Kisah Imam Malik dan Sengatan Kalajengking

Imam Malik adalah seorang arif billah, ahli Al-Qur’an, ahli hadis, dan ahli fikih. Beliau juga dijuluki sebagai peletak dasar dalam kajian Ilmu Hadis. Imam Malik adalah guru para Imam Madzhab, seorang Imam dari negeri Hijaz.

Tsaqafah,id Pada suatu hari dalam majelis, Imam Malik, pendiri Madzhab Maliki menyampaikan sebuah hadis. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah kekuning-kuningan dan kemerah-merahan. Keringat dingin mulai bercucuran. Tetapi anehnya beliau tidak berhenti menyampaikan hadis, hingga majelis hadis selesai. Usai majelis tersebut, beliau berkata kepada salah satu muridnya yang dekat dengan dirinya, “Lihatlah diantara punggungku dengan pakaianku,” ucap Imam Malik.

Setelah dilihat, ada seekor kalajengking. Kalajengking itu menyengat Sang Imam dalam 17 tempat. Si murid pun terkejut atas kejadian ini. Lalu murid-murid yang lain bertanya kepada gurunya tersebut, “Mengapa tadi engkau tidak memberitahu kami pada saat sengatan pertama?” Imam Malik menjawab, “Aku malu menghentikan hadis Rasulullah Saw hanya karena sengatan kalajengking.”

Imam Malik adalah seorang arif billah, ahli Al-Qur’an, ahli hadis, dan ahli fikih. Beliau juga dijuluki sebagai peletak dasar dalam kajian Ilmu Hadis. Imam Malik adalah guru para Imam Madzhab, seorang Imam dari negeri Hijaz, bahkan imam seluruh umat manusia dalam bidang fiqh dan hadis. Imam Syafi’I adalah murid Imam Malik menggambarkan akan kebesaran Imam Malik.

Riwayat Imam Malik

Syekh Muhammad Alawy Al-Maliki dalam buku ilmu ushul hadisnya yang berjudul asli ‘Al-Manhalu Al-Lathiifu fi Ushuuli Al-Hadisi Al-Syariifi’ dimana banyak digunakan oleh para pelajar ilmu keislamam di seluruh dunia termasuk di Indonesia, juga menerangkan tentang riwayat dan perjalanan para Imam Madzhab. Dituliskan bahwa Imam Malik memiliki nama lengkap Abu Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir Al-Ashbahi Al-Madani. Beliau meriwayatkan hadis dari ayahnya, Anas. Ayah Imam Malik bekerja sebagai tukang pembuat panah, sedang ibunya adalah seorang wanita shalihah yang mulia. Ibunya lah yang mengarahkan Imam Malik dalam menuntut ilmu. Ketika Imam Malik memasuki usia belajar, ibunya berkata, “Pergilah kamu dan tulislah hadis-hadis Rasulullah Saw.”

Baca juga;

Pengajian Gus Baha: Tingginya Derajat Mencari Ilmu

Kakek Imam Malik sendiri merupakan seorang tabi’in besar yang mengambil ilmu dari Khalifah Umar, Utsman, Sayyidah Aisyah, dan Abu Hurairah. Kakek Imam Malik juga ikut mengkodifikasikan mushaf pada masa khalifah Utsman. Beliau kakek Imam Malik termasuk imigran pertama dari sebuah keluarga yang diberkahi dari negeri Yaman menuju Hijaz.

Kegemaran sang imam dalam menuntut ilmu sudah terlihat . . . . . . sejak kecil. Ia akan datang kepada gurunya Abu Bakar bin Abdullah bin Yazid atau popular dengan sebutan Ibnu Hurmuz, pada pagi hari dan baru kembali pulang ke rumahnya pada malam hari. Setiap hari Imam Malik menghabiskan waktu tujuh atau delapan jam untuk belajar bersama gurunya.

Imam Malik dikenal sebagai murid yang kuat hafalannya, memiliki kecakapan akademik, cerdas daya pikirnya, tepat pandangan dan analisisnya serta teliti dalam menggali hukum dari Al-Qur’an dan sunnah, interpretasi fiqhnya indah, relevantif dalam mengkorelasikan dalil-dalil nash terhadap tujuan-tujuan syara’ dengan tetap menjaga kemaslahatan umum dan menghindari timbulnya fitnah dan kerusakan. Imam Malik pun memiliki karya-karya besar, salah satunya yang paling terkenal adalah Al-Muwaththa’, dimana para ahli hadis berpendapat bahwa seluruh hadis yang ada dalam Al-Muwaththa’ adalah shahih dan mu’tabar.

Baca juga;

Kisah Karomah Syekh Abdul Qodir Jaelani Diludahi Nabi

Selain itu, Imam Malik adalah seorang yang wira’i dan sangat berhati-hati. Dikisahkan bahwa Imam Malik memiliki kebiasaan makan satu kali dalam sehari, sehingga beliau hanya perlu sekali ke kamar mandi dalam sehari. Bahkan untuk buang hajat beliau akan keluar dari kota tempat tinggalnya di Madinah Al-Munawarah. Hal ini beliau lakukan sebagai bentuk penghormatan kepada manusia terbaik, Rasulullah Saw yang dulunya juga bertempat tinggal di kota yang sama dengan Imam Malik. Imam Malik mengatakan, “aku malu buang kotoranku di tempat yang biasa dilalui atau diduduki oleh Rasulullah Saw.”

Diantara kebiasaan lain Imam Malik adalah berpakaian bersih dan rapi ketika hendak menghadiri majelis ilmu. Diceritakan oleh murid-muridnya, suatu hari ketika Imam Malik hendak menyampaikan hadis Rasulullah Saw di Raudhah, beliau sudah mandi terlebih dahulu, mengenakan minyak wangi, dan mengenakan pakaian terbaik miliknya. Begitulah, Imam Malik selalu mengenakan pakaian yang bagus jika ingin berbicara dan duduk di majelis, setelah itu beliau baru meriwayatkan.

Al-Habib Ali Al-Jufri menyebut bahwa Imam Malik sudah sampai pada titik dimana dirinya mampu mengontrol nafsu sehingga bisa keluar dari kebiasaan yang dilakukan manusia kebanyakan. Begitulah para salik, kekasih Allah dan para pejalan menuju Allah azza wa jalla.

Wallahu a’lam

 Sumber:

Syekh Alawi Al-Maliki. (2012). “Ilmu Ushul Hadis”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Habib Ali Al-Jufri. (2020). “Ayyuhal Murid”. Jakarta Selatan: Qaf Media Kreative.

Total
0
Shares
Previous Article

Pengajian Gus Baha: Kisah Lucu Barkh, Wali Unik di Zaman Manusia

Next Article

Husain Basyaiban dan Potret Dakwah Zaman Now

Related Posts