Foto oleh cottonbro dari Pexels

Korupsi dalam Al-Qur’an: Tipis Iman-Takwa dan Hukuman Seorang Pengkhianat

Tsaqafah.id – Ada seorang Raja dari Bani Israel yang sedang jalan-jalan di wilayahnya melihat berbagai kerjaan rakyatnya. Pakaiannya biasa saja meski didaulat sebagai orang pertama di dunia yang bisa membuat baju besi. Nabi Daud, namanya. Tentu semua orang tahu persis wajah rajanya. Terlebih lagi ditemani dua pengawal dengan dua cenangkas tajamnya yang siap memangkas kepala orang-orang bandit.

Ada yang tunduk hormat ta’dzim agar dikira rakyat yang patuh, ada juga yang sembunyi-sembunyi bak agen rahasia yang mengorek-orek setiap perilaku dan ucapannya, ada juga yang biasa saja. Suatu ketika ada seorang lelaki yang tiba-tiba menghampiri Daud, dan berkata; “Wahai tuanku, sebaik-baik perjalanan ialah apabila seseorang yang tidak makan dari Bait al-Mal (sebuah lembaga yang menangani segala harta umat).”

Pesan tersebut datang bagai burung merpati yang mengantarkan surat. Tanpa basa-basi, lalu pergi. Seketika itu pun Daud menghentikan langkahnya, dan kembali ke Istana Kerajaan. Ditancapkanlah pesan lelaki itu di dalam jiwa kepemimpinannya.

Ini kisah saya petik dan elaborasi dari Tafsir Al-Kasyif karya Jawad Mughniyyah ketika menafsirkan QS. Al-Anbiya’ [21] ayat 80. Menarik dicatat, menilai seorang pemimpin yang dibilang mengayomi dan mensejahterakan masyarakat bukan karena jalan-jalan mengamati rakyatnya, melainkan cukup menjaga dan mengelola uang rakyat dengan sebaik mungkin tanpa pernah memakannya (korupsi).

Baca Juga: Menunda Pembayaran Hutang, Begini Aturannya dalam Hadis

Sikap Qur’an Tentang Korupsi

Definisi umum tentang korupsi adalah “The abuse of public power for private benefit”; penyalahgunaan kekuasaan publik untuk keuntungan pribadi. Al-Qur’an menyinggung soal korupsi ini secara implisit, yang digolongkan dalam kejahatan di bidang ekonomi. Bisa kita ambil contoh di QS. Al-Syu’ara [26]: 183 yang berbunyi;

Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan di bumi.”

Ayat ini berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya yang dimulai dari ayat 176 yang menceritakan kisah Nabi Syu’aib dan kaumnya. Dalam Tafsir al-Razi (1981) dijelaskan bahwa Nabi Syu’aib memerintahkan beberapa perkara kepada kaumnya; (1) sempurnakan takaran timbangan dalam jual-beli dan jangan merugikan orang lain, (2) jangan merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya, (3) jangan membuat kerusakan di bumi, dan (4) bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian semua.

Dalam konteks kejahatan ekonomi, Syu’aib mengingatkan kepada kaumnya agar harta yang dicari kaumnya itu tidak sampai merugikan orang lain dengan tetap dilandasi takwa kepada Allah. Karena hal yang demikian itu lebih membawa kehidupan mereka lebih baik.

Terdapat dua poin penting menanggapi hal di atas; tidak merugikan atau bermanfaat bagi orang lain (horizontal) dan laku takwa kepada Allah (vertikal). Bagaimana seseorang dikatakan bermanfaat bagi orang lain dan bertakwa kepada Allah ini mencakup konteks yang sangat luas.

Dalam konteks korupsi, mereka yang melakukan aksi liciknya dalam menyelundupkan uang rakyat bisa dibilang telah merugikan banyak . . . . . . orang serta landasan takwanya yang teramat krisis. Poin-poin ini bisa kita lacak sedikit-lebih rinci dalam rimba al-Qur’an.

Pertama, beberapa kata yang erat kaitannya dengan korupsi adalah memakan harta melalui jalan batil yang termaktub dalam QS. Al-Baqarah [2]: 188, berkhianat (ghulul) dalam QS. Ali Imran [3]: 161, merampok (hirabah) dalam QS. Al-Maidah [5]: 33, mencuri (saraq) dalam QS. Al-Maidah [5]: 38, dan memakan barang haram (akkaluna al-suht) dalam QS. Al-Maidah [5]: 42.

Kelima sikap dan identifikasi seorang koruptor yang disinggung dalam al-Qur’an tersebut bisa kita kerucutkan ke dalam lima level yang berbeda sebagai hukumannya. (1) Sekadar larangan dan informasi bahwa berbuat dosa (apapun, termasuk korupsi) adalah jelas perbuatan yang dilarang dalam agama. (2) Mereka yang berkhianat akan mendapat balasan yang setimpal di hari Kiamat kelak, tanpa harus dianiaya. (3) Kedua tangan seorang pencuri dipotong. (4) Dibunuh atau disalib, dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. (5) Memutuskan perkara dengan seadil-adilnya.

Baca Juga: Kepemimpinan dan Tiga Pesan rasulullah Bagi Pemimpin

Kedua, mereka yang tetap melanggar batas-batas sebagaimana aturan yang sudah ditetapkan dalam agama Islam – termasuk korupsi – tentu memiliki landasan iman-takwa yang teramat keropos, tipis, dan krisis. Dalam arti yang lain, spiritualitasnya kering kerontang. Inilah cobaan terberat kita semua di era kontemporer yang orientasi berpikirnya lebih kepada perihal duniawi daripada ukhrawi.

Dalam al-Qur’an, seseorang bisa disebut sebagai orang yang bertakwa (muttaqin atau muttaqun) jika memenuhi empat kriteria; (1) takut melakukan perihal maksiat kepada Allah, (2) taat kepada Allah dengan tetap melaksanakan setiap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, (3) tidak melampaui batas, dan (4) merasa diawasi oleh Allah (lihat QS. 2: 66 & 177; 3: 133-135; 7: 128; 9: 44; 28: 83).

Untuk menjadi orang yang muttaqin, tentu saja tidaklah mudah, namun bukan berarti tidak bisa diusahakan. Memandang seorang koruptor yang miskin spritualitas, tentu patut dikasihani. Tapi bukan berarti dimaklumi begitu saja.

Sebagai Muslim pinggiran yang jauh dari kata kaya, kita tentu geram melihat eksistensi para koruptor. Apalagi dia seorang Muslim. Sama jijiknya dengan melihat kelompok teroris yang seenak jidatnya membunuh orang lain.

Menginginkan mereka lenyap dari muka bumi tentu adalah impian kita bersama. Minimal dipotonglah tangannya atau sekalian sama kedua kakinya, jika keberatan diasingkan di hutan belantara, dipenjara seumur hidup, atau bahkan dihukum mati.

Tapi apakah itu hukuman yang seadil-adilnya di negara demokrasi macam Indonesia?

Wallahu a’lam.

Sumber lain:

Syaiful Ilmi, “Melacak Term Korupsi dalam Al-Qur’an sebagai Epistemologi Perumusan Fikih Antikorupsi” dalam Jurnal Khatulistiwa, Vol. 1, No. 1, Maret 2011

Teni Asmarani, dkk., “Konsep Muttaqin dalam Al-Qur’an dan Implikasinya Terhadap Tujuan Pendidikan Islam” dalam Jurnal Pendidikan Islam – Murabby, Vol. 2, No. 1, April 2019

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Tari Gandrung Banyuwangi dalam Pusaran Sejarah

Next Article

Mengenal Gagasan Nahwu Baru Syauqi Dhaif

Related Posts