Tsaqafah.id – Saya terbangun dengan kepala berat. Naufal sudah mencoba membangunkan entah berapa kali. Padahal, saya sendiri yang minta di penghujung malam.
Malam tadi terlalu panjang. Menulis. Membaca. Curhat. Berselancar di media sosial sampai mata sepet, lalu entah kapan terlelap.
Begitu sadar, panik datang tanpa diundang. Lompat dari kasur, cari handuk, nyalakan keran. Air mengalir malas, lebih lambat dari keinginan saya untuk segera sampai di lapangan. Bahkan, saya tidak sempat sikat gigi.
Motor menyala. Tangan masih dingin. Lapangan itu sebenarnya tak jauh, sepelemparan batu dari Griya GUSDURian, tentu saja jika yang melemparnya Ahmad Jajuli. Jalan terasa lebih panjang dari seharusnya.
Baca Juga: Kerinduan seorang Hamba di Menjelang Malam Terakhir Ramadan
Orang-orang berjalan santai. Ada yang menenteng koran, menyampirkan sajadah di leher, menggandeng anak sambil sesekali mengelus kepalanya. Saya? Setengah kering, masih pening karena tidur telat, masih bertanya kenapa harus terburu-buru kalau ujungnya tetap sama: terlambat.
Dan ternyata, khatib pun begitu.
Matahari makin naik. Panas mulai terasa di kulit. Seorang kakek masih dibopong dari kursinya. Sekelompok remaja merokok di sudut lapangan, ngobrol sambil sesekali terkekeh. Dari kejauhan, suara tangis anak-anak bersahutan.
Waktu berjalan pelan. Lebih pelan dari kepanikan yang saya ciptakan sendiri sejak bangun tadi.
Saya menarik napas. Barangkali, ini pelajaran sederhana. Tidak semua yang bergegas sampai lebih dulu. Tidak semua yang tergesa-gesa tiba lebih cepat.
Baca Juga: Zakat Fitrahnya Bayi yang Lahir Setelah Maghrib Di Akhir Ramadan
Di Islam, ada istilah al-Mubadara, bersegera dalam kebaikan. Ada juga al-Ajalah, tergesa-gesa tanpa perhitungan. Ibnul Qayyim bilang, yang kedua datangnya dari setan. Rasulullah pun pernah bersabda, “Tergesa-gesa itu dari setan.” (HR. Tirmidzi).
Saya teringat obrolan lama di Ponpes Mahasiswa Muthahhari. Guru saya pernah bertanya, kenapa doa orang yang taat justru lebih lama dikabulkan?
Beliau lalu bercerita dengan ilustrasi pengamen.
Kalau suaranya merdu, kita rela mendengar lebih lama, bahkan memberi lebih banyak. Tapi kalau asal genjreng, asal nyanyi, kita ingin dia cepat pergi.
Begitu juga dengan doa. Semakin kita tulus, semakin Allah ingin mendengar lebih lama. Mungkin bukan tak dikabulkan. Mungkin Dia hanya menikmati suara kita lebih lama dari yang kita duga.
Baca Juga: Dua Cara Al-Qur’an Merespon Praktik Poligami
Saya tersenyum kecil. Mungkin, pagi ini bukan tentang terlambat. Tapi tentang diajari sabar dengan cara yang tak saya kira.
Ketika khatib memulai khutbah, langit sudah semakin terik, tapi angin masih membawa sisa sejuk pagi. Di tempat kami salat Id, Lapangan SKB Sorowajan, Banguntapan, jamaah duduk beralas koran dan tikar yang ditimpa sajadah. Beberapa menyilangkan sajadah di leher, sementara yang lain ngobrol pelan.
Di sudut lapangan, seseorang melipat sajadahnya terburu-buru sebelum beranjak pergi. Di sisi lain, beberapa laki-laki duduk santai, menyalakan rokok, mengepulkan asap ke udara seolah khutbah ini hanya suara latar.
Khatib berbicara tentang zakat fitrah, tentang bagaimana Idulfitri bukan sekadar perayaan pribadi, tapi memastikan semua orang merasakan hari ini dengan cara yang sama.
Baca Juga: Air Untuk Bertahan dan Melanjutkan Hidup
“Kehadiran Idulfitri memberikan peluang untuk lahir kembali sebagai manusia yang utuh dan memiliki kemanusiaan.”
Beberapa jamaah mendengarkan dengan khusyuk. Yang lain berbincang, sesekali tertawa kecil. Seorang anak mulai bosan, menarik-narik tangan ibunya. Beberapa orang malah sudah bergegas meninggalkan lapangan.
“Bulan Ramadan adalah sistem yang sengaja diciptakan Allah untuk membentuk pribadi kita.”
Saya menatap orang-orang yang masih bertahan. Ada yang memejamkan mata, mungkin merenungkan khutbah, atau sekadar menunggu selesai. Ada yang sibuk membalas pesan, mengecek notifikasi di gawai.
“Kemenangan di Idulfitri ini bukan kemenangan atas siapa pun, tetapi atas diri kita sendiri.”
Kata-kata itu menggantung di udara, tapi entah berapa banyak yang benar-benar menyerapnya.
Beberapa pria di sekitar saya mengambil tarikan napas panjang dari rokoknya, lalu mengembuskannya perlahan. Seakan semuanya tetap berjalan seperti biasa.
Baca Juga: Puasa dan Kesejahteraan Sosial: Sebuah Refleksi dari Faedah Puasa dalam Kitab Maqasid al-Siyam
Hari raya, katanya kemenangan. Tapi kemenangan atas apa?
Barangkali, seperti doa yang diceritakan guru saya dulu, Idulfitri bukan soal seberapa cepat sampai. Bukan soal seberapa sibuk bergegas.
Mungkin, ini tentang bagaimana kita didengar lebih lama. Tentang bagaimana kita belajar menunggu, belajar sabar.
Saya melipat sajadah, berdiri, lalu melangkah pulang. Kali ini, tanpa terburu-buru.
Selamat Idulfitri 1446 H. Saya telah memaafkan kalian, sebagaimana saya memaafkan diri sendiri yang sempat tergesa-gesa, mengikuti langkah setan.

