Islam dan Modernitas (IV): Keretakan dan Episode Akhir Modernitas

Islam dan Modernitas (IV): Keretakan dan Episode Akhir Modernitas

14 Maret 2022
51 dilihat
3 menits, 30 detik

Tsaqafah.id – Pada awalnya, modernitas yang dirintis oleh Descartes hingga periode Newton, sebenarnya masih melihat “relevansi Tuhan”, setidaknya sebagai “Deitas” yang transenden di luar dunia. Puncak pandangan ini (deisme) ada pada Leibniz. Pikiran Leibniz tentang “Harmonia Praestabilita” masih mendaulat Tuhan, meskipun hanya di awal penciptaan, sebagai pencipta mirip seperti tukang pembuat jam.[i]

Pada tahap berikutnya, pengaruh materialisme dalam dominasi fisika menjadi sedemikian kuat. Sejak proses inilah manusia menerima materialisme secara total, hingga gilirannya konsep spiritual dianggap sulit dimengerti, dan akhirnya konsepsi tentang Tuhan sulit diterima. Dualitas sepenuhnya kehilangan legitimasi.

Dalam pembacaan Abdul Munir Mulkhan (1997), operasi teori modern dalam orientasi pembangunan merujuk pada pandangan filosofis positivistik yang menyatakan bahwa alam fisis adalah prinsip dasar seluruh keberadaan. Pandangan ini kemudian mendapat antusiasme cepat karena mudah dilihat dan diukur dalam mengevaluasi kegagalan. Pandangan ini jugalah yang telah banyak mewarnai dan mengilhami sebagian besar tindakan imperialisasi dan kolonialisasi negara-negara Barat.[ii]

Manusia diajak untuk lebih percaya dan mengandalkan apa yang dapat dicapai dan diketahui secara empirik-pragmatik, bahwa sesuatu yang bisa ditelaah dan dibuktikan oleh rasional adalah kebenaran mutlak.[iii]

Aspek spiritual dalam paradigma positivistik modern, menurut Mulkhan, akan diletakkan sebagai sesuatu yang inhern sepanjang jika membantu keuntungan materi, sehingga pembangunannya tidak terlepas daripada kerangka mondial dan profan belaka.

Dalam gemerlap dan pesona material, manusia modern kemudian justru kehilangan aspek yang paling fundamental dalam hidup, yaitu spiritualitas.

Baca Juga: Islam dan Modernitas (I): Sintesis Peradaban

Spiritualitas abad modern, menjadi semakin babak belur dalam konstruksi pemikiran ateis dan bentuk-bentuk stigma negatif tentang konsep ketuhanan yang muncul kemudian. Bahwa dimensi spiritual, tidak lain hanya sebuah gejala psikologis yang dialami sebagian manusia. Tuhan dianggap sebagai proyeksi idea manusia belaka (Feuerbach). Tuhan adalah bentuk legitimasi norma dan tatanan sosial (E. Durkheim). Tuhan adalah cara primitif untuk menjelaskan realitas (A. Comte). Tuhan adalah pelarian bagi kaum tertindas (Karl Marx). Dan Tuhan hanyalah produk ilusi kekanak-kanakan (S. Freud).[iv]

Dari konteks tersebut, tepat sekali apa yang didefinisikan oleh Abid al-Jabiri (1990) bahwa secara subtansial, semangat modernitas adalah pemberontakan terhadap tradisi masa lampau, yang terdiri dari masa lalu dan masa kini (myth and spirituality), untuk menciptakan suatu tradisi baru (rationality).[v]

Di sisa-sisa ironi itu, akhirnya gelombang pesimisme dihembuskan oleh kalangan post-modern yang ingin memberi koreksi (konstruksi) sekaligus penolakan dan pembongkaran (dekonstuksi) terhadap persembunyian cacat-cacat modernitas.

Post-Modern sebagai Episode Akhir Modernitas

Dalam diskursus filsafat, berbagai kritik atas modernitas juga terdengar dari para filsuf Barat sendiri. Adalah Friedrich Nietzsche, filsuf paling radikal, yang secara tegas menolak kampanye modernitas saat itu.

Nietzsche mengasumsikan modernitas sebagai perpisahan manusia dari mitos menuju logos, sebagai upaya meninggalkan cara hidup masyarakat yang dikelilingi suasasana mitos dan spiritual menuju masyarakat yang dijiwai rasio.[vi]

Baca Juga: Islam dan Modernitas (II): Resonansi Tiga Madzhab

Sejalan dengan itu, jika modernisme mengandaikan superioritas rasio, justru Nietzsche berangggapan sebaliknya: ia mencurigai rasio atau rasionalitas bukan sebagai impresif yang jelas, melainkan hanya kehendak yang berkuasa dalam bentuknya yang lain.

Dari logika itu, Nietzsche lalu memahami: peradaban modern telah dikuasai rasio penguasaan, yang dengannya modernitas berwajah totaliter. Usaha manusia untuk memerdekakan diri dari belenggu di luar dirinya (myth), justru mengantarkan kekuatan baru yang mengontrol (purposive rationality). Inilah yang dibaca oleh Max Horkheimer sebagai rasio instrumental.[vii]

Baginya, perpisahan logos dari mitos tidak sepenuhnya tegas. Mitos adalah perjalanan sejarah yang masih dan selalu mampu memberikan pengilhaman kreatif terhadap masa kini. Karena itu, ia tak percaya rasionalitas kaum modern dapat membawa kemajuan mutlak bagi kehidupan manusia. Atas dasar inilah kritik Nietzsche dan pemikir post-modern dialamatkan.

Proyek pencerahan, bagi kaum post-modern, dianggap sebagai sesuatu yang usang dan sungsang, karenanya harus dibuang. Mereka menyuarakan kritik dan argumentasinya melalui suara yang berbeda-beda.

Tokoh pengawal modernisme, Jurgen Habermas menyimpulkan, dari Nietzsche inilah kritik post-modern berkembang menjadi dua arah: pertama, melalui penyingkapan kehendak berkuasa, alur ini kemudian diikuti oleh Foucault dan Battaile.

Baca Juga: Islam dan Modernitas (III): Barat, Dilema Spiritual dan Patologi Kultural

Michel Foucault, berangkat dari fenomena kegilaannya (madness),ingin menyingkap pretensi persembunyian rasio modern. Menurutnya, rasio begitu monologis dengan kegilaan. Cacat rasio modern, kata Faucault, ada pada wajah gandanya: humanisme dan teror, pembebasan dan perbudakan. Modernitas justru masuk pada paradoks dan distorsinya sendiri.

Kedua, adalah kritik tradisi metafisika, yang dilalui oleh Heidegger dan Derrida. Di mata Heidegger, metafisika Barat selama ini berangkat dari cogito –meminjam ungkapan Descartes, yang nir-waktu. Dan pada saat yang sama, cogito selalu berusaha menjelma menjadi pusat eksistensi dan mengakuisisi transendentalitas. Pada jalur kedua inilah, kata Habermas, modernisme tiba pada titik nadir dan berakhir secara total.


Daftar Rujukan

[i] Frederick C. Copleston, Filsafat Rene Descartes, terj. (Yogyakarta: Basabasi, 2021)

[ii] Lihat Pengantar dalam Abdul Wahid, Islam dan Idealitas Manusia (Yogyakarta: SIPRESS, 1997), hlm. X.

[iii] Wahid, hlm. vii.

[iv] Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion, terj. (Yogyakarta: IRCiSoD, 2018).

[v] Hasan Hanafi and Abid Al-Jabiri, Dialog Timur dan Barat, terj (Yogyakarta: IRCiSoD, 2015), hlm. 126.

[vi] Afifi, Senjakala Modernitas, hlm. 58.

[vii] Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional:Teori Kritis Sekolah Frankfurt, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2019), hlm. 125.

Profil Penulis
M Ikhya Ulumuddin Al Hikam
M Ikhya Ulumuddin Al Hikam
Penulis Tsaqafah.id
Sekretaris Departemen Penelitian Pengurus Pusat Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir dan Hadis Indonesia (FKMTHI)

6 Artikel

SELENGKAPNYA