Skip to content
Kajian
Beranda/Kajian/Jalan Zuhud dalam Mengelola Harta Menurut Ihya’ Ulumuddin: Begini Penjelasan dari Gus Ulil

Jalan Zuhud dalam Mengelola Harta Menurut Ihya’ Ulumuddin: Begini Penjelasan dari Gus Ulil

183 Kali Dibaca
Bagikan:
Jalan Zuhud dalam Mengelola Harta Menurut Ihya’ Ulumuddin: Begini Penjelasan dari Gus Ulil

Ringkasan Jalan Zuhud dalam Mengelola Harta Menurut Ihya’ Ulumuddin: Begini Penjelasan dari Gus Ulil

Gus Ulil menjelaskan lima prinsip zuhud dalam mengelola harta merujuk pada kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Prinsip tersebut meliputi pemahaman tujuan harta, kehalalan sumber, batasan kebutuhan, kebijaksanaan dalam berhemat, serta pelurusan niat ibadah. Dengan meneladani Nabi Sulaiman A.S., kekayaan dapat menjadi sarana kebaikan tanpa harus terikat pada duniawi.

Tsaqafah.id – Dalam pengajian sebelumnya, episode ke-429, Gus Ulil menyampaikan bahwa ada lima prinsip yang harus dijalankan dalam mengelola tanggung jawab kekayaan, dan ini wajib dipatuhi oleh yang memiliki harta.

Pertama, memahami tujuan dari harta. Sebagai contoh, untuk apa harta itu diciptakan? Dengan memahami tujuannya, kita tidak akan mengumpulkannya secara berlebihan. Kedua, sumber harta. Penting untuk memastikan bahwa kekayaan diperoleh melalui cara yang halal. Gus Ulil memberikan contoh bagaimana para ulama dahulu menjauhi harta dari penguasa (raja) karena khawatir harta tersebut berasal dari penindasan terhadap rakyat.

Ketiga, ukuran harta. Artinya, mengambil hanya yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari (tempat tinggal, pakaian, makanan) tanpa berlebihan. Keempat, ​bijaksana. Seseorang perlu berhemat dan menggunakan harta hanya untuk hal-hal yang memang menjadi haknya. Kelima, memperbaiki niat. Ketika mengambil atau memberikan harta, niatkan untuk ibadah. Jika sudah merasa cukup, salurkan kelebihan harta kepada mereka yang memerlukan.

Baca juga Menemukan Rasa Cukup: Belajar Qanaah dan Zuhud di Era FOMO

Sayyidina Ali ra. Pernah berkata:

Jika seseorang memperoleh banyak harta dan memiliki seluruh kekayaan di dunia, tetapi tujuannya hanya untuk kebaikan, maka dia akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang zuhud.

Inilah yang diteladankan oleh Nabi Sulaiman A.S., meskipun dikelilingi oleh kekuasaan yang sangat besar dan bergelimang harta, ia tetap zuhud. Dari Nabi Sulaiman A.S. kita belajar bahwa zuhud berarti tidak memiliki harta dunia, melainkan kesucian hati dari kecintaan terhadap harta dunia.

Secara jelas, zuhud adalah suatu konsep di mana seseorang menjauh dari kesenangan duniawi. Dengan kata lain, mengasingkan diri dari keramaian hidup, menjalani kehidupan soliter, dan fokus beribadah sebagai persiapan untuk akhirat. Ia tidak terjebak dalam kebahagiaan mengenai apa yang dimilikinya; dan tidak terlalu berduka atas apa yang hilang darinya.

Gus Ulil juga menegaskan agar kita tidak terjebak dalam keinginan menjadi kaya tanpa memahami hakikatnya. Misalnya, beranggapan, “Oh sahabat Nabi yang bernama Abdurrahman bin Auf selain alim dan shaleh, ia juga sangat kaya raya. Aku juga ingin jadi kaya.”

Tentu saja, pandangan ini sangat salah, ungkap Gus Ulil. Karena jika alasannya seperti itu, ia hanya dapat meniru aspek luarnya saja dan tidak memiliki pemahaman yang mendalam. Lebih jauh lagi, ia juga tidak dapat mengelola hartanya dengan baik.

Maka orang-orang seperti ini sangat mirip dengan anak kecil yang mencoba menjadi pawang ular berpengalaman ketika bermain dengan ular. Apa yang terjadi? Dia akan digigit oleh ularnya secara mati-matian. Seperti yang diceritakan Al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya’ ulumuddin”, bunyinya:

هي دنيا كحية تنفث السم وإن كانت المجسة لانت

Artinya: “Dunia ini bagaikan ular yang menyemburkan bisa, meskipun sentuhannya lembut.”

Baca juga Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kedermawanan Itu Harus Dipaksakan

Syahdan. Jika ditanya, mana yang lebih penting (utama) antara orang kaya yang selalu bersyukur dan orang fakir yang sabar? Ulama tentunya tidak setuju satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa orang kaya yang selalu bersyukur lebih penting daripada orang fakir yang sabar.

Sebab jika kaya dan bersyukur, maka hartanya bisa bermanfaat bagi orang lain. Berbeda dengan fakir yang sabar, yang akan mendapatkan pahalanya adalah dirinya sendiri, dan orang lain tidak mendapatkan apa-apa.

Namun, ulama yang lain berkata, lebih utama fakir yang sabar daripada orang kaya yang selalu bersyukur. Kenapa demikian? Karena orang kaya yang selalu bersyukur, pada suatu waktu hartanya bisa menggoda, dan akhirnya dia akan terlena dengan gemerlapnya harta.

Begitulah dunia. Ia merupakan sumber kelalaian yang bisa menjauhkan manusia dari segala kebaikan, terutama dari Tuhannya. Oleh karena itu, sikapilah dunia sewajarnya saja, jangan berlebihan. Wallahu a’lam bisshawab.

Baca juga Menggali Hikmah: Kontribusi Semantik dalam Penafsiran Al-Qur’an

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Apa makna zuhud dalam mengelola harta menurut Gus Ulil?
Zuhud bukan berarti meninggalkan harta, melainkan mengelola kekayaan dengan niat ibadah, memastikan sumber yang halal, serta tidak berlebihan dalam menggunakannya.
Mengapa ulama terdahulu menghindari harta dari penguasa?
Para ulama berhati-hati karena khawatir harta dari penguasa berasal dari praktik penindasan atau ketidakadilan terhadap rakyat, sehingga meragukan kehalalannya.
Bagaimana cara menerapkan sifat zuhud di era modern?
Menerapkan sifat zuhud dapat dilakukan dengan mencukupkan diri pada kebutuhan pokok, bersikap hemat, dan menyalurkan kelebihan harta kepada mereka yang membutuhkan.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini

2 Komentar

Komentar ditutup.