Lintasan Sejarah Mushaf Al-Qur’an di Indonesia

Lintasan Sejarah Mushaf Al-Qur’an di Indonesia

25 Januari 2022
134 dilihat
3 menits, 58 detik

Tsaqafah.id – Geliat muslim Indonesia dalam melestarikan al-Qur’an dari berbagai aspek sudah muncul sejak abad ke-13 Masehi. Para penerbit mushaf pada dasawarsa 1980-an – 2000-an umumnya masih meneruskan tradisi lama dalam memproduksi mushaf. Sehingga selama dua dasawarasa itu hanya ada 6 Mushaf pada yang peredarannya cukup masih, antara lain: Mushaf al-Qur’an Standar Indonesia 1973-1975, Mushaf al-Qur’an Standar Indonesia (Bahriyah) 1991, Mushaf al-Qur’an Bombay Terbitan PT Karya Toha Putra 2000, Mushaf al-Qur’an Karya Ustad Rahmatullah 2000, Mushaf al-Qur’an karya Safaruddin 2001, dan Qur’an terbitan Karya Insan Indonesia, Jakarta, 2002.

Dalam perkembangannya, seperti yang dirangkum oleh Lenni Lestari beberapa penerbit yang semula hanya menerbitkan buku keagamaan—dan mereka telah sukses di bidangnya–, mulai tertarik untuk menerbitkan mushaf, yaitu Penerbit Mizan, Syamil, Serambi, Gema Insani Press dan Pustaka al-Kautsar. Sebagian yang lain semula merupakan penerbit buku umum yang telah sukses, yaitu Tiga Serangkai, Cicero dan Masscom Graphy (Lestari, 2016).

Era perkembangan mushaf yang mencolok terjadi pada dasawarsa 2000-an, ketika teknologi komputer semakin maju. Sejak saat itu, para penerbit memodifikasi kaligrafi Mushaf Madinah yang ditulis oleh khaththath ‘Usman Thaha. Jenis tulisan karya kaligrafer asal Syiria itu terkenal cantik dan indah. Penerbit pertama yang memodifikasi kaligrafi Usman Thaha adalah Penerbit Diponegoro, Bandung.

Medio tahun 2004-an, menurut Ali Akbar perkembangan pencetakan mushaf kian pesat. Hal ini ditandai dengan munculnya variasi tampilan Mushaf al-Qur’an yang menyesuaikan dengan segmen pembacanya, seperti anak-anak, perempuan, pengkaji fikih atau ushul fikih, saintifik dan lain sebagainya (Akbar, 2011).

Dluha Luthfillah menyebut pencetakan mushaf yang menyesuaikan dengan segmen pembacanya merupakan mushaf yang terkomodifikasi (the commodified mushaf), sebuah fenomena Al-Qur’an kontemporer yang dicirikan dengan kebaruan tampilan, bentuk kaligrafi—termasuk pewarnaan teks, dan variasi parateks/teks tambahan (Luthfillah, 2019). 

Perkembangan mushaf kontemporer ini juga mewarnai dunia anak-anak. Sebagai contoh, Penerbit Mizan menerbitkan I Love My Quran, sebuah al-Qur’an dan terjemahan dalam satu set, dengan ilustrasi yang unik bagi anak-anak. Ada mushaf The Miracle: The Reference, terbitan Syamil, yang dilengkapi dengan audio-pen yang bisa disentuhkan ke ayat/kata dalam al-Qur’an yang diinginkan, maka pen tersebut akan mengeluarkan suara rekaman, sesuai kata yang ditunjukkan. Pernah ada “Mushaf 7 in 1” dan “Mushaf 22 in 1”, kedua mushaf itu mempunyai keunggulan seperti; terjemah tafsiriyah, kata kunci, asbabun nuzul, tafsir beberapa mufasir, hadis dan seterusnya hingga mencapai 22 butir.

Baca Juga: Kisah Ulama Terdahulu Dalam Memahami Al-Qur’an dan Sunnah

Merawat Kemurnian Al-Qur’an

Perkembangan peredaran dan pencetakan mushaf al-Qur’an di Indonesia yang cukup signifikan menuntut adanya upaya serius untuk mengantisipasi dan mengoreksi kesalahan dan kekeliruan dalam penulisan maupun pencetakan. Berdasarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 1 Tahun 1982 ditegaskan bahwa lajnah adalah lembaga pembantu Menteri Agama dalam bidang pentashihan mushaf al-Qur’an, terjemahan, tafsir, rekaman dan penemuan alat eletronik baru lainnya yang berkaitan dengan al-Qur’an.

Meski perkembangan pencetakan mushaf al-Qur’an terdengar menggembirakan, ada satu hal yang perlu diperhatikan dari padatnya kelompok yang mengisi ceruk dalam industri percetakan al-Qur’an adalah menjaga kemurniannya. Ini tugas berat yang menghadang di tengah masifnya digitalisasi mushaf al-Qur’an yang tidak jelas developernya, belum lagi perihal sumber dana.

Di antara para sahabat Nabi tampaknya tidak ada yang lebih bergairah kepada al-Qur’an dan lebih teguh berpegang kepadanya seperti Umar ibn Khattab, yang oleh Nabi saw semasa hidupnya pernah disebut sebagai orang yang paling mungkin menjadi utusan Tuhan seaindainya Nabi sendiri bukanlah Rasul Allah pungkasan.

Umar sendiri adalah bekas salah seorang musuh Nabi yang paling keras, dan menjadi Muslim hanya gara-gara suatu kali mendengar ayat-ayat suci al-Qur’an dibaca oleh adik perempuannya yang telah lebih dulu menjadi muslimah. Dalam hidup selanjutnya, Umar dikenal sebagai sahabat Nabi dan pemimpin kaum muslimin yang sangat dekat dengan kalangan al-Qurra’ dan al-Huffazh. Karena perhatiannya yang mendalam kepada al-Qur’an dan kemurniannya, Umar tercatat paling keras mencegah kaum muslimin menulis sesuatu, termasuk hadis, selain daripada Kitab Suci itu.

Begitu pula tampaknya di antara para sahabat Nabi itu tidak ada yang berpikiran kreatif seperti Umar (Madjid, 1984). Contoh ide inovatif Umar yang tanpa preseden di zaman Nabi ialah yang bersangkutan dengan al-Qur’an. Umar mengusulkan kepada Abu Bakar, pada waktu menjabat sebagai khalifah pertama untuk membukukan al-Qur’an yang pada waktu itu masih berupa catatan-catatan dan hafalan pribadi. Mulanya Abu Bakar menolak ide tersebut, persis karena tidak pernah dicontohkan Nabi semasa hidupnya. Tetapi atas desakan Umar yang sangat kuat, disertai alasan-alasan yang tepat, dan setelah dimusyawarahkan dengan sahabat-sahabat yang lain, usul Umar itu diterima dan dilaksanakan. Dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an, Utsman dengan tegas memerintahkan kaum muslimin untuk memusnahkan naskah-naskah pribadi Kitab Suci yang ada, dan selanjutnya agar hanya mencontoh naskah-naskah resmi tersebut.

Baca Juga: Menilik Mushaf Al-Qur’an Salinan KH Ibrahim Ghozali Ponorogo

Tidak diragukan lagi bahwa keutuhan al-Qur’an merupakan warisan intelektual Islam yang terpenting dan paling berharga. Sekalipun mushaf yang ada sekarang secara istilah disebut sebagai “Mushaf menurut penulisan Utsman” (al-Mushhaf ‘ala al-rasm al-‘Utsmani), tetapi gagasan pembukuannya timbul mula-mula dari pikiran inovatif Umar bin Khattab.

Ala kulli hal, menengok geliat produksi mushaf al-Qur’an dan terjemahannya di Tanah Air serta represi masyarakat dewasa ini, tak bisa dipungkiri, mushaf adalah sebuah ‘industri’ baru yang menjanjikan. Selain itu, sumbangsih inovasi dan kreativitas para penerbit mushaf baru Indonesia menjadikan khazanah dan ragam produk mushaf di Indonesia adalah termasuk yang paling kreatif. Dengan catatan, pembaruan cetakan mushaf tersebut ditujukan guna memantik pembacanya agar tertarik untuk terus-menerus membaca dan mengkaji al-Qur’an dengan tetap memperhatikan kemurnian al-Qur’an itu sendiri.

Berdasar uraian singkat di atas, kita bisa mencatat bahwa perkembangan pencetakan mushaf al-Qur’an di Indonesia merupakan respon dari berbagai aspek, seperti aspek historis, aspek teks, aspek qira’at, aspek perwajahan (visual), aspek kecanggihan teknologi dan selera masyarakat pembacanya.

Profil Penulis
Afrizal Qosim
Afrizal Qosim
Penulis Tsaqafah.id
Kolumnis, Alumni Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga dan Santri PP Al Munawwir Krapyak.

29 Artikel

SELENGKAPNYA