Islam dan Modernitas (III): Barat, Dilema Spiritual dan Patologi Kultural

Islam dan Modernitas (III): Barat, Dilema Spiritual dan Patologi Kultural

13 Maret 2022
50 dilihat
4 menits, 1 detik

Tsaqafah.id – Modernitas, sebagai gerakan intelektual dalam sejarah peradaban Barat, meyakini: superioritas rasio adalah kata kunci pencerahan masyarakat modern.

Barangkali tidak dapat ditolak; pencerahan abad modern telah mengubah hampir seluruh bidang kehidupan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. Bahkan, dalam sebagian narasi megalomaniak Barat, menganggap, seandainya seluruh prestasi peradaban manusia sebelumnya digabung menjadi satu, belum mampu menandingi prestasi dan capaian Era Modern. Kemajuan teknologi dan pengetahuan menjadi katalisator optimisme yang menggelegak di zaman itu.

Namun, seiring berbagai glorifikasi dan keberbanggaannya, modernitas sebagai abad pencerahan dan puncak kemajuan peradaban manusia ternyata kemudian memperlihatkan sisi-sisi cacat dan krisis latennya.

Gejala Teenage Tyranny

Dalam analisis yang lebih cermat, sebenarnya hubungan antara Barat dan modernitas adalah hubungan dialektika yang kontingen. Artinya, ada suatu konteks di mana Barat tidak modern.

Barat, dalam konteks entitas kultural, sebagaimana juga peradaban-peradaban yang lain yang pernah ada dalam sejarah, selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan, dengan segala pasang surutnya. Ia memiliki dinamika tersendiri baik secara internal maupun eksternal. Sejalan dengan itu, dalam pandangan Mukti Ali, Barat sendiri selalu dalam ‘proses’.[i]

Baca Juga: Islam dan Modernitas (II): Resonansi Tiga Madzhab

Gejala teenage tyranny adalah salah satu contohnya. Teenage tyranny dapat diartikan sebagai tirani belasan tahun, atau kenakalan remaja sebagai gerakan sub-kultur dan cara hidup sekelompok anak muda yang lahir dalam sistem budaya Barat. Mereka mendominasi pergaulan umum dengan pola perilaku hedonistik dan permissiveness, sekaligus dengan cekaman terhadap problem spiritual mereka sendiri.

Mereka menamakan diri dengan “The Flower Children”, sebagai simbol sosial mereka yang mendambakan hidup bebas dan damai di tengah kegemaran politik internasional di negaranya melakukan intervensi dan konflik. Sedang di situasi lain, juga melabeli diri dengan “The Yesus People”, sebagai representasi kompleksnya problem spiritual mereka.[ii] Kelompok anak muda demikian tidak sulit dikenali. Dalam banyak hal, mereka justru seolah ingin dikenal dan eksis dengan perilaku-perilaku anomiknya di tengah masyarakat.

Dalam diagnosis Faisal Ismail (2021), fenomena di atas adalah gejala kultural yang lahir akibat kekuatan moral yang timpang (demoralization) dan –meminjam bahasa Haidar Bagir, keringnya sisi spiritualitas (despiritualization) yang terjadi saat ini di peradaban Barat.[iii]

Dalam konteks ini, hubungan kultur dan spiritual merupakan hubungan integral dan komplementaristik yang berkait kelindan sebagaimana diungkapkan oleh Joe Holland. Dengan kata lain, Holland menyimpulkan, krisis kultural modern, terutama yang terjadi di Barat, secara hakiki juga merupakan bentuk krisis spiritualitasnya.[iv]

Baca Juga: Islam dan Modernitas (I): Sintesis Peradaban

Modernitas: Wajah yang Gelisah

Modernitas, kini terdapat dua sisi; satu sisi, ia mampu menciptakan kemajuan, kemudahan dan berbagai prestasi menakjubkan lainnya bagi kehidupan manusia, sedang di sisi lain ia melahirkan alienasi. Alienasi itu tumbuh dalam tiga hal; dirinya sendiri, alam sekitarnya, dan Tuhan.

All our knowledge bring us nearer to ignorance

All our ignorance brings us near to death

But nearness to death, not nearer to God

Where is the life we have lost living?

Where is the wisdom we have lost in knowledge?

Where is the knowledge we have lost in information?

The cycle of heaven in twenty centuries

Brings us farther from God and nearer to dust.

Ungkapan di atas adalah sastra puisi yang ditulis oleh Thomas Stearns Eliot, salah seorang penyair kenamaan modern kebangsaan Inggirs-Amerika. Sebuah nada yang lebih terdengar sebagai jerit kegelisahan, kekecewaan dan patah hati. T.S. Eliot dengan tepat menggambarkan situasi peradaban modern hari ini yang semakin terlihat pasi dan menuju kehancurannya.

Selain T.S. Eliot, nama sastrawan lain semisal Andre Malraux juga mengungkapkan nada yang sama. Dalam esainya yang dimuat majalah Encounter, Malraux menyampaikan, “Peradaban kami hari ini, adalah peradaban pertama yang tidak memiliki keselarasan dengan dirinya sendiri. Di dalamnya tidak ada ruang bagi munculnya rasa kebersamaan dan keakraban antara manusia dan alam, manusia dengan Tuhan. Mesin-mesin telah menjelma simbol-simbol besar dan di tengah-tengahnya manusia tidak lagi memiliki arti dan makna. Peradaban saintifik bukan peradaban religius. Dan apabila peradaban tidak religius, maka harus menemukan jalan dan tujuannya tersendiri agar dapat melindungi dirinya dalam menghadapi dirinya sendiri.”[v]

Baca Juga: Menelusuri Dawuh Kiai Sahal Yang Terkoneksi Dengan Ulama Pendahulunya

Cukup detil ekspresi peradaban yang dilukiskan Malraux. Kehampaan, keterasingan dan kegelisahan jiwa yang menyeruak masyarakat peradaban modern Barat akhirya tampil dalam banyak bentuk dan manifestasinya. Mesin-mesin sebagai simbol kemajuan sebagaimana disebut Malraux, telah menempatkan hasil-hasil teknologi setingkat dengan, apa yang dalam bahasa sosiologi Emile Durkheim (1997), sebut sebagai “social totem”,[vi] yaitu peralihan simbol ideologis baru secara sosial dari spiritualisme-transendental menuju pragmatisme-material, yang manusia justru kehilangan arti dan makna di dalamnya.

Moral agama yang mengajarkan pola hidup di garis kebajikan oleh manusia modern nampaknya tidak diberlakukan sebagai moral force, tetapi justru dikebiri sehingga tidak lagi dapat menerjemahkan dan mengawal konstruksi kehidupan manusia.

Gejala perubahan nilai trasenden tersebut, akan semakin mengakut manakala kehadiran teknologi diiringi dengan budaya hidup eskapisme yang menempatkan kepuasan hedonistik sebagai ‘nabi alternatif’. Jika kultur semacam ini yang dikedepankan, maka akibatnya dapat ditebak; adalah terkuburnya nilai-nilai moralitas-spiritualitas dan tumbuh suburnya budaya pemuasan lahiriah sebagai ciri utama komunitas patologis modern.

Terakhir, saya ingin mengutip pandangan Haidar Bagir tentang makna budaya dan manusia. Bagir mengatakan “Budaya adalah soal bagaimana menjadi manusia. Manusia spiritual, manusia moral, manusia estetis, dan manusia yang sadar dan berpikir. Segala yang kurang dari itu, betatapun dikemas dalam sofistikasi kemajuan, adalah sejatinya anti-budaya.”[vii]


Daftar Rujukan

[i] A. Mukti Ali, Islam Dan Modernisme (Yogyakarta, 1980), hlm. 2-3.

[ii] Faisal Ismail, Islam Dinamika Dialogis Keilmuan, Kebudayaan, dan Kemanusiaan (Yogyakarta: IRCiSoD, 2021), 294.

[iii] Ismail, hlm. 297.

[iv] Joe Holland, “A Post Modern Vision Spirituality and Society”, dalam David Roy Griffin (ed), Spirituality of Society Post Modern Vision, (New York: State University Press, 1988), hlm. 41

[v] Lihat, WM, Abdul Hadi. “Krisis Manusia Modern.”

[vi] Durkheim, Emile, The Elementary Forms of Religious Life, (New York: Free Press, 1997)

[vii] Haidar Bagir, Islam Tuhan Islam Manusia, hlm. 27.

Profil Penulis
M Ikhya Ulumuddin Al Hikam
M Ikhya Ulumuddin Al Hikam
Penulis Tsaqafah.id
Sekretaris Departemen Penelitian Pengurus Pusat Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir dan Hadis Indonesia (FKMTHI)

6 Artikel

SELENGKAPNYA