Menulis untuk kebenaran itu seperti menanam pohon. Hasilnya tak selalu cepat, tapi dampaknya bisa dalam dan lama. Bahkan jika tak ada yang membaca tulisanku hari ini, aku tetap akan menulis. Sebab setidaknya, aku bisa mengajak orang lain berpikir rasional dalam membaca setiap tulisan yang dibacanya.
Pernahkah anda bertanya, untuk apa diri anda menulis? Kalau aku menulis itu karena ingin menyampaikan kebenaran lewat tulisan. Aku tahu betul bahwa dalam dunia digital ini, dimana informasi baik dan buruk sangat serba cepat menyebar. Jika kita tak rasional dan bijaksana dalam membaca informasi, maka kebenaran pun bisa tampak membingungkan.
Akibat adanya masalah itu justru aku memilih untuk tidak diam. Sebab hari-hari ini, terlalu banyak kata yang salah tempat. Terlalu banyak suara yang nyaring dan dituliskan dalam sebuah tulisan, namun isinya menyesatkan. Dan sayangnya, tulisan sesat itulah yang sering kali justru dipercaya.
Pernah suatu hari aku tidak sengaja melihat sebuah tulisan di media sosial yang isinya menolak keberadaan Tuhan dan kitab suci Al-Qur’an. Penulisnya menyebut agama sebagai bentuk ketertinggalan berpikir, sesuatu yang hanya cocok untuk masyarakat masa lalu. Pada tulisan lain juga ada yang menyebut kisah-kisah dalam Al-Qur’an itu fiktif. Kita bisa searching di google tulisan yang meragukan kitab suci itu. Tulisan itu diberi judul “Kitab Suci dan Kisah Nabi Bukan Sejarah”.
Tulisan kelompok menolak keberadaan Tuhan ini sering sekali memakai istilah ilmiah. Menyebut hukum fisika, teori evolusi, dan bahkan statistik. Sekilas, semuanya tampak rapi dan masuk akal. Tapi lagi-lagi, aku melihat lubang besar di dalamnya. Ada argumen yang dibangun di atas asumsi yang goyah, data yang dipelintir, kecacatan logika dan kesimpulan yang terburu-buru.
Kalau tulisan seperti ini dipercaya apa dampaknya? Tentu orang-orang semakin meragukan ajaran agama. Buktinya saja Indonesia berdasarkan survei daring yang digelar oleh Atheis Aliance Internasional, ada 1.717 orang Indonesia yang mengaku sebagai ateisme (Jurnal: A Study of the Atheist View on Religion). Itu yang mengaku secara terang-terangan. Belum termasuk yang tidak mengaku secara terang-terangan.
Baca juga: Sampai Tanpa Terburu-buru
Tulisan-tulisan seperti itu kini ada di mana-mana. Mudah sekali diakses. Diunggah di blog pribadi, disebar lewat story, dijadikan bahan diskusi di kolom komentar. Dan yang lebih menyedihkan, tidak sedikit orang yang percaya. Sebab kita hidup di zaman ketika siapa saja bisa jadi penulis, kapan saja, dan dengan motivasi apa saja. Tapi tidak semua penulis bertanggung jawab atas apa yang disampaikan.
Aku menulis karena aku tidak ingin kebenaran kehilangan tempatnya di tengah kebisingan. Aku tahu, aku bukan ahli agama. Bukan pula profesor filsafat atau lulusan luar negeri. Tapi aku adalah pembaca yang peduli. Atas dasar itu sudah cukup menjadi alasanku untuk menyumbang pemikiran lewat tulisan. Sebab jika kita yang peduli hanya diam, maka ruang akan diisi oleh mereka yang hanya ingin memprovokasi dan menyesatkan orang lain ke jalan yang salah.
Aku ingin setiap tulisan yang kutebar bisa menjadi benih untuk orang lain berpikir jernih, dan rasional. Aku ingin tulisanku bisa mengajak orang bertanya: apakah yang kamu baca itu benar? Apakah dalil itu utuh? Apakah argumen itu logis? Apakah kamu mengerti isi tulisan itu atau hanya terpesona oleh gaya bahasanya?
Aku menulis bertujuan untuk memperlambat langkah orang yang hampir tersesat akibat tulisan yang mereka baca. Aku ingin tulisanku hadir untuk menyalakan lampu kecil di lorong gelap bernama media sosial. Aku menulis karena aku tahu, diam bisa jadi bentuk persetujuan.
Menulis itu bukan hanya perkara memilih kata. Ia adalah keputusan. Sebuah keberpihakan. Dan aku memilih berpihak pada logika. Aku berpihak pada dalil yang utuh. Aku berpihak pada proses berpikir yang tidak tergesa-gesa.
Sebab hari ini, banyak sekali orang yang berbicara atas nama Islam melalui tulisan, tapi yang disampaikan tanpa argumentasi yang logis. Mereka banyak yang mengutip ayat, tapi tidak membaca tafsirnya. Banyak pula yang menyebut diri mereka berpikir bebas, sehingga secara terang-terangan menulis sebuah tulisan anti Tuhan yang seakan-akan isinya ilmiah. Padahal nyatanya hanya berisi retorika kosong dan kecacatan logika.
Menulis untuk kebenaran itu seperti menanam pohon. Hasilnya tak selalu cepat, tapi dampaknya bisa dalam dan lama. Bahkan jika tak ada yang membaca tulisanku hari ini, aku tetap akan menulis. Sebab setidaknya, aku bisa mengajak orang lain berpikir rasional dalam membaca setiap tulisan yang dibacanya.
Baca juga: Islam Damai dalam Literasi Digital Generasi Muda
Menulis juga cara untuk berdamai dengan keresahan. Ada hari-hari ketika aku melihat komentar-komentar yang menyedihkan seperti ungkapan “Agama itu sumber konflik”. Kata-kata seperti itu membuat dadaku sesak. Tapi kemudian aku sadar, melawan mereka bukan dengan membalas emosi. Tapi dengan menunjukkan jalan berpikir yang lebih sehat dan lebih rasional. Bukan dengan mencela, tapi dengan memberi alternatif yang jernih. Itulah mengapa aku menulis.
Aku juga menulis karena aku ingin belajar. Setiap tulisan yang kubuat adalah proses memperbaiki cara berpikir ku sendiri. Kadang saat menulis, aku menemukan kelemahan dalam pemahamanku. Hal itu mendorongku untuk menggali lebih dalam, membaca lagi, bertanya lagi. Menulis membuatku sadar bahwa kebenaran bukan sesuatu yang bisa dimiliki, tapi harus terus dikejar.
Hari ini, banyak orang ingin cepat punya opini, tapi malas membaca. Banyak yang ingin menang debat, tapi enggan berpikir panjang. Aku tidak ingin jadi bagian dari itu. Aku menulis dengan perlahan. Aku ingin tulisan-tulisanku punya napas. Punya rujukan, niat baik dan tidak menyesatkan.
Di dunia ini, kita tidak kekurangan orang pintar. Tapi kita kekurangan orang jujur dalam berpikir. Itulah sebabnya aku menulis. Lalu bagaimana dengan anda? Kalau aku memilih memperjuangkan kebenaran lewat tulisan.
Aku tahu, tulisanku mungkin tidak viral dan tidak ramai dibagikan. Tidak penuh komentar. Tapi itu tidak masalah. Sebab aku tidak menulis untuk dipuja. Aku menulis untuk menghadirkan suara kecil yang mungkin bisa menyelamatkan satu-dua orang dari kesesatan yang menyamar jadi kebenaran. Jika itu berhasil, maka satu tulisan pun cukup.

