Kartini, Gadis 13 Tahun yang Membuat Sang Mahaguru Menangis

Seorang gadis berumur 13 tahun mengaji al-Qur’an dengan seorang Kyai yang sungguh terkenal dengan ke-alimannya yaitu Kyai Sholeh Darat as-Samarani, yang juga dikenal sebagai guru 2 ulama besar Nusantara yaitu KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlotul Ulama. Sementara gadis kecil itu akrab dipanggil Raden Ajeng Kartini, seorang anak Bupati Jepara, R.M. Adipati Ario Sasroningrat.

Sebagai anak seorang Bupati, tentulah ia adalah seorang keluarga ningrat. Suatu hari ia mempertanyakan tentang siapa dirinya ke sang ayah, lalu ayahnya menjawab bahwa ia adalah seorang Raden Ayu, sebutan gelar untuk anak perempuan raja atau pejabat di masa feodalisme Jawa. Dalam bukunya berjudul ‘Panggil Aku Kartini Saja’, Pramoedya Ananta Toer menceritakan bahwa ayah Kartini, Raden Mas Adipati Ario adalah sosok yang sangat demokratis. Ia adalah seorang di antara empat Bupati seluruh Jawa yang mendapatkan Pendidikan Eropa pada waktu itu. Tak heran jika Raden Mas Adipati Ario juga menyekolahkan semua anak-anak putranya sampai ke Eropa.

Namun cengkeraman feodalisme Jawa memang masih sangat kuat, hingga hanya anak-anak laki-lakinya yang disekolahkan sampai pendidikan tinggi di Eropa. Sedangkan untuk anak-anak perempuannya, hanya bisa mencukupkan sampai tamat H.B.S – sekolah tertinggi yang ada di Hindia Belanda (Indonesia) waktu itu. Betapapun memohonnya Kartini pada sang Ayah untuk bisa melanjutkan Pendidikan di Eropa, tetaplah sang Ayah tidak memperbolehkannya, ia juga melarang disertai tetesan air mata. Cengkraman feodalisme Jawa, nilai-nilai budaya itu harus dipatuhi oleh Raden Mas Adipati Ario sebagai seorang pejabat, begitu mengenai latar belakang R.A Kartini ditulis oleh Pramoedya.

Kita mengenal Kartini dengan karyanya yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang”, bahwa ternyata judul itu diambil dari salah satu ayat dalam al-Qur’an “Minaddzulumati ilannur” yang tertulis dalam QS. al-Baqarah ayat 257. KH. Achmad Chalwani menceritakan tentang R.A Kartini sebagai seorang santri ulama mashur dari Jawa yaitu Kyai Sholeh Darat as-Samarani. Dilihat dari latar belakangnya, tak heran jika ia berguru kepada Kyai Sholeh Darat, ia adalah gadis yang sungguh cerdas dan begitu haus pengetahuan.

Baca juga: Bagaimana Kabar Perempuan Hari Ini?

Di umur 13 tahun, Kartini mengaji al-Qur’an kepada Kyai Sholeh Darat, selain belajar membaca al-Qur’an terkadang Kyai Sholeh juga mengajari tafsir dengan . . . . . . Bahasa Jawa. Suatu ketika manakala Kartini diajari tafsir al-Qur’an dengan Bahasa Jawa, ia berdialog dengan Kyai Sholeh;

“Kyai, saya tadi diajari tafsir al-Qur’an memakai Bahasa Jawa, hati saya tentram, kyai. Tolong kyai, tafsirkan al-Qur’an seluruhnya ke dalam Bahasa Jawa agar dijadikan pegangan teman-teman saya putri-putri Jawa,” pintanya pada Kyai Sholeh Darat.

“Kartini, menafsirkan al-Qur’an itu tidak mudah, tidak semua orang diperbolehkan menafsirkan al-Qur’an. Orang diperbolehan menafsir al-Qur’an dengan syarat menguasai ilmu bantu tafsir yang lengkap,” jawab Kyai Sholeh Darat.

Namun Kartini justru mengatakan pada gurunya, bahwa sang guru telah memiliki semua ilmu-ilmu itu, “Saya punya keyakinan bahwa semua ilmu sudah Kyai miliki,” ungkapnya pada Sang Guru.

Perkataan Kartini membuat Kyai Sholeh menundukkan kepala, beliau menangis mendengar penuturan salah satu santrinya yang begitu cerdas sebagai seorang gadis yang masih belia. Suatu hari akhirnya Kyai Sholeh memanggil R.A Kartini, “Kartini, doakan saja mudah-mudahan saya bisa menafsiri al-Qur’an 30 Juz,” kata Kyai Sholeh Darat kepadanya.

Setelah peristiwa itu, lalu dimulailah penafsiran al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa oleh Kyai Sholeh Darat. Ketika baru selesai 13 Juz, kemudian langsung dicetak pertama kalinya di Singapura dengan judul ‘Faidur Rohman fii Tafsiri Ayatil Qur’an karya: Kyai Sholeh, usul: R.A Kartini.

Litbang Kementrian Agama menyatakan Tafsir Faidur Rohman Karya Kyai Sholeh Darat, usul: R.A Kartini adalah tafsir al-Qur’an pertama-tama di Asia Tenggara

Sebelum menutup penjelasannya KH. Achmad Chalwani, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan itu meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia agar ketika merayakan Hari Kartini tidak hanya dengan acara seremonial saja, melainkan juga mencontoh keteladanannya dalam belajar, termasuk belajar al-Qur’an.

Kembali mengutip kata Pramoedya Ananta Toer, seorang maestro sastra Indonesia bahwa sudah terlalu lama bangsa ini hanya mengenal Kartini sebagai tokoh mitos, terus disebut-sebut di berbagai hari peringatan tanpa mengenalnya, bahwa ia juga manusia biasa yang begitu haus dengan pengetahuan-pengetahuan dan seorang pendidik sejati. Selamat Hari Kartini!

Baca juga: Rihana, Wali Perempuan yang Menghabiskan Waktunya utuk Beribadah

Sumber Referensi: https://www.youtube.com/watch?v=nYpBPLVzw2E

Total
0
Shares
Previous Article

Aktivitas yang Sebaiknya Dihindari Saat Berpuasa

Next Article

Apabila Kita Terjun Kedalam Mimbar Virtual Agama

Related Posts