-formal melalui Taman Pendidikan al-Qur’an di tahun 1993 dan super non-formal adalah pendidikan seni. Pendidikan seni menjadi kesenangan masyarakat Lamuk, tembakau dan seni ini ruh dari masyarakat Lamuk sendiri.

Di Kemloko pendidikan non-formal berupa pesantren lebih digemari. Menurut penuturan Nafisah, setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Kemloko, rata-rata banyak yang melanjutkan jenjang pendidikan di pesantren. Bahkan remaja berusia 25 tahun masih ada yang mengenyam pendidikan di pesantren. Aroma daun tembakau mengarahkan anak Kemloko untuk mendalami ajaran Islam, meski tidak meninggalkan tugas merawat kebun tembakau. Sesekali kalau mereka pengin menikmati suguhan seni, mereka lari ke Lamuk. Tapi tidak sebaliknya, ketika anak Lamuk ingin belajar agama, mereka tidak butuh ke Kemloko.

Kalau disimpulkan, Film garapan Koes Yuliadi ini mengetengahkan potensi kebudayaan tembakau dari segi agama dan seni kebudayaan. Tembakau bagi masyarakat Kemloko dan Lamuk memiliki kesedapan aroma yang menggugah kesadaran dalam ikhtiar melestarikan tembakau dengan berbagai jalan. Seperti yang ditegaskan Sutopo bahwa adanya seni di Lamuk itu sebagai alat pemersatu. Dan Nafisah mengikat ngaji, ngaji dan ngaji sebagai ruh keluruhan di Kemloko.

Total
2
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Syed Hossein Nasr, Orang Tersingkir dan Arus Balik Filsafat Islam

Next Article

Sikap Wajar atas Menstruasi yang Diajarkan Rasulullah SAW

Related Posts