Islam dan Modernitas (II): Resonansi Tiga Madzhab

Islam dan Modernitas (II): Resonansi Tiga Madzhab

10 Maret 2022
59 dilihat
3 menits, 54 detik

Tsaqafah.id – Saat ini, persaingan global, dalam berbagai bentuk dan alasannya telah mengalami pembelahan menjadi dua kutub biner; Islam yang mewakili dunia Timur, dan Eropa yang mewakili dunia Barat.

Posisi Timur dan Barat, dalam konteks modernitas khususnya, baik secara vis-à-vis, maupun berdialektika, memang selalu relevan dibicarakan, karena, sentimen kita sebagai orang Timur, dan daya kritis kita sebagai ‘dunia lain’, yang selalu dianggap kurang sejajar dengan Barat, sebagaimana sering diungkapkan oleh orang-orang seperti Muhammad Abduh atau Jalaluddin al-Afghani dalam nada yang agitatif.

Dalam hal tersebut, Bassam Tibi (1990) dalam bukunya Islam and Cultural Accommodation of Social Change, memberikan penjelasannya dengan tajam, bahwa sebagai sebuah sistem, tradisi Islam selalu mengalami ketegangan yang berkepanjangan antara tendensi untuk mengakomodasi perubahan dan kemajuan dengan dorongan untuk mempertahankan tradisi dan identitas kultural.[i]

Karena itu, perkembangan modernitas telah melahirkan bermacam ekses-ekses dan komentar di sana sini, baik oleh seluruh kalangan secara umum, terlebih oleh dunia Timur secara khusus. Setidaknya, respon atas modernitas dapat digeneralisasi menjadi tiga kelompok sebagai berikut;

Pertama, mereka yang menerima secara penuh modernitas, dan menganggapnya sebagai simbol (role model) kemajuan yang harus direplika oleh yang lain.

Kedua, adalah posisi balik dari yang pertama (counter opinion), bahwa yang nampak dari modernitas adalah proses anti-klimaks atas kehidupan manusia itu sendiri yang justru mengancam akar-akar primordialisme pada identitas manapun. Karena itu, modernitas perlu dinegasikan sejauh mungkin.

Ketiga, posisi tawar (negotiable), yaitu yang melihat modernitas dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Ia tidak menolak, tetapi juga tidak menerima sepenuhnya.

Tiga Madzhab Pemikiran

Di dalam Studi Islam (Islamic Studies) diskursus tentang modernitas dapat dipetakan kepada tiga perspektif sebagaimana di atas. Namun demikian, tiga pengelompokkan ini sebenarnya tidak cukup mampu memberikan deskripsi yang utuh, sebab betapa plural varian pendapat yang lain. Tetapi paling tidak, pengelompokan ini memiliki peran penting dalam memberikan potret secara general. Pandangan yang dimaksud di sini direpresentasikan oleh tiga pemikir dunia Islam kontemporer yaitu Fazlur Rahman, Syeed Hossein Nasr, dan Ismail al-Faruqi.

Baca Juga: Islam dan Modernitas (I): Sintesis Peradaban

Fazlur Rahman (1985) memandang lebih positif bahwa modernitas sesuai degan pertautan Islam sendiri yang memiliki visi besar sebagai kekuatan moral (moral force) dalam perbaikan keadaban umat manusia. Kontruksi pemahaman Rahman berangkat dari penelusuran sosio-historis kaum muslimin awal ketika datang di Makkah. Di mana, al-Qur’an memiliki semangat moral yang besar dalam memperbaiki dua pokok kebobrokan masayarakat Makkah; politeisme, sebagai simbol polaritas sosial dan ideologi, dan perilaku riba yang melambangkan sistem penindasan ekonomi.[1]

Menurut Rahman, kemajuan zaman, meskipun banyak menimbulkan persoalan, merupakan realitas yang harus diterima dengan segala konskuensinya. Bahwa tantangan itulah yang memberikan kans bagi umat Islam untuk melakukan kreasi historis. Sehingga dalam konteks ini, Rahman menganggap generasi selanjutnya selalu memiliki kesempatan yang lebih baik karena bisa belajar dari tantangan dan keberhasilan generasi sebelumnya.

Sementara di pihak lain, Hossein Nasr (1981) cenderung peyoratif memaknai modernitas (untuk tidak mengatakan menolak). Baginya, manifestasi modern terlalu mengutamakan nilai-nilai rasionalisme, materialisme dan hedonisme sehingga spiritualitas tidak lagi memiliki supremasi di tengah perubahan zaman.[ii]

Baca Juga: Politik Islam Indonesia Muhammad Natsir

Nasr nampak berpendirian teguh pada hadis Nabi yang mengatakan generasi terbaik adalah generasi Nabi, dan berikutnya selalu mengalami degradasi kualitatif.

Sedangkan Ismail al-Faruqi (1986) menganggap modernitas bukan sesuatu yang inheren positif ataupun negatif, melainkan bersifat netral, tergantung bagaimana umat Islam mampu mempersentuhkannya dengan prinsip-prinsip tauhid Islami. Sebab, di mata al-Faruqi, yang terpenting dari sebuah peradaban adalah nilai tauhidnya. Karena itu ia, terbaca dalam karyanya The Cultural Atlas of Islam, memiliki obsesi untuk mengislamisasi ilmu pengetahuan.[iii]

Menarik kita lihat bahwa, kendati ketiga pemikir raksasa tersebut sama-sama berkarir di Amerika –sebagai center of modern civilaization, namun mereka memiliki latar belakang pemikiran (historical background)yang tidak sama.

Rahman berasal dari Pakistan yang mewarisi tradisi filsafat rasional dari Ahmad Khan dan Mohammad Iqbal, Nasr dari Iran yang dikenal sebagai gudangnya pemikiran sufistik, dan al-Faruqi berasal dari Palestina yang identik dengan pemikiran Arab yang bercorak teologis. Melalui disposisi ketiga pemikir tersebut, secara metodologis modernitas kemudian ditafsirkan secara berbeda-beda.[iv]

Perspektif Sejarah Agama

Akar pemikiran dari ketiga pandangan di atas, agaknya dalam perspektif teori sejarah agama[v] dapat dilihat pijakan dan bangunannya masing-masing. Teori sejarah agama ini dikembangkan oleh Robbert N. Bellah yang mengidentifikasi proses transformasi agama ke dalam tiga tipologi.

Pertama, adalah Evolusionisme, yaitu pandangan yang menganggap agama berkembang dari bentuknya yang simplifikatif dan tidak sempurna menuju yang kompleks dan lebih sempurna. Pandangan ini secara afinitif ada pada logika berpikir Rahman dalam melihat dinamisasi zaman.

Baca Juga: Menjumpai Seorang Mualaf yang Sedekah Mushaf al-Qur’an

Kedua, pandangan Regressionisme, yang melihat sejarah agama sebagai kemerosotan spiritual –dari masyarakat primitif yang menitikberatkan sakralitas, menuju masyarakat modern yang profan. Pandangan ini yang identik dengan pemikiran Nasr. Bahwa perjalanan sejarah telah menghadirkan proses desakralisasi dan terkuburnya nilai-nilai religius pada kehidupan manusia.

Ketiga, Non-Developmentalisme, sebagai representasi al-Faruqi, yang memandang sejarah agama telah sempurna sejak awal. Tidak bertambah dan berkurang secara kualitatif. Karena itu, perkembangannya harus diiringi dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip spiritual-religius.


 


Daftar Rujukan

[i] Bassam Tibi, Islam and Cultural Accommodation of Social Change, (New York: Westview Press, 1990), hlm. 22-23

[ii] Fazlur Rahman, Tema Pokok al-Qur’an, terj. (Bandung: Pustaka, 1980) hlm. 216. Lihat juga, Fazlur Rahman, Islam and Modernity, Transformation of Intellectual Tradition, (Chicago: University of Chicago Press, 1982), hlm. 20-42.

[iii] Ismail al-Faruqi and Lois Lamya, The Cultural Atlas of Islam, (N.Y: Macmillan, 1986), hlm. 74-76.

[iv] Ahmad Norma Permata, Intiusionalisasi vs Rasionalisasi (Yogyakarta: IRCiSoD, 2020), hlm. 103.

[v] Penjelasan lebih lanjut, lihat James Waller and Mary Edwardsen, “Evolutionist” dalam Encyclopedia of Religion, (ed.) Mircea Eliade, (N.Y: Universitiy of Chicago Press, 1996)

Profil Penulis
M Ikhya Ulumuddin Al Hikam
M Ikhya Ulumuddin Al Hikam
Penulis Tsaqafah.id
Sekretaris Departemen Penelitian Pengurus Pusat Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir dan Hadis Indonesia (FKMTHI)

6 Artikel

SELENGKAPNYA