Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kedermawanan Itu Harus Dipaksakan

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kedermawanan Itu Harus Dipaksakan

05 Maret 2026
24 dilihat
3 menits, 24 detik

Tsaqafah.id – Suatu waktu Imam Abu Hasan Al-Busyanji saat mau masuk ke dalam toilet ia kemudian memanggil muridnya dan berkata, “Tolong lepaskan gamisku ini dan berikanlah kepada si fulan.” Kata si murid, “Wahai guruku! Nanti saja setelah engkau keluar dari toilet.” Imam Abu Hasan menjawab, “Jangan nunggu aku keluar dari toilet. Kalau saya berubah pikiran gimana?”

Anda tahu! Sifat pelit itu tidak akan hilang jika tidak dipaksa, kata Imam Abu Hasan. Memang seseorang akan disebut dermawan jika memberi tanpa ada paksaan. Akan tetapi, untuk menjadi dermawan, maka kita harus melawan rasa pelit. Jika tidak, maka selamanya kita akan menjadi orang yang pelit.

Begitulah caranya kita menjadi dermawan, kata Gus Ulil. Mula-mula harus dipaksakan. Sangat mustahil seseorang akan menjadi dermawan tanpa latihan dan paksaan. Inilah yang di dalam filsafat etika disebut dengan al-fadhilah (etika keutamaan).

Baca juga Apakah Agama atau Moral, Mana lebih Dulu?

Adalah salah satu sifat yang sudah mengakar pada jiwa seseorang yang dengannya seseorang bisa melakukan apapun tanpa ada paksaan dan perasaan berat, sebab sudah menjadi kebiasaannya.

Tentu saja, kata Gus Ulil, al-fadhilah berbeda dengan Anda yang taat pada peraturan lalu lintas. Misalnya, Anda berhenti saat lampu merah dan berjalan saat lampu hijau. Tidak. Melainkan, membantu mereka yang tidak mampu tanpa ada paksaan sama sekali dan menjadi kebiasaan dalam hidupnya.

Bagaimana cara mengobati sifat pelit?

Tentu saja menghilangkan sifat pelit sangata sulit. Dengan kata lain, ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan agar sifat ini menjadi hilang. Gus Ulil mengatakan bahwa cara mengobatinya adalah dengan cara mengelabui.

Mula-mula kita berkata pada diri kita, “Saya ingin memberi sedekah, tapi ini sangat berat. Namun bisa menjadi ringan kalau sambil dibuatkan konten video sehingga orang-orang bisa melihat dan memuji saya.”

Ini hanya langkah sementara saja, kata Gus Ulil. Jika sudah terbiasa, maka Anda tidak akan terpikirkan hal itu. Sebab, dari video konten, Anda akan menghasilkan uang lagi. Itu sebabnya, sesuatu yang baik seringkali harus dimulai dengan “dipaksa” sampai menjadi kebiasaan. Kenapa demikian? Jika menunggu hati ikhlas sepenuhnya, maka kesempatan untuk berbuat baik mungkin tidak pernah terlaksana.

Dialog Kiai Bisri Mustafa dan Kiai Ali Maksum

Inilah yang terjadi sama Kiai Bisri Mustafa. Kita tahu, Kiai Bisri Mustofa (1915–1977) adalah ulama karismatik, pendiri Pondok Pesantren Roudlotut Thalibin di Rembang, Jawa Tengah, dan ayah dari Gus Mus (Mustofa Bisri). Selain dikenal sebagai orator ulung, pemikir moderat, ia juga merupakan penulis yang sangat produktif. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “Tafsir Al-Ibriz”

Suatu waktu, Kiai Ali Maksum Krapyak Yogyakarta bertakata, “Bisri kok kamu itu kan alimnya sama dengan saya, ya 11-12 lah, bahkan kayaknya saya yang lebih alim daripada kamu, tapi kenapa kamu mempunyai karya yang sangat banyak?”

Baca juga KH Bisri Mustafa di Mata KH Ali Maksum

Kiai Bisri Mustafa menjawab, “Iya itu kan salahnya sampean saja.” Kata Kiai Ali Maksum, “Salahnya saya di mana emangnya?” Kiai Bisri Mustafa menjawab lagi, “Sampean itu ngarang kitab kan tujuaannya ikhlas karena Allah saja.” Kiai Ali Maksum berkata, “Lah! Namanya juga amal ya harus ikhlas dong, masa kamu marahin saya, kalau tidak ikhlas terus gimana?”

Kiai Bisri Mustafa menjawab lagi, “Kalau saya itu ngarang kita ya tujuannya agar dapat uang, bisa ngasih nafkah istri saya, saya ingin dapat honor memang makanya semangat menulis. Akan tetapi ketika selesai ditulis dan mau disetorkan ke penerbit baru saya niatkan karena Allah SWT.”

Memang hawa nafsu terkadang perlu iming-iming, kata Gus Ulil. Ia seperti anak kecil. Jika mau disapih dari ibunya, maka harus dikasih iming-iming. Benar apa yang dikatakan oleh Imam Al-Bushiri dalam qasidahnya yaitu “Burdah” yang berbunyi:

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞ حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ ِ

Artinya: “Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu. Namun bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri”.

Keberadaan nafsu sangatlah mempengaruhi manusia, baik dari segala tingkah laku, tindakan, perbuatan maupun sifat dipengaruhi oleh nafsu yang ada di dalam diri manusia. Manusia tidak mungkin dapat mengalahkan nafsu hanya dengan sekali perlawanan. Karena itu lawanlah nafsu secara berkali-kali dan terus-menerus.

Tentu saja, dalam melawan nafsu, perlu adanya kerja keras yang penuh dan kewaspadaan. Dengan kata lain, kekang dan kendalikanlah hawa nafsu dengan tali takwa dan sifat wara’, agar dapat mengatur dan mengarahkan tabiat nafsu menuju arah yang senantiasa melakukan kebaikan-kebaikan. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 53 menyatakan:

 وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٥٣

Artinya: “Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf [12]: 53).

Syahdan. Anda tahu! Apabila manusia sudah dikuasai oleh hawa nafsunya, maka ia akan terjatuh ke dalam tingkatan-tingkatan yang terendah (bahkan paling rendah), sehingga tidak ada tempat lagi bersamanya selain bersama hewan. Akan tetapi, apabila manusia mampu untuk mengatasinya, maka ia akan dengan mudah untuk mengatur dan mengendalikannya. Wallahu a’lam bisshawab.

Baca juga Menghidupkan Kembali Tsaqafah Islam untuk Generasi Muda

Profil Penulis
Salman Akif Faylasuf
Salman Akif Faylasuf
Penulis Tsaqafah.id
Salman Akif Faylasuf Alumni PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Menyukai kajian keislaman dan filsafat.

7 Artikel

SELENGKAPNYA